Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 258 ( Season 2 )


Zinnia kini berada di dalam kamar di butiknya. Ibu hamil itu hanya berguling-guling dengan mata terpejam berusaha untuk tidur namun, tak kunjung masuk ke dalam alam mimpinya.


Mata Zinnia terbuka dengan arah tatapan tertuju pada langit-langit kamarnya. Ibu hamil itu mengusap-usap perut ratanya sembari berkata, "Mommy ingin sekali bertemu dengan Daddy kalian sekarang."


Zinnia mengarahkan tatapannya pada perut ratanya. "Apa kalian juga merindukan, Daddy?" tanya Zinnia pada kedua janin yang berada dalam rahimnya.


Mata ibu hamil itu kembali tertutup membayangkan suaminya datang dari arah pintu menghampiri dirinya mengecup kening Zinnia lembut. Mengusap kepalanya memberikan rasa tenang yang ingin ia rasakan saat ini karena emosi yang dibangkitkan oleh Marquez.


Di dalam bayangannya, William mengusap perut ratanya dengan gerakan lembut. Dokter tampan itu juga mendekatkan wajahnya perlahan ke arah perut rata Zinnia.


"Apa kalian rindu dengan, Daddy?" William tersenyum melihat ke arah perut istrinya. "Daddy sangat merindukan kalian berdua," tutur William mengecup perut rata Zinnia cukup lama.


Cupppppp


Zinnia yang membayangkan hal itu tersenyum dengan mata terpejam, perlahan emosi yang membumbung tinggi itu lenyap.


"Aku sangat merindukanmu, Sayang!" Zinnia bergumam di atas tempat tidurnya dengan posisi tubuh terlentang, dan tangan menyentuh perutnya.


Tanpa di duga oleh Zinnia, sebuah benda kenyal mendarat pada keningnya. Benda itu terasa hangat dan sangat familiar, serta begitu nyata.


Mata indah dengan bulu mata lentik itu terbuka ingin memastikan siapa si pemilik benda hangat yang menempel pada keningnya.


Mata Zinnia sudah terbuka sempurna. Ia melihat jakun seorang pria. Karena wajah pria itu tepat berada di keningnya. Saat pria itu sudah puas dengan keningnya, wajah pria tersebut terangkat dan tatapan matanya terarah pada manik mata milik Zinnia.


Kini tatapan keduanya sudah menyatu dengan senyum tampan nan seksi terukir indah dari bibir pria yang mencium keningnya. Pria itu tak lain adalah William, suami dan Daddy yang sangat dirindukan olehnya dan Daddy yang dirindukan oleh kerdua anak mereka.


Zinnia tersenyum manis karena William benar-benar ada di hadapannya saat ini.


Zinnia menyentuh pipi suaminya. "Apa aku bermimpi? atau aku saat ini sudah memiliki sebuah sihir yang bisa membuat suamiku berada disini?" tanya Zinnia pada William yang menatapnya penuh kerinduan.


Pria itu mengusap lembut rambut istrinya. "Kau memang memiliki sihir, Sayang! sihir itu adalah telepati antara kita berempat! aku, dirimu, dan kedua anak kembar kita," jelas William.


Zinnia menarik William ke dalam pelukannya. Ibu hamil itu ingin sekali melakukan hal itu sedari tadi pada William. "Aku dan kedua anak kita sangat merindukanmu, Sayang!" Zinnia mengecup daun telinga William sampai si empunya daun telinga merasa kegelian.


"Apa kau ingin menggodaku?" tanya William dengan suara meledek.


"Aku hanya ingin melakukan hal itu saja," sahut Zinnia sekenanya dengan mata terpejam menikmati wangi rambut suaminya yang beberapa hari belakangan ini sangat ia sukai. "Kau memakai shampoo apa? bukankah kita memakai satu shampoo yang sama?" tanya Zinnia pada William sembari terus mengendus wangi rambut suaminya.


William sedikit menjauhkan wajahnya. Ia ingin memandang wajah Zinnia. "Tentu saja kita memakai shampoo yang sama, Sayang!" William mengendus wangi rambut Zinnia. "Wangi rambutmu sama seperti shampoo yang aku pakai," tutur William pada Zinnia.


Kening Zinnia mengkerut sempurna. "Tidak sama, Sayang! wangi rambutmu lebih enak di hirup daripada wangi rambutku," elak Zinnia dan William hanya tersenyum menanggapi celotehan istrinya yang sebenarnya itu hanya sebuah perasaannya saja.


William bisa memahami jika keanehan pada Zinnia akhir-akhir ini adalah pengaruh dari kehamilannya.


William kembali memeluk tubuh istrinya. "Kau bisa menghirup wangi rambutku sampai puas, Sayang!" William tersenyum kecil.


Zinnia mengeratkan pelukannya. Ibu hamil itu sungguh merasa candu akan wangi rambut suaminya.


"Apa kau sudah makan siang?" tanya William pada istrinya. "Belum!" Zinnia menyahut.


Kini William melepaskan pelukannya dan mengalihkan tatapannya pada meja nakas Zinnia.


William tertawa kecil karena pikiran istrinya semakin konyol. "Aku tadi yang membawanya kemari," jelas William dan kening Zinnia kembali mengkerut. "Tapi kenapa aku tak melihatnya?" tanya Zinnia lagi dan William kewalahan harus menjawab pertanyaan Zinnia yang tiada habisnya. "Karena kau tengah asyik membayangkan sesuatu di tempat tidur ini," sahut William sembari membuka kotak bekal yang ia bawa dari rumahnya.


Saat kotak bekal itu terbuka, Zinnia mencium aroma udang bakar dengan saus yang membangkitkan selera makannya.


Zinnia yang awalnya dalam posisi tertidur kini segera menegakkan tubuhnya untuk melihat makanan apa saja yang dibawa oleh suaminya.


William tahu jika istrinya sudah mulai tergoda dengan makanan yang ia bawa. William sengaja memperlihatkan secara gamblang menu apa saja yang ada di dalam kota bekalnya.


Mata Zinnia langsung berbinar saat ia melihat ada udang bakar, parkedel, dan tumis brokoli mix telur puyuh.


Seketika suara tegukan air liur dari mulut Zinnia terdengar oleh William dan Dokter tampan itu memberikan kotak bekal tersebut pada istrinya. "Kau makan siang dulu!"


Zinnia tersenyum hendak menyendok makanan itu namun, gerakan tangannya seketika terhenti karena ia ingin William yang menyuapinya. Zinnia kembali memberikan kotak bekal itu pada suaminya. "Aku ingin kau yang menyuapiku," pinta Zinnia manja.


William dengan senang hati mengikuti permintaan istrinya. Suapan demi suapan sudah masuk ke dalam mulut Zinnia sampai isi dari kotak bekal itu habis tak tersisa.


"Enak?" tanya William sembari memberikan air minumnya pada Zinnia.


Zinnia hanya mengangguk dengan jempol yang ia angkat tinggi-tinggi.


William melihat ada sebuah soundbar bluetooth speaker di kamar istrinya dan arah tatapan William diikuti oleh Zinnia.


Ide cemerlang muncul dalam benak Zinnia. Ibu hamil itu beranjak dari kasurnya berjalan ke arah soundbar bluetooth speaker miliknya. Zinnia sibuk mengutak-atik speaker itu dan terdengar lagu dari Cristina Perri- A Thousand Years.


"Maukah kau berdansa dengan ibu hamil ini?" tanya Zinnia pada suaminya yang masih duduk di bibir ranjang.


Pria itu berdiri dan tersenyum ke arah istrinya. William membungkukkan sedikit tubuhnya ala pangeran negeri dongeng bermaksud menerima ajakan Zinnia.


Zinnia tersenyum segera menekan sesuatu pada remot kontrol yang berada dalam genggaman tangannya.


Tirai di dalam kamar itu tertutup dan suasana gelap. Zinnia menekan lagi tombol pada remot kontrolnya dan lampu tidur yang berada di keempat sudut kamarnya, hidup dengan cahaya yang membuat kamar itu terlihat sangat romantis.


Zinnia berjalan mendekati William dan tangan pria itu terulur untuk memulai ritual dansanya bersama sang istri.


Zinnia perlahan mendekati suaminya dengan tangan yang kini sudah saling genggam.


Mereka mengikuti alunan musik romantis film yang mengisahkan percintaan antara vampir dan manusia biasa.


Tangan William sudah bertengger pada pinggang istrinya dan tangan Zinnia juga telah melingkar pada leher suaminya.


Keduanya saling tatap dengan penuh cinta. "I love you," tutur William di tengah-tengah gerakan dansanya.


Zinnia tersenyum sembari berkata, "I love you too," balas Zinnia dan bibir keduanya seketika menyatu penuh kasih.


CEK BAB 255 VISUAL 2 COUPLE SEASON 2 SUDAH RILIS.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.