
Zinnia dan William sudah berada di dalam mobil mereka. Perjalanan menuju ke rumah Edward tak butuh waktu lama. 20 menit lagi sudah sampai.
William melihat ke arah istrinya yang menatap lurus ke depan. Pria itu melihat baju yang di kenakan Zinnia menutupi lehernya.
"Kenapa kau memakai baju dengan model kerah seperti itu?" tanya William meledek Zinnia pura-pura tak tahu dengan tanda kepemilikan yang di buatnya.
Zinnia tersenyum menanggapi pertanyaan suaminya. "Aku di gigit hewan buas, Sayang! dan apa kau tahu seperti apa bentuk hewan buas itu?" tanya Zinnia balik meledek suami tampannya.
"Aku tidak tahu seperti apa bentuk hewan buas yang berani menggigit, Istriku!"
"Hewan itu cukup baik sebenarnya, dan apa kau tahu? dia juga tampan," goda Zinnia setengah berbisik pada William.
"Benarkah?" tanya William dengan wajah tak percaya.
"Benar! dan apa kau tahu juga? aku mencintaimu," tutur Zinnia memeluk lengan William menyandarkan kepalanya pada bahu suaminya.
William tersenyum geli karena Zinnia bisa membuat hatinya berbunga-bunga seperti sekarang ini.
William mencium puncak kepala istrinya berkali-kali. "Maafkan aku ya, Sayang! gara-gara aku, kau jadi tak leluasa memakai baju apapun," sesal William.
"Tak apa-apa! aku suka kau memberikan tanda seperti ini! itu artinya, kau tak ingin aku di lirik pria lain," jelas Zinnia menengadahkan wajahnya menatap wajah William.
William tersenyum nakal. "Apa perlu seluruh tubuhmu aku beri tanda merah seperti itu?" tanya William.
"Silahkan saja! aku tak takut, jika kau ingin di sebut pria buas di ranjang."
"Karena kau sudah memberikan izin padaku, nanti malam bersiaplah," bisik William di telinga istrinya.
"Sssstt! jangan membicarakan hal itu di dalam mobil! malu ada, Pak sopir!"
Sopir yang mengemudikan mobil itu hanya tersenyum mendengar ucapan Zinnia.
Mobil berwarna hitam milik William melaju semakin cepat menuju arah rumah Edward.
Kini mobil tersebut sudah berada di halaman depan keluarga Pattinson.
Rumah tempat William tinggal sebelum ia memutuskan untuk tinggal di rumah peninggalan kedua orangtuanya.
Zinnia dan William turun dari mobil. Keduanya berdampingan melangkah menuju pintu masuk rumah.
Para tetua ternyata sudah menunggu mereka sedari tadi.
Arnon, Melati, Edward, dan Salma sudah berada di depan pintu.
William mencium punggung tangan keempatnya, sedangkan Zinnia mencium punggung tangan kedua orangtuanya dan pipi kanan kiri mereka. Zinnia juga melakukan hal yang sama pada Salma, berbeda pada Edward, ia hanya mencium punggung tangan mertua laki-lakinya.
"Ayo masuk!" Salma mengajak Zinnia dan William masuk.
Mereka semua duduk di ruang tamu. Sementara Melati dan Salma langsung menyiapkan makanan untuk di bawa ke meja makan.
"Bagaimana kabar cucu kami?" tanya Arnon blak-blakan pada keduanya.
Zinnia langsung terbatuk-batuk karena pertanyaan ayahnya.
William langsung mengambil minuman yang berada di meja. Ia memberikan minuman itu pada istrinya. "Minum dulu, Sayang!"
Zinnia menuruti semua ucapan William. Meskipun Zinnia masih terbatuk kecil.
"Jadi bagaimana kabar cucu kami?" tanya Arnon lagi yang mendapat sikutan dari Edward.
Arnon melihat ke arah besannya. "Apa sih, Ed! kau seenaknya saja menyikutku," kesal Arnon pada sahabatnya itu.
Edward hanya bisa geleng-geleng kepala karena meskipun umur Arnon sudah semakin tua, tapi jiwa kekanakannya masih saja tetap ada.
*"Kenapa kau tak peka juga, Ar! aku tahu kau sangat menginginkan cucu."
"Do'akan saja ya, Dad! semoga perut Zinnia segera isi," tutur William pada Edward dan Arnon.
"Segera isi? memang kau pikir anakku tahu isi," tutur Arnon dengan wajah meledek suami putrinya.
William terkejut dengan perkataan mertuanya.
"Aku tak menyangka, jika ayah dari istriku ini bisa memiliki selera humor yang tinggi."
William hanya tersenyum kikuk karena ucapan Arnon.
"Santai saja, Nak! kau tak perlu bereaksi seperti itu! aku hanya bercanda, iya kan, Zinnia!" Arnon menatap ke arah putrinya.
Zinnia hanya membalas tatapan ayahnya dengan tatapan penuh kekesalan.
"Bercandamu membuatku tersedak, Dad!"
Arnon melihat raut wajah Zinnia sudah tak dapat dielakkan lagi, jika putrinya dalam mode marah.
"Kucing manjaku mulai mengeong rupanya! tapi aku tahu bagaimana membuatnya bisa segera memaafkan aku."
"Maafkan, Daddy! sebagai tanda permintaan maaf, Daddy akan membelikan kau coklat kesukaanmu," bujuk Arnon pada Zinnia.
Zinnia hanya diam. Ia menatap ayahnya datar.
"Aku ke belakang ya, Sayang!" Zinnia berpamitan pada William mengecup pipi suaminya sekilas.
Cup
Wanita itu berdiri berjalan ke arah dapur untuk membantu Melati dan Salma menyiapkan makanan.
Arnon melihat kepergian putrinya dengan mulut yang sudah menganga.
"Kau kenapa, Ar?" tanya Edward menepuk pundak besannya.
Arnon melihat ke arah menantunya yaitu William. "Aku ini satu-satunya pria yang paling di sayangi, Zinnia! dia selalu memaafkan kesalahanku, tapi hari ini ... dia tak memaafkan aku!" Arnon mengusap wajahnya kesar sembari menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa.
"Sadar, Ar! sadar! Zinnia sudah mempunyai lelaki yang dia cintai, dia bukan anak kecil lagi yang selalu membuntutimu setiap saat," celoteh Edward tertawa kecil.
William hanya bisa tersenyum karena ayah mertuanya sangat menyayangi istrinya.
Semua orang sudah berada di meja makan. Mereka mulai mengambil makanan masing-masing.
Zinnia mengambilkan makanan untuk William dan semua itu tak luput dari tatapan Arnon.
"Daddy juga mau, Zi!" Arnon mulai membuka suaranya.
Zinnia melihat ke arah ayahnya. Ia hanya tersenyum manis pada Arnon. "Mom! ambilkan Daddy makanannya," pinta Zinnia pada ibunya dan Melati hanya bisa tersenyum karena ia tahu jika ayah dan anak ini sedang berseteru.
Melati langsung mengambilkan Arnon beberapa lauk yang memang di sukai oleh suaminya, sedangkan wajah pria paruh baya itu sudah di tekuk.
"Ingat, Dad! jika Daddy terus cemberut seperti itu, maka intensitas ketuaan Daddy akan bertambah dua kali lipat dari biasanya," ledek Zinnia dan Arnon langsung menarik bibirnya membentuk sebuah senyuman. "Lihat ini! Daddy sudah tersenyum kan? jadi jangan bilang Daddy tua lagi," ujar Arnon memakan makanannya.
William menyentuh tangan istrinya. "Sayang! kau jangan terus-terusan meledek, Daddy! itu tak baik," bisik William pada istrinya.
"Kau jangan cemas, aku hanya ingin mengerjainya saja, salah siapa tadi saat kita sampai, Daddy langsung menanyakan perihal cucunya! Daddy pikir memberikannya cucu segampang membuat sayur asam!" Zinnia berbicara dengan William dengan suara setengah berbisik.
William tersenyum mengusap rambut Zinnia lembut. "Kau makan dulu makananmu," pinta William pada Zinnia.
Keempat tetua yang ada di sana hanya bisa melihat kedua pasangan muda yang tengah di mabuk cinta itu dengan senyuman manis masing-masing sambil menikmati makanan yang sudah tersaji di atas meja.
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰