Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 62


Clara sudah mulai sadar dari pengaruh obat penenang yang ia konsumsi.


Wanita itu melihat sekeliling kamarnya sudah tertata rapi seperti semula tanpa ada kerusakan apapun termasuk televisi LED yang sudah ia pecahkan sekarang kembali seperti semula alias sudah berganti yang baru lagi.


Clara turun dari atas ranjang berjalan ke arah cermin.


Wanita itu mengingat kejadian tadi pagi saat melihat tayangan Arnon dan Melati.


Wajah bengisnya kembali terpancar dengan seringai penuh dendam.


"Kali ini aku tak akan mengalah lagi Arnon,aku harus memiliki dirimu seutuhnya dengan caraku sendiri." Seringai liciknya semakin menjadi-jadi.


Clara berjalan ke arah nakas mengambil ponselnya.


Ia menghubungi seseorang untuk melancarkan aksinya.


"Kita jalankan besok rencananya! kau urus semua para awak media untuk berkumpul dan katakan pada mereka jika ini acara konferensi pers untuk kembalinya aku ke industri film tanah air," titah Clara pada seseorang di balik ponselnya.


"Baik akan saya laksanakan," jawab orang tersebut.


"Bagus! aku percaya padamu." Clara menutup panggilannya.


"Hahahaha."


"Aku pastikan kali ini,kau akan menjadi suamiku Arnon,Sayang!" dengan wajah bahagia membayangkan apa yang ada di pikirannya.


Clara berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya yang masih terlihat acak-acakan.


Di restoran tempat Melati bekerja,Arnon masih menunggu istrinya yang belum keluar dari dalam ruang kerja Bosnya.


"Kenapa dia lama sekali? apa yang di bicarakan sampai memakan waktu selama ini sih!" menyilangkan kedua kakinya dengan wajah yang sudah terlihat kusut.


Beberapa detik kemudian akhirnya Melati keluar bersama dengan Bosnya.


Mereka berdua berjalan ke arah meja dimana Arnon tengah duduk menunggu Melati.


"Terimakasih atas pengertian Bapak," ucap Melati di iringi senyum cantiknya.


"Iya,Melati! saya juga berterimakasih sama kamu karena sudah bekerja di sini dengan baik," tutur pemilik restoran yang sudah berusia setengah baya itu.


"Iya,Pak! sama-sama."


Arnon bangun berjalan mendekati Melati yang masih berbincang dengan Bosnya.


"Sudah selesai?" tanya Arnon yang berada tepat di samping sang istri.


"Sudah," jawab Melati singkat.


"Ini Mas Arnon artis itu kan?" tanya Bos Melati.


"Iya,Pak!"


"Wah,Mas ini suaminya Melati ya?"


"Iya,Pak!" jawab Arnon lagi.


"Anda beruntung sekali bisa memiliki istri seperti Melati," tutur pemilik restoran itu.


Melati melirik Arnon kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Bosnya dengan senyuman yang setia terukir di bibir indahnya.


"Beruntung? maksud Bapak?" wajah Arnon masih terlihat kebingungan.


"Melati rela resaign dari pekerjaannya karena ingin menjadi seorang istri yang selalu ada untuk suaminya dan saya sangat kagum untuk itu,Mas! coba saja saya memiliki anak laki-laki yang lebih tua dari Melati,sudah saya jodohkan mereka berdua."


Wajah Arnon terlihat terkejut namun pria itu menormalkan kembali raut wajahnya.


Arnon mendekat ke arah sang istri dan merangkul pundak Melati erat.


"Terimakasih,Sayang!" tersenyum manis pada sang istri.


"Semoga kalian bahagia selalu dan ingat jangan pernah sia-siakan Melati ya,Mas! dia gadis yang baik," ucap pemilik restoran itu dengan tulus.


Arnon melirik Melati dan menatapnya dalam.


"Entah kenapa aku ingin selalu melindungimu dan di tambah lagi dengan ucapan pemilik restoran ini,aku sangat ingin lebih melindungimu lagi." Tatapan Arnon masih tetap tertuju pada Melati.


"Anak muda zaman sekarang memang selalu terlihat mesra," ujar Bos Melati sambil tersenyum.


Arnon tersadar dari lamunannya dan melihat ke arah Bos istrinya dengan senyum tampan.


"Saya akan menjaga Melati,Pak!"


"Bagus kalau begitu,Mas Arnon! semoga cepat di beri momongan." Tersenyum sambil menepuk pelan pundak aktor tampan itu.


Arnon dan Melati saling bertatapan,mereka berdua nampak terkejut dengan ucapan pemilik restoran.


"Kenapa saat aku mendengar ucapan Bapak itu,hatiku senang sekali ya?" pikir Arnon.


"Momongan lagi, momongan lagi! tadi Rina,sekarang ganti si Bos! bagaimana mau mendapatkan momongan jika tidur saja kita masih ada pembatasan wilayah," gerutu Melati dalam hati.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Arnon pada istrinya.


"Aku ...."


"Aku apa?" tanya Melati lagi.


"Sudahlah tak perlu di bahas! kita langsung ke rumah lamamu saja," pinta Arnon menarik tangan istrinya menuju ke arah mobil.


"Dasar pria aneh!" mengikuti langkah Arnon yang berjalan sangat cepat.


"Kau bisa pelan tidak jika berjalan," teriak Melati dengan wajah kesalnya.


"Langkahmu saja di percepat,dasar keong," ledek Arnon sambil tertawa kecil.


"Terus saja kau bilang aku keong! jika aku keong,kau juga suami keong," cetus Melati dengan wajah santainya karena telah berhasil membalas ledekan Arnon padanya.


Pria itu berbalik menatap Melati dengan tatapan mata tajamnya.


"Apa kau bilang?" tanya Arnon sinis.


"Aku tak bilang apa-apa! kau saja yang sentimen,bleeeee!" menjulurkan lidahnya kemudian berlari masuk ke dalam mobil terlebih dulu.


Arnon mengejar Melati masuk ke mobil.


"Kau mau kabur kemana hah?" mendekatkan wajahnya ke wajah Melati.


Gadis itu memundurkan dirinya sampai kepala Melati terbentur kaca mobil.


DUKKKKK


"Aduh!" rintihnya.


"Rasakan! lain kali jangan macam-macam pada suamimu,Nona!" Arnon menegakkan badannya kembali sambil tersenyum kecil menatap sang istri.


Melati memajukan bibirnya ke depan dengan wajah yang sudah kusut minta ampun.


"Awas saja kau Arnon," gumamnya yang masih kesal dengan sang suami.


Keduanya menatap ke arah depan.Arnon dengan senyum kecilnya sedangkan Melati dengan wajah kesalnya.


Mobil itu melaju menuju rumah lama Melati untuk mengambil foto yang tertinggal di sana.


Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya keduanya sampai di rumah lama Melati.


Gadis itu turun menapakkan kaki di halaman rumah yang menjadi kenangan masa kecilnya.


Arnon mengekori Melati masuk ke dalam rumah itu.


Kunci cadangan selalu Melati bawa kemana-mana agar saat Melati pulang jika di rumah itu tak ada siapapun,Melati bisa membuka pintunya tanpa harus menunggu mereka datang.


Melati melihat foto yang terpajang di dinding ruang tamu.Matanya menelusuri semua gambar yang terpampang di sana.


Tak ada satupun foto dirinya saat ia sudah dewasa seperti sekarang ini yang ada hanya gambar Agnez dan Anggi serta Hadi,itupun foto sang ayah hanya beberapa tak sebanyak foto ibu dan kakak tirinya.


Mirisnya foto dirinya juga hanya satu yang tergantung di ruangan itu.


Mata Melati terfokus pada satu gambar anak kecil dengan rambut di kuncir dua dan gigi ompongnya.


Gadis itu mendekat ke arah foto anak kecil tersebut.


Ia tersenyum memandang foto itu.


Arnon dari awal masuk ke ruang tamu itu memang juga tertarik pada potret anak kecil dengan rambut kuncir dua dan gigi ompong yang terlihat sangat lucu.


Pria itu mendekat ke arah Melati.


"Foto siapa itu?" tanya Arnon yang terus menatap potret gadis kecil menggemaskan tersebut tanpa berniat mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Aku," jawab Melati.


Arnon menoleh ke arah istrinya yang tepat berada di sampingnya saat ini.


Pria itu tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Melati.


"Pantas saja dari awal aku sudah tertarik dengan foto gadis kecil ini,ternyata dia dirimu." Sambil tersenyum melihat potret masa kecil istrinya kemudian melihat ke arah Melati secara bergantian.


"Di foto itu kau sangat menggemaskan tapi, sekarang kau ... cantik." Terus menatap Melati tanpa beralih pandangan.


Melati terus memperhatikan potret masa kecilnya.


"Aku rindu Mama," gumamnya yang tanpa sadar meneteskan air mata.


Arnon melihat bagaimana butiran kristal bening itu meluncur bebas dari mata Melati.


Pria itu spontan memeluk tubuh Melati erat menyalurkan rasa aman pada sang istri.


"Berhentilah menangis,aku ada di sini untukmu," ucap Arnon.


Pria itu tak sadar dengan apa yang ia lakukan sekarang,yang ia tahu saat ini ingin melindungi istrinya dan memeluk Melati untuk menenangkannya.