
Marquez dan Sandra masih berada di dalam mobil. Sandra masih terus menyentuh bibirnya tanpa henti.
"Dimana rumahmu?" tanya Marquez pada Sandra sembari terus fokus menyetir.
Sandra menoleh ke arah desainer tampan itu. "Kau lurus saja ke depan, nanti ada pertigaan jalan, kau ke kanan, rumah berwarna cream," jelas Sandra pada Marquez.
Pria itu hanya manggut-manggut mendengar penjelasan dari Sandra. Marquez melirik ke arah asisten Zinnia itu. "Sudah aku katakan, turunkan tanganmu dari bibirmu itu," ujar Marquez pada Sandra.
Sandra yang sudah kesal pada Marquez menatapnya dengan tatapan tajam. "Ini bukan urusanmu, Tuan Copaldi!"
"Ini urusanku, Nona Asisten! kau sekarang sudah bekerja padaku dan kau juga bagian dari urusanku," jelas Marquez sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Dasar! dia bukan hanya perhitungan tapi juga penuntut."
"Terserah kau saja," ujar Sandra yang sudah tak ingin meladeni ucapan Marquez.
Marquez tersenyum geli. "Apa ini ciuman pertamamu?" tanya Marquez pura-pura tak tahu, padahal dirinya sudah mengetahui jika itu memang ciuman pertama Sandra karena Sandra sangat kaku saat mempraktikkannya.
"Kau tak perlu tahu, Tuan Copaldi! yang jelas aku masih suci sebelum kau menempelkan bibirmu itu, dan sekarang aku sudah tak suci lagi," jelas Sandra dengan tatapan mata yang fokus ke depan tanpa ingin melihat ke arah Marquez.
Pria tampan itu terkejut mendengar penuturan Sandra. "Hei, Nona Asisten! kau dengarkan aku ya! aku tak merebut kesucianmu, baru dicium saja sudah mengatakan tidak suci," cecar Marquez masih tetap fokus menyetir.
Sandra menghela napasnya. "Terserah kau saja! aku lelah harus terus berdebat denganmu," pasrah Sandra yang tak ingin meladeni ucapan Marquez.
Senyum jahil Marquez kembali terpancar. "Wah, berarti aku pria beruntung ya? aku bisa mendapatkan ciuman pertama seorang asisten yang kaku sepertimu," goda Marquez.
"Hm!"
"Kenapa wanita ini cuek sekali sih! apa dia tak pernah dekat dengan seorang pria sampai cueknya minta ampun seperti ini."
"Wah, aku merasa menjadi pria paling bahagia di dunia karena ciuman pertamamu ini," goda Marquez lagi.
Sandra memiringkan wajahnya menyandarkan kepalanya pada kaca mobil. "Kau beruntung mendapatkan ciuman pertamaku dan aku kurang beruntung karena berbagai macam bibir sudah kau rasakan, Tuan Copaldi! ibaratnya, kau mendapatkan durian Montong, sementara aku mendapatkan buah sisa," sarkas Sandra yang sudah muak dengan ocehan Marquez.
Tiba-tiba pria itu menginjak pedal remnya sedalam mungkin. Marquez menatap ke arah Sandra tajam.
"Siapa yang kau sebut buah sisa?" tanya Marquez pada Sandra.
"Seram juga jika dia sudah serius seperti ini."
"Kau!"
Marquez melepaskan seat belt Sandra dan menarik tangan asisten cantik itu ke arahnya sampai tangan Sandra bertumpu pada dada bidang desainer tampan itu.
"Aku masih suci sama sepertimu, Nona Asisten! sebelum bibir kita saling menempel aku masih bersih tanpa kekurangan, tapi sekarang aku sudah ternodai oleh bibirmu itu," tutur Marquez dengan ibu jari yang sudah mengusap lembut bibir Sandra.
Mata Sandra lagi-lagi melabar saat Marquez berada sangat dekat dengannya, ditambah lagi posisi mereka sangat intim.
Berbeda dengan desainer tampan itu yang sedang fokus dengan kelembaban bibir Sandra.
"Aku suka sekali dengan tekstur bibir ini, lembut seperti squishy! aku ingin terus menyentuhnya lagi dan lagi."
Karena sifat alami seorang pria yang dekat dengan wanita membuat insting lelaki Marquez juga ikut bangkit.
Pria itu mendekatkan bibirnya pada bibir Sandra dan ....
Cup
Kecupan singkat mendarat pada bibir lembut Sandra.
Sandra masih diam dengan mata yang berkedip-kedip tanpa ada suara apapun.
Setelah bibir mereka berjauhan, Marquez menatap wajah Sandra yang masih syok akan apa yang dilakukannya.
"Ini ciuaman kedua kita," tutur Marquez pada Sandra dan membuat asisten Zinnia itu tersadar segera menjauhkan dirinya dari Marquez.
"Kita ... kita harus cepat sampai di rumah," tutur Sandra mengalihkan pembicaraan.
Marquez hanya tersenyum sambil kembali mengemudi menuju arah rumah Sandra.
Sandra masih menyentuh bibirnya dengan mata terpejam.
"Kenapa harus berciuman lagi? aku tak ingin adegan ini sampai terbawa mimpi."
"Apa begini rasanya memiliki seorang kekasih? rasanya tak buruk juga!"
Saat mobil Marquez sudah berada di depan pagar rumah Sandra, asisten Zinnia itu turun dari mobil Marquez.
Wanita itu berjalan ke arah Marquez.
Tok tok tok
Sandra mengetuk kaca mobil Marquez dan kaca mobil itu perlahan turun. "Ada apa?" tanya Marquez pada Sandra.
"Terimakasih karena anda sudah mengantar saya pulang, Tuan Copaldi!"
Marquez tersenyum pada Sandra. "Sama-sama, Nona Asisten! terimakasih juga untuk ciuman pertamamu," goda Marquez pada Sandra.
Wanita itu hanya diam namun, sedetik kemudian Sandra menjulurkan lidahnya pada Marquez.
Wajah Marquez nampak terlihat syok karena ia tak menyangka jika Sandra juga bisa membuat ekspresi seperti itu.
"Kau bisa menjulurkan lidah seperti itu juga? aku kira kau orang terkaku yang pernah aku temui," ledek Marquez.
"Aku ini juga manusia, bukan robot," celetuk Sandra sambil berjalan masuk hendak membuka pagar rumahnya namun, wanita itu tiba-tiba berbalik menatap ke arah Marquez. "Aku tak mengundangmu untuk mampir atau sekedar minum teh, jadi kau pulang saja sana!" Sandra Langsung membuka pagar rumahnya dan langsung masuk ke dalam.
Marquez masih diam memperhatikan asisten Zinnia itu masuk ke dalam sampai tubuh Sandra menghilang di balik pintu rumahnya.
"Aku baru kali ini bertemu dengan wanita yang cuek, kaku dan sedingin dia, biasanya para wanita yang mengejarku hanya sekedar untuk makan atau apalah," gumam Marquez.
Di dalam kamar butik Zinnia, William dan istrinya tengah berbaring di atas kasur dengan posisi terlentang.
"Apa benar Marquez jatuh cinta padamu sejak lama?" tanya William memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Zinnia.
Wanita bertubuh ramping itu juga menatap ke arah suaminya. "Aku tidak tahu!"
"Tapi informasi yang di dapat para media dan pernyataan Langsung dari mulut Marquez itu bagaimana?" tanya William lagi.
Zinnia memiringkan tubuhnya menghadap ke arah suaminya. "Yang aku tahu, dulu pernah ada anak laki-laki yang aku temui saat aku dan Grandma pergi ke luar negeri dan aku tak tahu jika anak laki-laki itu suka padaku dan pria itu ternyata, Marquez!"
William terus menatap wajah Zinnia dengan tatapan raut wajah takut akan kehilangan.
Zinnia peka dengan keadaan hati suami saat ini. "Sayang! aku hanya mencintaimu dan pria yang ada dalam hatiku hanya dirimu," jelas Zinnia pada suaminya.
Raut wajah William masih tetap sama tanpa perubahan, akhirnya Zinnia mulai melancarkan aksinya.
Cup
Kecupan mesra pada kening William.
Cup
Kecupan mesra pada hidung William.
Cup
Kecupan mesra pada pipi kanan kiri William.
Cup
Kecupan manis pada bibir seksi William.
Zinnia menangkup wajah suaminya dengan mata yang menatap manik mata William dalam. "Kau calon ayah dari anakku kelak dan aku adalah bagian dari tulang rusukmu, Sayang!"
William tersenyum manarik Zinnia ke dalam pelukannya. "Aku sungguh sangat mencintaimu, Sayang!" Kecupan mesra mendarat pada puncak kepala Zinnia.
"Aku juga sangat mencintaimu," balas Zinnia mencari posisi ternyaman pada dada bidang William.
Keduanya saling tersenyum dan memeberikan kehangatan dari pelukan mereka.
"Selamat malam, Istriku!" William kembali mengecup puncak kepala Zinnia.
Zinnia tersenyum manis dengan posisi wajah berada di dada bidang William. "Selamat malam, Suamiku!"
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.