
Arnon dan Melati sudah keluar dari ruangan pertemuan tadi.
Saat sudah berada di luar ruangan, mereka berdua melihat Pram tengah berbincang dengan Asisten artis lain.
"Pram!" Arnon memanggilnya.
Pram langsung berjalan ke arah Bosnya dengan langkah tegap. "Ya, Tuan!"
"Kau baru datang?" tanya Arnon yang masih menggenggam tangan istrinya erat.
"Saya sudah dari 2 jam yang lalu di sini, Tuan!"
"Apa ada acara lagi hari ini?" tanya Arnon.
"Tak ada, Tuan! dua hari lagi ada pemotretan untuk film ini dan setengah bulan lagi pembuatan film ini akan berlangsung."
Arnon manggut-manggut mendengar penjelasan Asisten pribadinya.
"Kakakku ada dimana?" tanya Melati pada Pram.
"Kakak anda sudah saya antar pulang."
"Makasudku bukan itu? dia berjualan dimana?"
"Saya kurang tahu, Nona! karena setelah saya mengantar kakak anda, saya langsung berganti baju dan bergegas kemari," jelas Pram padat tanpa basa-basi.
"Bisa kau cari tahu dimana kakakku berjualan?" tanya Melati yang cemas akan kondisi Agnez karena wanita itu baru saja mengalami hal yang sungguh membuat hidupnya hancur.
"Baik, Nona! saya akan mencari tahu dimana kakak anda!"
Melati dan Arnon melangkah menuju keluar gedung.
Pram berjalan keluar dari gedung itu juga. Ia terus menggerutu di sepanjang perjalanan menuju arah mobilnya. "Kenapa harus aku yang mencarinya! kenapa tak menyuruh orang lain saja."
Pram memerintahkan pada anak buahnya agar mencari keberadaan Agnez. 5 menit setelah memberi perintah pada anak buahnya, akhirnya ia tahu keberadaan Agnez.
Mobil Pram meluncur ke tempat dimana kakak tiri Melati itu menjual bunganya.
Kendaraan beroda empat milik Pram berhenti di depan sebuah hotel mewah.
Agnez memilih untuk berjualan di sana, karena ia mengira mungkin bunga-bunganya akan di butuhkan untuk mendesain kamar pengantin baru.
Agnez berada di pinggir jalan, ia berharap bunganya akan segera laku terjual, namun wanita itu harus menunggu berjam-jam lamanya.
Pram berjalan mendekati Agnez. "Kenapa kau berjualan di sini? kenapa kau tak berjualan di pasar atau dimana asal jangan di pinggir jalan begini."
"Aku berpikir mungkin omset menjual bunga di sini sangat bagus," sahut Agnez dengan wajah lesu.
Pram menarik tangan Agnez berjalan menuju ke arah mobilnya.
Pria itu memberi perintah pada anak buahnya agar membawa keranjang bunga milik Agnez. "Cepat bawa keranjang bunga itu!"
Agnez dan Pram sudah berada di dalam mobil. Keduanya tak ada yang membuka suara.
Agnez menatap ke arah Pram. Pria itu tetap fokus ke arah depan tanpa menoleh ke arahnya.
"Dasar! pria datar yang tak romantis."
"Kenapa kau menatapku? apa wajahku sangat tampan sampai kau menatapku tanpa henti," celetuk Pram membuat dahi Agnez mengkerut sempurna.
"Hahahaha! kau sungguh pria yang memiliki tingkat percaya diri tinggi, tapi sayang ... semua dugaanmu itu salah besar, karena aku berpikir sebaliknya," jelas Agnez tanpa ragu.
"Jadi maksudmu aku jelek?" tanya Pram masih fokus dengan alat kemudinya.
"Aku tidak pernah mengatakan seperti itu! kau sendiri yang mengatakannya."
Ciiitttttt
Pram menekan pedal remnya sedalam mungkin sampai Agnez terjungkal ke depan.
"Hei! kau ini mau membunuhku ya? kau bisa menyetir tidak?" tanya Agnez yang sudah emosi pada Asisten Arnon tersebut.
"Kau sendiri yang tak hati-hati! lain kali fokus, jangan hanya melamun," ujar Pram.
"Siapa yang melamun? aku tak melamun! kau saja yang tak tahu cara berkendara yang benar dan jika aku yang akan menjadi polisi di Negara ini, sudah pasti kau ku tilang tanpa ampun," ucap Agnez menatap Pram tajam.
"Kau tak bisa lihat atau apa sih! kita sudah sampai, apa kau ingin aku menerobos masuk ke dalam taman itu sampai aku benar-benar harus di bawa ke kantor polisi atau bahkan rumah sakit karena telah menerobos masuk ke dalam sana dengan mobil ini?"
Agnez melihat ke arah sekitarnya. Ternyata ia sudah sampai di sebuah taman dimana para pasangan muda telah berjalan bergandengan tangan dengan kekasihnya.
Agnez sungguh malu pada Pram karena ia telah memarahi pria datar itu tanpa alasan yang akurat.
Wanita itu membuka seat belt-nya kemudian turun dari dalam mobil Pram.
Pram ikut turun. Ia memerintahkan pada anak buahnya agar menyiapkan stand berjualan untuk bunga-bunga Agnez.
Beberapa menit kemudian, akhirnya stand untuk bunga-bunga Agnez selesai.
Semua bunga telah tertata rapi dengan dekorasi stand yang sangat indah untuk menarik minat para pembeli.
Agnez sudah menunggu para pembeli bunganya datang. Satu persatu para pasangan muda datang ke stand bunga Agnez.
Mereka para pria membeli bunga mawar merah untuk pasangannya.
Semakin lama para pembeli semakin banyak. Pram merasa tak tega melihat Agnez yang mulai kewalahan berjualan sendiri.
Pria itu menghampiri Agnez untuk membantunya melayani para pembeli.
Pria itu sangat cekatan dalam melayani para pembeli.
Agnez tak sengaja melihat ke arah beberapa gadis yang sengaja curi pandang menatap lama wajah Pram yang memiliki rahang yang tegas dan rupawan.
Salah satu pemuda bertanya pada Pram. "Istrinya ya, Kak?"
Pram menatap wajah pemuda itu datar tanpa ekspresi, kemudian bibir Pram hendak menjawab pertanyaan pemuda tersebut, namun mulut Agnez terlebih dulu menjawabnya.
"Iya, Dik! ini suami saya! kami baru saja pulang berbulan madu ... iya kan, Sayang!"
Pram mengerutkan keningnya. Ia berpikir apa maksud Agnez berkata seperti itu?
"Wah, masih hangat-hangat ya, Kak?" tanya pemuda tadi.
"Iya dong, Dik!" Agnez tersenyum pada pemuda itu.
"Kakak berbohong ya? wajah pria di samping kakak nampak biasa saja," ujar remaja perempuannya yang sedari tadi syik menatap Pram.
Agnez mulai geram dengan remaja perempuan itu.
"Sudah punya pacar tapi masih saja melirik pria lain! dasar anak muda zaman sekarang."
"Kakak tidak berbohong! sungguh pria di samping kakak ini adalah suami, Kakak!"
Entah kenapa jantung Pram ingin sekali melompat keluar saat mendengar ucapan Agnez.
"Aku akan mengikuti permainanmu, kucing galak!"
"Dia memang, Istriku!" Pram menatap para remaja di hadapannya dengan tatapan datar.
"Kami ini sudah besar, Kak! Kakak tak perlu berbohong pada kami," ujar remaja perempuan yang terlihat menatap Pram dengan tatapan menggoda.
"Kalian perlu bukti?" tanya Pram pada mereka.
"Tentu saja!" ucap mereka bersamaan.
Pram menatap Agnez dengan senyumnya. Pria itu menarik pinggang kakak tiri Melati agar jarak di antara mereka terkikis habis, bahkan tubuh keduanya menempel sempurna.
Tangan Agnez berada pada kedua lengan kekar Pram.
Mata keduanya saling tatap satu sama lain begitu dalam.
"Kali ini aku akan menunjukkan pada mereka, seberapa besar cintaku padamu, Istriku," tutur Pram mendekatkan wajahnya pada wajah Agnez.
Jarak keduanya semakin dekat sampai hembusan lembut napas pria itu menerpa sebagai wajah Agnez.
Tatapan Pram tertuju pada bibir Agnez. Pria itu mendekati bibir kakak tiri Melati.
Wanita itu memejamkan matanya dengan kedua tangannya mencengkram erat lengan Pram.
Saat bibir mereka hampir mendarat sempurna, suara remaja perempuan tadi mulai mengehentikan kegiatan Agnez dan Pram.
"Hentikan! kami percaya, semoga rumah tangga kalian bahagia! ayo kita pergi," ajak remaja perempuan itu pada yang lain karena mereka sudah tahu jika Pram dan Agnez sungguh pasangan suami istri dan mereka juga sudah membeli bunganya.
Pram dan Agnez masih tetap saling tatap dengan tangan Pram yang masih berada pada pinggang wanita yang di julukinya kucing galak.
Saat keduanya sudah sadar dengan posisi yang terkesan sangat intim, mereka menjauhkan diri dengan wajah yang sudah sama-sama memerah.
Mereka saling memunggungi satu sama lain.
Agnez mengibas-ngibaskan tangannya pada wajahnya yang sudah terlihat merah.
Berbeda dengan Pram yang mengusap wajahnya kasar karena ia bisa hilang kendali dan bisa-bisanya tangan nakalnya itu menyentuh pinggang Agnez tanpa izin.
"Ah, kenapa aku bisa segugup ini saat berada terlalu dekat dengan kucing galak macam, Agnez!"
Agnez mulai melakukan kembali pekerjaan melayani para pembeli dan Pram juga membantu wanita itu untuk melayani pembeli.