
Zinnia dan William sudah mengemas barang-barang mereka ke dalam koper. Sebenarnya Zinnia masih ingin berwisata di negeri yang terkenal dengan hewan berkantungnya itu. Karena William tak bisa berlama-lama di negara tersebut, jadi Zinnia memutuskan untuk membatalkannya niatnya karena ia tak boleh egois hanya mementingkan kepentingan pribadinya yang bisa kapan saja ia lakukan bersama William saat pria itu free.
Tak jauh berbeda dengan Zinnia dan William. Di kamar masing-masing, Sandra dan Marquez juga mulai mengemas barang-barang mereka untuk kembali ke tanah air. Selain karena acara di negeri itu telah rampung, maksud lain dari mempercepat kepulangan mereka adalah karena Marquez ingin segera meminta restu pada Nina yang merupakan wali dari Sandra.
Zinnia dan William sudah menunggu Sandra dan Marquez di depan kamar mereka. "Mereka berdua lama sekali sih!" Zinnia mulai menggerutu.
Kedua pintu kamar hotel yang ditempati oleh Sandra dan Marquez terbuka.
Dua orang yang semalam sudah sah bertunangan sama-sama menarik koper mereka masing-masing.
"Kita pulang sekarang!" Marquez memberikan instruksi dan mereka berempat segera berjalan menuju lift untuk turun ke lantai paling dasar dari hotel itu.
Zinnia dan yang lain sudah berada di dalam jet pribadi Marquez.
Ibu hamil itu tengah asyik menggambar sesuatu saat jet pribadi milik Marquez sudah mengudara.
Karena fasilitas dalam jet itu lengkap seperti layaknya rumah namun, bedanya rumah itu bisa melayang.
William mendekati istrinya yang berada di sebuah kursi cukup untuk dua orang duduk. "Sedang apa?" tanya William sembari meletakkan dagunya pada bahu sang istri.
"Mendesain baju untuk dua bayi mungil kita," sahut Zinnia masih sibuk dengan pensil di tangannya.
William melihat ada dua desain baju bayi laki-laki dan perempuan yang digarap oleh istrinya.
"Kenapa ada dua model baju? bukankah kita masih belum tahu jenis kelaminnya?" tanya William pada Zinnia yang masih sibuk mencorat-coret kertas putihnya.
Zinnia menoleh ke arah suaminya sampai wajah mereka sangat dekat. Hembusan napas keduanya juga terasa. Zinnia melihat ke arah mata suaminya. "Ini untuk persiapan saja, Sayang! dan jarak kita terlalu dekat," tutur Zinnia mengalihkan tatapannya pada bibir William.
Dokter tampan itu tersenyum semakin menempelkan ujung hidungnya pada hidung sang istri. "Aku suka yang terlalu dekat seperti ini, bahkan yang menempel erat itu lebih menyenangkan, Sayang!"
Hembusan napas William menyeruak penuh hangat di sekitar wajah bagian bibir Zinnia.
Zinnia memejamkan matanya. Ibu hamil itu ingin sekali mendorong tubuh suaminya dan menindihnya sampai William memohon untuk mendapatkan ciuman darinya.
Akal sehat Zinnia masih bekerja. Ia masih mengutamakan kesehatan dan keamanan sang janin yang berada di dalam rahimnya.
"Zinnia! tahan! dua bulan lagi kau sudah bisa kembali meronda dengan, Suamimu!"
Zinnia membuka sedikit demi sedikit kelopak matanya yang terpejam dan mata suaminya juga masih terbuka menatap kedua manik matanya intens, kemudian bergantian menatap ke arah bibirnya.
Sandra dan Marquez masih tak sadar akan tontonan gratis yang ada di depan mata mereka karena keduanya tengah asyik dengan earphone di kedua telinga mereka berdua. Mata keduanya juga terpejam sembari menggerakkan kepalanya mengikuti alunan musik yang mereka dengarkan dengan fokusnya.
Zinnia dan William masih dalam posisi yang tadi. "I want to kiss you," ujar William mendekatkan bibirnya pada bibir sang istri dan menyatulah dua benda kenyal itu.
Tangan Zinnia yang awalnya memegang pensilnya, kini pensil itu jatuh menggelinding entah kemana karena tangan Zinnia sudah melingkar indah pada leher suaminya.
Tak ada ciuman ganas atau panas disana, yang ada ciuman lembut penuh cinta karena William memang ingin menyalurkan rasa cinta dan kasihnya pada sang istri yang saat ini tengah mengandung dua buah cintanya bersama Zinnia.
Marquez dan Sandra masih asyik dengan earphone di telinga keduanya sampai mereka yang duduk saling berhadapan dengan Zinnia dan William tak sadar akan adegan romantis itu.
Marquez masih diam mematung melihat adegan yang tak cocok untuknya yang masih di bawah umur karena itu tontonan untuk orang dewasa.
Kelopak mata Marquez masih mengerjap lamban sampai tangan kekarnya mengucek mata itu untuk memastikan jika dirinya tak sedang bermimpi.
Marquez menganga karena William dan Zinnia sungguh berciuman di depannya.
Marquez segera mencolek lengan Sandra yang masih memejamkan matanya menikmati lantunan musik pada earphone yang berada di kedua telinganya.
Sandra menepis colekan pada lengannya. Wajah Marquez sudah geram karena tunangannya itu tak mau meresponnya.
Akhirnya Marquez menarik earphone Sandra dan si empunya earphone menoleh hendak mengumpat namun, terhenti saat Marquez langsung memutar kepala Sandra menghadap ke arah William dan Zinnia yang tengah bermesraan.
Mulut Sandra di bungkam oleh tangannya sendiri karena keterkejutannya yang sudah pada batas akut.
Marquez tersenyum melirik ke arah tunangannya. Pria itu hanya bisa tersenyum tipis menatap ke arah dua manusia yang merasa jet itu hanya milik mereka berdua. Sandra dan dirinya hanya sebagai plankton yang tak terlihat.
"He'em!" suara Marquez menghentikan ciuman keduanya. Sebelum ciuman itu benar-benar berakhir, William masih mengecup bibir istrinya singkat.
Zinnia langsung memeluk tubuh suaminya erat, sementara William menatap ke arah Marquez tanpa rasa bersalah.
"Kenapa kau?" tanya William tanpa rasa malu sedikitpun seakan tak terjadi apa-apa.
Marquez hanya tergelak renyah. "Kau telah menodai mataku yang masih suci ini, Will! apa kau tahu? itu tontonan orang dewasa dan aku masih di bawah umur," sindir Marquez sembari menyilangkan kakinya.
Sandra menurunkan tangannya yang membungkam mulutnya sendiri karena William melirik ke arahnya, kemudian kembali menatap ke arah Marquez.
"Halah! bilang saja jika kau juga menginginkannya, Marq!" William melirik ke arah Sandra. "Sandra pasti bersedia melakukan itu, iya kan, Asisten Sandra!" William meledek tunangan Marquez dan wajah wanita itu mulai bersemu merah.
Marquez melihat ada kertas kosong di atas meja, mungkin itu kertas milik Zinnia.
Dengan cepat Marquez meremukkan kertas itu sampai menjadi sebuah bola kertas dan melemparkannya ke arah William dengan sangat keras.
"Wow! sabar, Tuan Copaldi! jatahmu pasti akan datang suatu hari nanti," ledek William sembari tersenyum remeh pada rekan kerja istrinya.
Zinnia menegakkan tubuhnya menatap ke arah Sandra dan Marquez bergantian dengan wajah serius.
"Kau cepat tentukan tanggal pernikahan kalian karena aku yang akan menanggung semua biaya pesta pernikahan Sandra di Indonesia! jika pesta di negaramu, ya tanggung sendiri," tutur Zinnia kembali memeluk tubuh suaminya.
"Tidak perlu, Nona! saya ...."
"Jika kau banyak bicara, aku akan memecatmu, Sandra!" Zinnia mulai mengancam Sandra.
Suara kembali sunyi sampai Zinnia terlelap dalam dekapan suaminya dalam posisi terduduk.
Tak ada yang berani membantah macan betina yang sedang bunting jika tak ingin di cakar habis olehnya.
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.