
Zinnia sudah berada di ruangan kerja William. Gadis itu mengambil kertas dan pensilnya yang berada di dalam Sling bag-nya.
Sling bag miliknya sudah tergeletak di meja kerja kerja William.
Entah dari kapan Sling bag itu sudah dengan sendirinya berada di sana. Yang jelas bukan hantu atau mahkluk lainnnya yang memindahkan.
Pasti saat ciuman keduanya berlangsung, Zinnia tak sadar jika Sling bag miliknya sampai terlepas dari tubuhnya.
Gadis itu berjalan ke arah kursi kebanggan suaminya dengan pensil dan kertas di kedua tangannya.
Gadis itu duduk di kursi William sembari memulai menggambar desainnya.
Zinnia terinspirasi dari ciuman tadi. Ia membuat desain baju dengan corak bibir seksi seorang wanita.
Gadis itu tersenyum sendiri saat proses pembuatan sketsa bibir pada bagian sketsa bajunya.
Dalam benak Zinnia yang terbayang adalah lembut dan kenyal bibir suaminya.
Zinnia menghentikan gerakan pensilnya. Gadis itu meletakkan bagian ujung pensil yang tumpul pada bibirnya.
Zinnia tersenyum membayangkan apa saja yang baru saja ia alami dengan pria yang berstatus menjadi suaminya dan itu merupakan pengalaman pertamanya.
"Astaga! kenapa rasanya rongga dadaku penuh dengan ribuan bunga yang sedang mekar dan wanginya sampai tercium seperti ini," gumam Zinnia tersenyum sendiri.
Ia tak tahu apa yang terjadi padanya. Yang jelas dia senang sekali hari ini.
Good moodnya membuat gadis itu bisa membuka ide sketsa pada otaknya.
Zinnia kembali melanjutkan membuat sketsa bajunya.
Ia hari ini bisa menyelesaikan 5 sketsa baju sekaligus dan semua total sketsa yang sudah selesai ada 10. Masih tinggal 10 sketsa lagi yang menunggunya untuk segera dirampungkan.
Zinnia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Gadis itu memutar kursi yang ia duduki sambil memejamkan matanya. Ia melihat jam tangannya, sudah 1 jam lebih suaminya berada di ruangan operasi.
"Semoga operasinya berjalan lancar," gumam Zinnia kembali memejamkan matanya.
Wangi tubuh William menempel pada kursi yang ia duduki membuat gadis itu ingin sekali tidur. Rasa kantuk lebih mendominasi sampai Zinnia tak sadar jika kursi yang ia duduki sudah membelakangi meja kerja suaminya.
Beberapa jam kemudian, akhirnya William kembali keruangannya.
Pria itu melihat kursi kebesarannya sudah berbalik membelakangi meja kerjanya.
Prai itu tak tahu jika ada seorang gadis cantik yang sedang duduk di kursinya.
William hendak membalik kursi tersebut menghadap ke arah yang semestinya, namun kursi itu terasa cukup berat.
William yang penasaran akhirnya memutuskan untuk melihat mungkin ada sesuatu yang berada di atas kursinya.
Pria itu terkejut melihat istrinya sudah tertidur pulas dengan pensil dan kertas berada di atas pangkuannya.
William berjalan ke hadapan istrinya. Ia melihat Zinnia yang nampak kelelahan.
William mengambil kertas yang ada di pangkuan Zinnia.
Pria itu melihat ada lima lembar desain istrinya yang sudah rampung. William tersenyum sambil menatap ke arah sang istri. "Kau pasti lelah karena desain ini sudah menguras otakmu," gumam Hot Dokter tersebut.
William meletakkan kertas milik Zinnia pada meja kerjanya. Tak lupa pula pria itu juga mengambil pensil yang masih ada pada genggaman Zinnia.
William hendak mengangkat tubuh istrinya, deru napas Zinnia terdengar teratur.
Saat tubuh William sudah membungkuk, terpaan napas hangat istrinya langsung mengenai wajahnya.
Pria itu masih tak mengangkat tubuh istrinya. William masih menatap wajah Zinnia yang tertidur pulas tanpa terganggu sedikitpun dengan pergerakan tangannya yang perlahan mulai berada pada bagian leher dan kakinya.
Sebelum pria itu benar-benar mengangkat tubuh istrinya, William ingin sekali mengecup kening Zinnia.
Entah dorongan darimana, yang pasti pria itu ingin melakukan hal itu.
Cup
Kecupan cukup lama mendarat pada kening Zinnia.
William mengangkat tubuh Zinnia ke dalam kamarnya yang berada di ruangan itu.
Pria tampan tersebut membaringkan tubuh istrinya secara perlahan agar Zinnia tak terganggu.
Pria itu menarik selimut, menyelimuti tubuh istrinya.
William mengusap lembut rambut Zinnia yang tergerai panjang. Pria itu masih sempat menyelipkan rambut istrinya yang menyembul kemana-mana dan kecupan pada kening Zinnia lagi-lagi terjadi.
Cup
"Semoga saat kau bangun nanti, kau tak menjadi gadis cerewet lagi," gumam William tersenyum sambil melangkah meninggalkan Zinnia di ruangan itu.
William duduk di kursi tempat Zinnia tertidur. Kini wangi tubuh istrinya yang melekat pada kursinya.
William tersenyum. "Aku ini kenapa? apa aku sudah gila? wangi tubuhnya saja bisa membuatku mabuk kepayang," gumamnya sambil menikmati wangi tubuh Zinnia, bahkan pria itu sampai mencium sandaran kursinya karena pada bagian sandaran kursi itu wangi tubuh Zinnia sangat menyengat indera penciuman William.
Tiba-tiba saja William menegakkan tubuhnya. "Apa yang terjadi padamu, Will! sadarlah, sadar!"
William menepuk-nepuk pipinya agar ia bangun dari fantasi pikirannya sendiri.
William meliha kertas milik Zinnia. Ia kembali melihat karya istrinya.
Tangan William meraih pensil milik Zinnia. Tanpa sadar tangan pria itu menulis dua huruf besar ZW pada bagian pojok bawah kertas sketsa milik istrinya.
Tiba-tiba ponsel William berbunyi. Pria itu mengangkat telepon tersebut.
"Halo!"
"Hari ini jadwal ibu saya untuk konsultasi masalah penyakitnya, Dok!"
"Dengan ibu siapa?"
"Ibu Rosa, Dok!"
"Baik, saya tunggu di ruangan saya setelah makan siang! karena sekarang tak ada pasien lain yang datang untuk konsultasi."
"Baik, Dok! saya berangkat sekarang."
William mematikan ponselnya. Pria itu melihat ke arah kotak bekal yang di bawa oleh sang istri.
William melihat ke arah jam tangannya dan sekarang waktu yang pas untuk makan siang.
Pria itu membuka kotak bekal tersebut. Ia melihat ada tumis jamur tiram kesukaannya dan rolade daging sapi beserta oseng kentang bumbu pedas.
William mulai menyendok makanannya. Pria itu memakan makanan kesukaannya dengan sangat lahap, sampai suara pintu kamarnya terdengar.
Ceklek
William memutar kursinya menghadap ke arah sumber suara.
Perempuan cantik dengan wajah khas natural orang baru bangun tidur keluar dari dalam kamarnya.
William meletakkan sendok yang ia pegang.
Pria itu menatap istrinya yang berjalan ke arahnya.
"Apa kau sedang makan siang?" tanya Zinnia sambil mendaratkan bokongnya pada kursi tepat di depan meja William.
"Seperti yang kau lihat," sahut William yang kembali menyentuh sendoknya untuk memakan bekal makan siangnya.
Zinnia menopang dagunya dengan kedua tangannya. Tangan itu menumpukan kedua sikunya pada meja kerja suaminya.
Zinnia tersenyum melihat William yang makan dengan sangat lahapnya. "Apa kau kelaparan sampai makan seperti itu?" tanya Zinnia menatap suaminya yang sibuk melahap lauk pauknya.
Zinnia melihat ada bekas makanan yang menempel pada sudut bibir suaminya.
Gadis itu melihat ke arah meja William mencari dimana keberadaan tisu untuk membersihkan sisa makanan William yang menempel pada sudut bibirnya.
Sekotak tisu ia temukan berada di samping kiri tangannya.
Zinnia menarik satu lembar tisu di tangannya. Gadis itu berdiri dengan sedikit membungkukkan tubuhnya agar bisa menjangkau noda makanan yang berada tepat di sudut bibirnya suaminya.
Tanpa aba-aba, gadis itu membersihkan bekas makanan pada sudut bibir William dan tatapan mata William mengarah pada sang istri.
Zinnia tak memperdulikan tatapan suaminya karena gadis itu tengah fokus membersihkan noda pada sudut bibir William.
"Selesai," ujar Zinnia hendak menarik tangannya dari bibir William, namun pergelangan tangan gadis itu di tahan oleh genggaman tangan suaminya.
"Apa kau melakukan itu semua karena kau ingin aku segera jatuh cinta padamu?" tanya William menatap kedua manik mata Zinnia dalam.
Desainer cantik itu tersenyum manis pada suaminya dengan mengedipkan sebelah matanya manja. "Perkataanmu sangat tepat sekali, Hot Dokter!"
William membuka botol air minumnya dengan sebelah tangannya . Pria itu meneguk air putih tersebut.
Setelah selesai, William berdiri berjalan ke arah sang istri dengan tangan yang masih menyatu.
"Bagaimana jika sekarang aku sudah mencintaimu?" tanya William dengan wajah serius.
"Berarti aku yang me ...."
William menarik pinggang Zinnia agar lebih dekat padanya, sampai gadis itu terlonjak kaget.
"Tapi itu masih dalam artian bagaimana, aku belum berkata sudah mencintaimu kan?"
Zinnia tersenyum. "Dan aku akan terus membuatmu bisa benar-benar jatuh cinta padaku," ucap Zinnia mengecup pipi suaminya, kemudian gadis itu berlari masuk ke dalam kamar suaminya.