Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 231 ( Season 2 )


Di luar private room seorang pria dengan kacamata hitam tengah tersenyum licik sembari mengirim sebuah pesan dengan tulisan "Zinnia dan selingkuhannya sudah masuk ke dalam private room".


Dalam waktu sekejap tak sampai lima menit pria misterius itu mengirim pesannya, para wartawan dan reporter sudah berbondong-bondong keluar dari sebuah ruangan yang berada tak jauh dari private room tersebut.


Jumlah para wartawan itu sangat banyak karena ini merupakan berita yang pastinya akan sangat mendunia jika mereka semua bisa mendapatkan gambar perselingkuhan desainer besar. Ditambah lagi Zinnia berasal dari keluarga Gafin, keluarga yang sangat berpengaruh di negeri ini.


Beberapa tamu melihat suara ribut-ribut di depan private room. Tamu yang merupakan para wanita itu bergegas mendekati para wartawan yang sudah berada tepat di depan pintu private room.


"Kalau boleh tahu, ada apa ya, Mbak?" tanya salah satu wanita yang baru dari toilet pada salah satu reporter wanita.


"Zinnia sedang bersama selingkuhannya di ruangan ini, Nona!"


Wanita itu langsung menghubungi temannya yang berada di ruang pesta dengan mengirimkan sebuah pesan singkat bertuliskan emergency di private room.


Teman wanita itu memberitahu para tamu lain untuk melihat ke private room.


Beberapa tamu saling bisik-bisik tetangga, sampai mereka semua para wanita yang sudah masuk dalam kategori para netizen kepo bersama-sama menuju ke private room.


Marinka melihat ke arah sekeliling. "Kenapa mereka pergi menuju arah private room? ... private room bukannya tempat ...."


Senyum Marinka terpancar indahnya. "Ternyata tak perlu bersusah payah membawa para tamu ke arah ruangan yang akan bersejarah bagi si gadis ingusan itu," gumam Marinka sembari melipat kedua tangannya di dada.


Marinka saat ini tengah sendiri tak berbincang dengan siapapun. Wanita berbibir tebal itu masih terus memperhatikan para tamunya yang bergerak satu persatu menuju arah private room.


Marion dan Jerry yang berada di belakang Marinka hanya memperhatikan sembari tersenyum kecil karena rencana adiknya sebentar lagi akan gagal total.


Para wartawan dan tamu sudah memenuhi jalan menuju ruangan yang kini menjadi topik panas di gedung tempat perayaan ulang tahun si kembar.


Blits kamera memenuhi pintu yang akan menjadi penentu nasib karir Zinnia sebentar lagi.


Marinka berjalan dengan langkah sensasional bagai model yang sedang memperagakan busana yang di kenakannya.


Wanita itu ingin ikut menyaksikan bagaimana malunya Zinnia saat semua orang tahu ia sedang bersama pria lain di dalam sebuah ruangan.


Saking fokusnya dengan momen yang ada dalam benaknya, Marinka sampai tak sadar jika Marquez dan Sandra berada di balik kelambu berwarna putih tepat di samping kanannya.


Sandra yang sadar akan kehadiran Marinka segera membuka suara agar desainer papan atas itu mau ikut serta melihat kehebohan yang sedang terjadi.


"Kenapa semua tamu pergi ke arah sana ya, Tuan Copaldi?" tanya Sandra pura-pura tak tahu.


Marquez melihat ke arah jalan menuju ruangan yang ia masuki tadi. "Ada apa ya?" tanya Marquez balik.


"Coba kita lihat saja," ajak Sandra dan Marquez sukses masuk dalam perangkapnya.


"Untung saja pria ini bisa aku tipu."


Marquez dan Sandra pergi menuju ke arah para tamu yang berbondong-bondong untuk melihat Zinnia.


Salah satu wartawan memberanikan diri mencoba membuka hendel pintu ruangan itu dan tak terkunci.


Wartawan pria itu melihat ke arah wartawan lainnya untuk meminta persetujuan pintu itu akan terus di buka atau tidak, dan para wartawan lainnya menganggukkan kepalanya sembari membawa kamera yang merupakan alat paling penting saat bertugas.


Ceklek


Suara hendel pintu ruangan itu terbuka dan daun pintu sudah terbuka selebar-lebarnya.


Blits kamera untuk mengambil foto Zinnia dan pria selingkuhannya sudah bertebaran dimana-mana.


Semua wartawan ternganga saat melihat adegan yang berada di atas sofa private room tersebut.


Marinka terus melangkah sampai kaki jenjangnya itu berhenti tepat di belakang para wartawan yang sedang sibuk mengambil foto dan video Zinnia di dalam sana.


Marinka tersenyum penuh kemenangan. Wanita dengan gaun hitam yang nampak terlihat seksi itu melangkah menerobos lautan para wartawan yang sedang asyik dengan tugasnya.


Saat Marinka sudah tinggal selangkah lagi melihat kesuksesan akan rencananya, senyuman yang penuh dengan kemenangan itu sirna saat ia melihat Zinnia dan William berada dalam satu sofa yang sama dan posisi mereka berdua tumpang tindih.


Gaun Zinnia sudah turun sampai bahu, sementara jas William sudah tak dipakai dan kancing kemeja Hot Dokter tersebut sudah terbuka setengah bagian, menampilkan dada bidang dengan bagian roti sobek yang hanya terlihat setengahnya saja.


Zinnia dan William melihat ke arah kamera, dengan sigap, pria tampan itu mengambil jasnya yang tergeletak di lantai untuk menutupi bagian tubuh Zinnia yang sedikit terbuka.


William menatap ke arah Marinka dan para wartawan itu dengan tatapan marah disertai penuh kilatan emosi.


William bangun mengancing satu persatu kancing kemejanya yang terbuka.


Kedua lengan kemejanya juga di gulung sampai sebatas siku.


Setelah semuanya selesai, tangan William di lipat di dadanya. Wajah yang awalnya menunduk, kini terangkat sempurna menatap para wartawan dan Marinka yang pasti biang kerok dari semua ini.


Rahang William mengeras dengan sorot mata tajam penuh emosi yang di tahanannya. Otot lengan William juga sudah mulai nampak karena emosi pria itu memang sudah pada batasannya.


"Ada apa kalian semua datang kemari?" tanya William dengan nada suara dingin.


Marinka memundurkan satu langkah kakinya karena rencananya kali ini benar-benar berbalik menyerangnya.


Tak ada yang berani membuka suara. Semua wartawan masih sibuk mengambil gambar William.


"Hentikan semuanya!" William mulai meminta para wartawan itu untuk tak mengambil gambarnya.


Karena suara William yang lantang dan tegas, para wartawan itu menghentikan kegiatan mereka.


"Kalian sedang apa?" tanya William lagi mengulang pertanyaannya.


Masih tak ada yang berani menjawab pertanyaan Dokter tampan itu.


Karena merasa tak di hiraukan akhirnya William mendekat dua langkah ke depan.


"Kalian sedang apa? dan kau, Marinka! kenapa kau berada di barisan paling depan?" tanya William menatap tajam adik dari Marion itu.


Tubuh Marinka menegang karena pertanyaan William seolah memberikan sinyal, jika pria itu tengah mencurigainya.


"Aku ... aku baru sampai, Kak! orang-orang banyak yang datang kemari dan aku sebagai tuan rumah di acara pesta ini harus tahu apa yang terjadi," kilah Marinka.


"Kau memang ular betina yang pandai berkilah, Marinka!"


William tak memperdulikan alasan Marinka. Pria itu beralih menatap ke arah para wartawan. "Kalian untuk apa kemari?" tanya William yang kembali mengulang pertanyaannya.


William menunjukkan salah satu reporter yang kebetulan berada di barisan depan. "Kau yang jawab," pinta William dengan nada tegas.


Reporter pria itu memberanikan diri menjawab pertanyaan William. "Saya akan menjawab pertanyaan anda dan jawaban saya ini mewakili kami semua para wartawan dan reporter! ... sebenarnya ada seseorang yang memberitahu kami melalui pesan singkat jika hari ini, Nona Zinnia dan Tuan Marquez akan melakukan pertemuan tersembunyi di ruangan ini. Awalnya kami semua tak percaya namun, saat kami mencari informasi tentang Nona Zinnia dan Tuan Marquez, hal mengejutkan kami temukan jika Tuan Marquez sejak lama suka pada istri anda dan informasi dari seseorang itu semakin meyakinkan kami jika istri anda memang akan melakukan pertemuan tersembunyi," jelas reporter pria itu.


William terkejut mendengar penuturan dari reporter pria itu namun, ia mencoba menormalkan kembali hatinya yang sedang dalam keadaan ketar-ketir membayangkan jika informasi yang di dapatkan oleh reporter itu benar adanya.


Bukan hanya William yang terkejut, Marion dan Zinnia juga terkejut.


"Semakin menarik sepertinya permainan malam ini! rencanaku boleh gagal, tapi jalan lain masih terbuka lebar untuk membuat hubungan mereka bubar."


"Jadi kalian mendapatkan informasi itu bukan dari sumber terpercaya? sudah berapa pasal yang akan menjerat kalian untuk aku bawa ke pengadilan? dan apa perlu aku harus mencari tahu dalang dibalik kejadian hari ini, agar kalian semua dan dalang pemberi informasi palsu itu bisa bertemu denganku di meja hijau," gertak William yang sudah geram dengan ulah Marinka.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.