Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 188 (Season 2 )


Zinnia membuka matanya sambil melihat ke arah samping, namun pria yang ia tunggu belum juga muncul.


Zinnia baru sadar jika gadis itu tak tidur di sisi ranjang dimana biasanya ia tidur. Zinnia berada tepat di tengah-tengah kasurnya. Tempat yang sama saat terakhir ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang berukuran king size tersebut.


Zinnia memiringkan tubuhnya ke arah sisi tempat tidur William. Gadis itu menatap nanar tempat tidur yang kosong tanpa penghuni.


Zinnia tersenyum kecut. Gadis itu melihat ke arah jam yang berada di atas nakas. Waktu menunjukkan pukul 5 pagi.


Zinnia memejamkan matanya. Tanpa terasa sebulir cairan bening jatuh tanpa ia minta.


Entah mengapa ia merasa sedih sekali hari ini. Mungkin karena hari ini hari terakhir penantiannya untuk tahu perasaan William padanya dan penantian itu tak berbuah manis, namun sebaliknya. Buah yang ia petik terasa sangat pahit, sepahit paginya hari ini.


Zinnia mengusap air mata yang tiba-tiba jatuh dengan sendirinya itu.


"Kenapa air mata ini jatuh? apa yang kau pikirkan, Zi! kau harus segera bersiap untuk berangkat ke bandara."


Zinnia yang tak pernah berpacaran masih belum sadar akan perasaannya sendiri. Gadis itu tak sadar jika ia mulai merindukan suaminya.


Zinnia pikir rasa itu hanya sebatas rasa yang biasa saja, namun tanpa ia ketahui rasa yang mulai berkembang dalam hatinya adalah rasa cinta untuk William.


Zinnia berjalan ke arah kamar mandi. Gadis itu akan membersihkan dirinya.


Setelah beberapa menit. Zinnia keluar dari kamar mandi. Gadis itu tak hanya mandi biasa. Ia masih berendam untuk menghilangkan rasa penat badan dan pikirannya.


Zinnia mengenakan rok selutut dengan atasan tank top. Gadis itu menggunakan jaket berbahan jeans berwarna ice blue untuk menutupi kulit lengannya.


Rambutnya dikuncir kuda dengan kacamata yang juga bertengger di kedua matanya.


Zinnia menggunakan boots berwarna hitam yang membuat penampilan gadis itu semakin elegan.


Gadis itu meletakkan sebuah surat untuk William. Surat itu ia letakkan di atas nakas sisi tempat tidur suaminya.


Setelah semua sudah selesai dan siap, gadis itu nenarik kopernya berjalan ke lantai dasar.


Kopernya ia tinggalkan di atas agar supirnya yang membawa semua barangnya.


Saat Zinnia sudah berada di ruang tamu, Asih ternyata sudah menunggunya.


"Anda mau kemana, Nyonya?"


"Aku akan ke Amerika selama dua hari, tolong urus semua kebutuhan Tuan selama aku ke luar Negeri," pinta Zinnia pada kepala pelayan rumahnya.


"Apa Tuan sudah tahu jika anda akan ke Amerika hari ini?" tanya Asih lagi.


Zinnia diam tak menjawab. Gadis itu tersenyum pada Asih. "Aku sudah bilang jauh-jauh hari sebelum hari ini tiba," tutur Zinnia.


"Aku berangkat dulu, Kepala Pelayan Asih! aku titip rumah padamu," ujar Zinnia yang langsung melangkah ke arah pintu keluar menuju ke arah mobil yang akan mengantarkannya ke bandara.


Di sebuah kamar, seorang pria baru saja membuka matanya.


Pria itu melihat ke arah sekelilingnya. William sadar jika itu bukan kamar yang biasa ia tempati bersama sang istri.


William langsung melihat ke arah jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi dan dia tak pulang kerumah semalam.


Tanpa pikir panjang, William langsung mengambil ponselnya yang berada di atas nakas dan menghubungi nomor istrinya.


Bukan suara Zinnia yang ia dengar, melainkan suara operator yang memberitahunya jika nomor Zinnia dalam keadaan tak aktif atau berada di luar jangkauan.


William meletakkan ponselnya tepat di sampingnya. Pria itu mengusap wajahnya kasar. "Kenapa aku harus ketiduran? ah, apa dia marah padaku? tak biasanya ponselnya tak aktif seperti ini."


William melihat ke arah jam tangannya lagi. Sebentar lagi masih ada senam pagi. Ia akan pulang setelah senam pagi selesai.


Mobil William sudah berada di tengah padatnya kendaraan yang tengah terjebak macet.


Pria itu terus melihat ke arah jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 dan William masih berada di dalam mobilnya.


"Kenapa hari ini harus macet begini? astaga! apa ini hukuman untukku karena aku ketiduran di rumah sakit tadi malam?" tanya William pada dirinya sendiri.


Supir yang bertugas mengendarai mobilnya hanya bisa menatap William dari kaca spion tengah. Ia melihat dengan jelas jika wajah majikannya itu sangat kebingungan.


"Pasti Tuan sedang memikirkan, Nyonya! semoga saja Nyonya tak marah karena Tuan tadi malam tak pulang ke rumah."


Lambat lain kendaraan yang di naiki William mulai berjalan dan supir itu mulai menginjak lebih dalam pedal gasnya karena ia kasihan pada William yang sangat cemas, karena semalaman tak pulang.


Mobil itu sudah berada di halaman rumahnya. William langsung turun sambil berlari kecil masuk ke dalam rumah itu.


Seperti biasa, ia di sambut oleh Asih. "Selamat datang, Tuan!"


William tak membalas sambutan kepala pelayan rumahnya. Pria itu langsung bertanya tentang keberadaan Zinnia, "Dimana, Nyonya?"


Asih sedikit mengerutkan dahinya. Ia bingung dengan pertanyaan William. Bukankah Zinnia berkata jika ia telah memberitahu suaminya soal keberangkatannya ke Amerika.


"Nyonya sudah berangkat ke bandara, Tuan!"


Jantung William sungguh terpompa sangat cepat. Ia merasa ada sesuatu yang hilang saat mendengar istrinya sudah pergi ke Amerika.


"Apa anda tidak tahu? Nyonya berkata pada saya, jika beliau sudah memberitahu anda jauh-jauh hari," jelas Asih pada William.


Pria itu langsung duduk di sofa ruang tamunya. William menyandarkan kepalanya sambil menutup kedua matanya dengan lengan kekarnya.


William sungguh menyesal karena ia lupa jika hari ini adalah hari keberangkatan Zinnia ke Amerika untuk peluncuran baju musim seminya tahun ini.


"Dia pasti menungguku kemarin malam," gumam William dengan posisi yang masih tetap sama seperti tadi.


Pria itu bangun langsung berjalan ke arah kamarnya dan semua pergerakan William tak luput dari pandangan Asih.


"Pasti Tuan lupa dengan hari keberangkatan, Nyonya! semoga saja masalah tak muncul karena kepergian Nyonya ke Amerika," gumam Asih yang langsung berjalan ke arah dapur.


William sudah berada di depan pintu kamarnya. Pria itu membuka handel pintu kamar tersebut. Secara langsung wangi manis parfum milik istrinya nenyeruak masuk ke dalam indera penciumannya.


Pria itu melihat ke arah sekelilingnya, tak nampak siluet gadis yang selama beberapa hari ini selalu menunggunya pulang.


William berharap Asih hanya berbohong dan istrinya tiba-tiba muncul di hadapannya memberikan dia surprise, namun sepertinya semua itu hanya harapan saja.


Zinnia benar-benar sudah berangkat dan dirinya saat ini merasa kehilangan.


William berjalan ke arah ranjangnya. Pria itu duduk di dekat nakas tempat Zinnia meletakkan suratnya, namun William masih belum menyadarinya.


Yang ada di pikiran pria itu saat ini hanyalah Zinnia, Zinnia, dan Zinnia.


"Apa mungkin aku sudah jatuh cinta padanya?"


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰