Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 140


Wanita dengan rambut pendek yang sudah di style sedemikan rupa keluar dari ruang ganti dengan gaun selutut. Riasan yang semi natural dan hells berukuran 8 cm. Anting yang digunakan Agnez bulat dan besar, membuat penampilan wanita itu terlihat lebih menawan.


Dari ruang ganti tepat di sebelah ruangan Agnez, seorang wanita dengan rambut yang sebagian di kepang, di bentuk ala sanggul modern dengan 4 bunga kecil terselip di bagian belakangnya. Gaun duyung menjuntai ke belakang berwarna dusty pink, dengan bagian tangan panjangnya sampai batas lengan berbentuk lengan terompet. Melati menggunakan wedges 3 cm berwarna cream. Riasan wajah yang pastinya natural. Anting berbentuk bunga sakura.


Keduanya menjadi pusat perhatian para pelanggan yang datang untuk perawatan di salon bernama "Beauty Care" itu.


Agnez dengan gaun selututnya membuat dirinya terlihat begitu modis, sedangkan Melati dengan gaun menjuntainya, ditambah lagi perut buncit, membuat wanita hamil itu bertambah seksi.


"Kalian berdua cantik sekali, kita foto bersama dulu ya? aku ingin mengunggah fotonya ke akun media sosialku," pinta pemilik salon itu.


Keduanya mengangguk. Kamera ponsel sudah menangkap ketiga wanita yang sedang menebar senyum.


Cekrek


Gambar ketiganya dengan senyum mengembang sempurna tertangkap oleh ponsel si pemilik salon.


"Wah, kalian berdua memang cantik sekali! terimakasih karena telah mempercayakan salon kami untuk acara ...."


"Iya sama-sama," potong Agnez karena si pemilik salon itu sudah hampir saja menggagalkan rencana Arnon dan kawan-kawan.


Pemilik salon itu tersenyum kikuk karena hampir saja dia keceplosan mengatakan rencana Agnez.


"Kami pulang dulu," pamit Agnez pada pemilik salon dan di angguki oleh wanita modis tersebut.


Agnez dan Melati sudah berada di dalam mobil. Melati masih berusaha menghubungi suaminya, namun ponsel Arnon masih tak aktif.


"Kemana sih dia! apa begitu sibuknya sampai harus mematikan ponsel sepanjang hari? awas saja nanti ya? jika sudah sampai di rumah! aku akan mencincangnya dan menggoreng dia sampai gosong," umpat Melati karena rasa kesalnya yang sudah membumbung tinggi.


Agnez tertawa kecil mendengar umpatan adiknya itu. "Kau jangan begitu pada, Arnon! kasian anakmu yang masih di dalam perut, dia pasti ikut marah jika ayahnya akan di cincang habis oleh ibunya," ledek Agnez dengan kedua tangan yang masih bergelut di alat kemudi.


Melati menghela nafas panjang dengan wajah yang di paksakan setenang mungkin. "Mommy tak marah dengan Daddy, Sayang! Mommy hanya kesal saja dan semua perkataan Mommy tadi itu, murni karena emosi bukan dari hati," ujar Melati mengelus perut buncitnya.


Agnez cekikikan melihat kelakuan Melati yang berubah-ubah.


Setengah jam kemudian, akhirnya mobil Melati sudah berada di depan halaman rumah Arnon dan Melati.


Posisi Melati yang saat ini tengah ketiduran membuat Agnez bisa langsung melancarkan rencana berikutnya.


Agnez dengan susah payah menutup mata Melati. Karena gerakan Agnez yang begitu sering membuat Melati terbangun dari tidurnya.


"Kak! kenapa mataku di tutup begini?" tanya Melati yang berusaha membuka penutup matanya.


"Eh, jangan dibuka, Mel! aku juga di tutup matanya ini," bohong Agnez.


Arnon dan Pram datang menghampiri mobil Agnez.


"Sebentar lagi akan ada pengawal yang akan membawa kita ke ruang pesta," jelas Agnez.


Suara pintu mobil terbuka. Arnon memapah istrinya untuk turun dari mobil.


Aktor tampan itu terpesona dengan penampilan Melati yang terlihat begitu sempurna meskipun matanya tengah di tutupi sebuah kain.


Aura kecantikan dan keseksian Melati sungguh terlihat begitu mendominasi mata Arnon.


Pria itu hendak mencium bibir istrinya yang masih diam tak bergerak karena Melati takut terjatuh jika ia salah melangkah.


"Pengawal! cepat bawa kami ke dalam," pinta Agnez yang ingin membuat Arnon sadar jika kelakuannya itu akan menggagalkan rencananya.


Arnon segera memundurkan wajahnya. Ia menyentuh kedua lengan Melati tepat di dekat kedua gundukan di dada Istrinya.


Arnon tersenyum kala sang istri berkata ia risih pada pengawal yang tak lain adalah dirinya.


Melati sebenarnya sedikit curiga dengan pengawal itu karena wangi tubuhnya sama seperti wangi tubuh Arnon.


"Maaf, Nona!" dengan suara yang di buat berbeda.


Pram dan Agnez seketika ingin tertawa karena Arnon bersuara layaknya suara bapak-bapak berkumis.


Tangan Arnon berpindah pada bahu Melati.


Pria itu membantu istrinya terus melangkah ke arah ruangan yang sudah di siapkan.


"Jangan terlalu cepat dong, Pak pengawal! apa anda tidak melihat jika saya sedang hamil!"


Sungguh Arnon ingin mengumpat jika yang berbicara itu bukan istrinya.


"Maaf, Nona!"


Melati memajukan bibirnya karena ia merasa kesal harus menemani Agnez ke acara tak penting seperti ini.


"Acara apa sih ini! kenapa masuk saja harus di tutup matanya seperti ini! pasti yang punya ide acara ini orangnya sudah gila," gerutu Melati yang membuat Arnon terbelalak, sedangkan Pram dan Agnez menutup mulutnya rapat-rapat agar suara tawa mereka tak meledak seketika itu juga.


"Namanya juga secret party, Nona!"


"Secret party apanya! yang ada menyebalkan party ini! huh, jika saja aku bertemu dengan, Bosmu! akan aku beri dia," omel Melati lagi yang membuat Pram dan Agnez menutup mulutnya kembali.


Arnon mulai menarik nafasnya dalam, kemudian membuangnya secara perlahan.


"Anda bisa memberi dia pelajaran sebentar lagi, Nona! karena kita sudah hampir sampai," tutur Arnon yang menyamar sebagai pengawal.


"Astaga! kenapa istriku tak berhenti mengomel? apa dia sedang dalam mood yang buruk?"


Arnon kembali memapah istrinya menuju ruangan yang sudah di dekorasi sebagus mungkin.


"Kenapa lama sekali sih! ini acara pesta atau acara uji nyali?" tanya Melati yang membuat Arnon lagi-lagi harus menghela nafas panjang.


"Kenapa kau menghela nafas? apa kau tak suka dengan ucapanku? atau kau tak suka karena terus memapah ibu hamil yang badannya sudah tak bagus lagi?" tanya Melati.


"Kata siapa badan anda tak bagus lagi? anda terlihat begitu seksi dengan gaun itu, Nona!"


Tiba-tiba Melati berhenti. Ia meraba pipi lelaki itu dan ....


PLAKK


"Rasakan itu! kau berani sekali mengatakan aku seksi, yang boleh mengatakan itu hanya, Suamiku! kau harus paham itu."


Arnon terkejut dengan tindakan istrinya. Perasaannya kali ini campur aduk antara senang dan kesal, namun beda tipis.


Senang karena Melati sangat menjaga kehormatannya sebagai istrinya. Kesal karena Melati menamparnya.


Arnon tersenyum karena ini semua memang kesalahannya yang membuat istrinya kesal.


Pram dan Agnez memegangi perutnya. Mereka berdua sudah tak tahan lagi dengan pasangan suami-istri yang kocak itu.


Arnon melebarkan matanya menghadap ke arah Pram dan Agnez.


Keduanya menundukkan kepala karena tatapan Arnon seperti orang yang sedang ingin menelan mereka berdua mentah-mentah.