
Di rumah Hadi, Agnez sudah mengomel tak jelas karena melihat pria yang hendak berdansa dengan Melati.
"Agnez! kamu ini kenapa sih!" Anggi geram melihat anaknya mondar-mandir bagai setrika baju.
"Aku kesal sekali, Ma!"
"Kamu kesal kenapa? tak biasanya kau pulang cepat begini?" tanya Anggi yang sibuk merawat kukunya.
"Aku alasan tak enak badan pada Bosku, aku sungguh kesal dengan Melati, Ma!"
"Iya kesal kenapa? dari tadi hanya kesal terus yang kau sebut, coba ceritakan pada Mama," pinta Anggi pada putrinya.
Agnez memberikan ponselnya pada Anggi, menunjukkan sebuah video dimana Erick akan berdansa dengan Melati pada acara perayaan ulang tahun Roger seorang fotografer terkenal.
"Coba Mama lihat itu! dia itu pria yang selama ini aku sukai, Ma! aku benci sekali dengan Melati! sudah punya suami masih saja pecicilan," umpat Agnez yang sudah emosi.
"Apa dia menyukai Melati?" tanya Anggi yang ingin memastikan sesuatu.
"Iya."
"Sudah Mama duga, kau juga pasti menyukai apa yang berhubungan dengan Melati," ujar Anggi tanpa rasa bersalah.
"Mama! aku itu tulus suka pada kak Erick, dia itu pria tampan, baik, dan juga kaya! siapa coba yang tak jatuh hati padanya," tutur Agnez pada sang ibu.
"Melati! hanya dia yang tak suka pada Erick, buktinya gadis itu memilih Arnon kan?"
"Dia memang tak pantas bersama kak Erick, Ma! yang lebih pantas itu aku."
"Apa Erick tahu jika kau menyukainya?" tanya Anggi yang masih sibuk dengan kukunya.
"Kak Erick tahu dan sejak saat itu ia mulai menjauhi Melati! apa Mama tak bisa membaca maksud dari kak Erick, dia itu juga suka padaku, Ma!
Anggi tersenyum kecut mendengar ucapan anak perempuannya.
"Dasar anak bodoh! dia itu menjauhi Melati karena kau, Nez! ia tak ingin Melati berurusan denganmu," batin Anggi.
"Apa kau masih berniat untuk mengejarnya?" tanya Anggi pada putrinya.
"Ya maulah, Ma!"
"Minta bantuan pada Melati agar pria itu bisa datang ke rumah ini," pinta Anggi.
"Tidak mau! aku tak ingin dianggap lemah oleh Melati, pasti dia berpikir aku ini lemah," tolak Agnez.
"Terserah kau saja, jika kau tak ingin tahu perasaan Erick, ya sudah!"
"Ihhhh, aku sebenarnya tak ingin berurusan dengan gadis jelek itu! tapi demi kak Erick, aku harus bisa membujuk Melati," batin Agnez.
"Baiklah, Ma! aku akan menghubungi Melati, agar dia mau membawa kak Erick datang kemari."
Agnez menekan-nekan ponselnya.
Saat nama Melati sudah di sentuh untuk memanggil, akhirnya telepon darinya diangkat oleh si empunya nomor.
"Halo, Mel!"
"Siapa ini?" tanya orang di seberang ponsel Agnez.
"Ini nomor Melati, kan?" tanya Agnez gugup karena seorang pria yang menjawab panggilannya.
"Iya."
"Bisa bicara dengan, Melati?" tanya Agnez lagi.
"Ini siapa?" tanya pria itu yang tak lain adalah Arnon.
"Ini Agnez."
"Untuk apa kau menghubungi, Istriku?"
"Maaf, apa ini Arnon?" tanya Agnez dengan kedua telapak tangan mulai mengeluarkan keringat dingin.
"Iya."
"Begini, Adik Ipar! aku ingin meminta tolong pada Melati."
"Minta tolong apa?"
"Bisakah aku bicara langsung pada Adikku?" tanya Agnez berlagak akrab dengan Melati.
"Nanti saja! istriku sedang sibuk."
Tut tut tut tut
Panggilannya tiba-tiba di tutup oleh Arnon secara sepihak.
Agnez membelalakkan matanya. "Dasar pria sinting! aku hanya ingin berbicara dengan Melati, malah seenaknya saja di matikan," kesal Agnez yang mendaratkan bokongnya pada sofa dengan kasar.
Anggi melirik ke arah putrinya yang sedang kesal.
"Pasti Arnon sudah tahu perlakuan kita dulu pada, Melati! kau sendiri yang memberitahu, Mama! jika suami adik tirimu itu orang berpengaruh di negeri ini, bukan?" tanya Anggi.
"Kenapa aku tak berpikir kesana? sudah bisa di pastikan jika Arnon tahu masa lalu Melati," gumam Agnez yang mulai gusar.
"Kau tenang saja, Sayang! kita berpura-pura baik saja jika di hadapan Arnon, jangan sampai pria itu curiga jika kita masih tetap membenci gadis itu."
"Mama betul sekali! kita harus membuat Arnon tak curiga dan mengira kita sudah berubah, dengan begitu kita bisa meminta Melati untuk membawa kak Erick kemari." Agnez tersenyum kegirangan.
Sementara di rumah keluarga Gafin, Arnon tengah menatap ponsel Melati dengan kesal.
"Untuk apa perempuan tak tahu diri ini menghubungi, Istriku?"
"Siapa, Sayang?" tanya Melati membawa beberapa cake buatan ibu mertuanya.
"Tadi kakakmu yang jahat itu menelepon," jelas Arnon masih dengan raut wajah kesalnya.
Melati mendekati Arnon dan duduk tepat di pangkuan suaminya. Gadis itu ingin menetralkan emosi yang nampak terlihat di wajahnya.
"Memang apa yang kak Agnez katakan sampai kau kesal begini?" tanya Melati mengalungkan kedua tangannya pada leher Arnon.
"Astaga! kenapa Melati harus duduk di pangkuanku? apa dia tak tahu jika titik sensitifku berada tepat di bawah tempat yang ia duduki?"
"Kenapa diam saja! apa yang kak Agnez katakan padamu, Suamiku?"
Arnon melingkarkan tangannya pada pinggang Melati.
"Aku tak bisa berkonsentrasi jika kau terus berada di atas pangkuanku," tutur Arnon menatap lekat wajah Melati.
Melati pindah tempat dan duduk tepat di samping Arnon.
"Lebih baik aku mengalah saja dulu, daripada aku menjadi santapannya saat ini juga ... bisa habis aku," pikir Melati yang tak ingin di latih oleh Arnon.
Melati memeluk tubuh Arnon meletakkan kepalanya pada dada sang suami.
"Jadi apa yang kak Agnez katakan padamu?" tanya Melati lagi.
"Dia bilang, ingin berbicara padamu dan aku mengatakan padanya nanti saja," jelas Arnon membalas pelukan Melati.
"Mana ponselku?"
Arnon memberikan ponsel Melati pada pemiliknya.
Gadis itu menekan nomor panggil terakhir yang menghubungi nomornya, karena Melati tak menyimpan nomor Agnez.
"Halo, Kak?"
"Halo, Melati! apa kau bisa membantuku?" tanya Agnez dengan suara lembut.
"Setan apa yang merasuki orang ini? ada angin apa dia sampai sebaik ini padaku?" otak Melati mulai berpikir keras.
"Membantu apa kak?" tanya Melati.
"Apa kau bisa membawa kak Erick kemari? kau tahu sendiri bukan, jika aku sangat suka dengannya sejak kita kuliah."
"Sudah kuduga, orang ini pasti ada maunya bersikap baik padaku."
"Tapi aku tak punya kontaknya untuk menghubungi dia?"
"Kau kan punya suami yang bisa melakukan apa saja, Mel! aku mohon bantu aku ya? aku ingin mengutarakan perasaanku pada kak Erick."
"Baiklah, nanti aku akan menghubungi, Kak Agnez lagi jika Suamiku mau membantumu."
Melati menutup panggilannya menatap ke arah Arnon yang juga menatapnya.
"Kenapa?" tanya Arnon datar.
"Duh, sepertinya Arnon sudah bisa membaca isi dari otakku ini."
"Apa boleh aku meminta bantuanmu?" tanya Melati ragu-ragu.
"Bantuan apa?"
"Aku ingin membantu kak Agnez agar Kak Erick bisa datang ke rumah, karena kak Agnez ingin mengungkap perasaannya pada Kak Erick," jelas Melati panjang lebar agar hati Arnon luluh.
"Agnez suka pada Erick? oh, aku paham sekarang! Erick tak mengutarakan cintanya pada Melati pasti karena ia tahu Agnez suka padanya, sehingga pria itu lebih memilih melindungi Melati daripada membuat orang yang ia cintai dalam bahaya."
"Baiklah, Sayang! aku akan membantu Kakak Ipar," ujar Arnon tersenyum simpul.
"Terimakasih, Sayang!" Melati memeluk tubuh Arnon.
"Jalan satu-satunya agar pria itu tak mendekati istriku adalah, aku harus membuatnya dekat dengan Agnez."
"Nanti malam kita akan ke rumah, Papa! aku akan meminta Erick untuk datang ke sana," tutur Arnon pada sang istri.
Melati tersenyum sambil mengeratkan pelukannya pada Arnon.
"Coba kau lihat nomor kontak baru di ponselmu yang berada pada baris paling atas," pinta Arnon.
Melati langsung melihat ponselnya. Gadis itu terkejut melihat nama yang tertera pada nomor baru di ponselnya.
Melati melirik Arnon dan pria itu juga tengah meliriknya dengan senyum tipis.
"Terimakasih! aku sampai lupa jika kita tak pernah bertukar nomor telepon," tutur Melati.
Ya, mereka berdua dari awal menikah sampai hari ini tak pernah bertukar nomor telepon.
Malam pun tiba. Melati dan Arnon sudah berangkat ke rumah Hadi.
Arnon tahu, jika tak ada embel-embel nama Melati, Erick tak akan datang memenuhi undangannya.
Arnon dan Melati sudah tiba di rumah Hadi. Melati sebelum itu juga telah memberitahu Agnez, jika malam ini ia dan suaminya akan makan malam di rumahnya. Tak lupa Melati juga memberitahu pada kakak tirinya itu jika Erick juga akan datang.
Anggi dan Agnez menyambut ke datangan Melati dan suaminya.
"Kalian sudah datang ya? ayo masuk!" Anggi menebar senyum palsunya.
Berbeda dengan Agnez yang memang tulus menebar senyumannya karena ia sebentar lagi akan bertemu dengan pria yang lama sudah ia cintai.
Mereka semua masuk dan duduk di ruang tamu sembari menunggu Erick datang.
Kebetulan selama satu bulan ini, Hadi tak ada di rumah. Ia harus pergi keluar kota untuk mengurus proyek barunya.
"Papa kemana, Ma?" tanya Melati pada ibu tirinya.
"Papa ada di luar kota sekarang, baru kemarin berangkat," jelas Anggi dengan nada lembut tak sekasar seperti biasanya.
"Kenapa dengan, Mama? apa dia kerasukan sesuatu? tumben sekali baiknya minta ampun begini," pikir Melati.
"Selamat malam!"
Suara seorang pria dari arah pintu masuk rumah itu terdengar.
Semua orang yang ada di ruang tamu menoleh ke arah sumber suara. Pria yang datang adalah Erick.
Mata Agnez tak berkedip sedikitpun dengan mulut yang masih setia menganga.
"Astaga! kenapa kak Erick semakin tampan saja," batin Agnez.
Anggi menepuk pundak putrinya yang diam saja tanpa menghampiri Erick.
Sontak Agnez terkesiap saat tangan Anggi menepuk pundaknya begitu keras.
Tanpa pikir panjang, Agnez mendekati Erick yang masih berada di ambang pintu masuk.
"Kak Erick! masih ingat aku tidak?" tanya Agnez sedikit membusungkan dadanya.
"Iya aku ingat! Agnez kan?"
"Iya, Kak!"
Erick tersenyum membalas sahutan Agnez.
Wanita itu tanpa ragu menggandeng tangan Erick di depan semua orang.
Erick merasa tak nyaman dengan perlakuan agresif Agnez yang terkesan seperti wanita bar-bar.
"Wanita ini tak berubah! malah semakin menjadi saja tingkahnya," batin Erick.
Erick duduk di single sofa, sementara Arnon dan Melati duduk di satu sofa yang sama hanya muat untuk dua orang.
Anggi dan Agnez duduk di sofa yang berukuran cukup panjang.
Agnez berjalan menuju dapur mengambil beberapa camilan dan minuman untuk para tamunya.
"Akhirnya kak Erick datang ke rumah juga," gumam Agnez sambil meletakkan minuman di atas nampan.
Agnez membawa nampan itu ke ruang tamu dan meletakkan semua makanan dan minuman di atas meja.
Saat giliran meletakkan minuman di depan Erick, Agnez kembali membusungkan dadanya sambil tersenyum menggoda.
Erick tersenyum kecil menanggapi senyum maut Agnez.
"Apa mau wanita ini? tidak bisakah dia biasa saja meletakkan minumannya tanpa harus berlebihan seperti itu," batin Erick yang mulai risih dengan kelakuan Agnez.
Erick melihat semua tubuh Agnez dari ujung kaki sampai rambut. Satu kata yang muncul dalam benaknya adalah berlebihan.
Gaun berwarna merah maroon yang sangat ketat bahkan baju bagian belahan dadanya juga terlalu berlebihan menurut Erick.
Pria itu seperti enggan untuk berdekatan dengan Agnez yang terlalu blak-blakkan baginya.
Sementara Arnon melihat raut wajah Erick yang sangat menyedihkan dan pria itu tertawa dalam hati.
"Hahahaha! rasakan kau, Bocah! salah siapa berani mengusik ketenangan istriku! mungkin dulu kau masih berhak mempertahankan rasa cintamu pada Melati, tapi sekarang sudah tak boleh lagi karena aku akan melindungi Istriku dari serigala berbulu domba sepertimu itu."
Tatapan mata Erick beralih pada Melati. Gadis itu memakai baju apapun tetap cantik, karena apa yang ia pakai masih sopan di lihat oleh orang.
Dress selutut dengan motif etnik yang menambah kesan elegan pada kulit eksotisnya. Tanpa harus dengan berpakaian seksi atau ketat. Kecantikan Melati selalu terpancar indah di mata Erick.
Arnon mulai menyorot kedua mata Erick yang tak henti-hentinya menatap wajah istrinya.
Entah bisikan darimana, Erick tanpa sengaja menatap ke arah Arnon dan tatapan elang keduanya mulai tak terelakkan lagi.
Raut wajah Erick memang datar, namun penuh intimidasi, sedangkan Arnon hanya menyeringai membalas tatapan dingin Erick padanya.
"Kak Erick! apa boleh aku meminta nomor ponsel, Kakak?" tanya Agnez.
"Oh, tentu saja boleh!"
Agnez memberikan ponselnya pada Erick dan pria itu mulai mencatat nomornya pada ponsel Agnez.
"Ayo kita makan dulu! nanti makanannya dingin," pinta Anggi pada semuanya.
Semua orang berjalan ke arah meja makan. Arnon dan Melati berjalan memimpin di depan, sedangkan Erick berada tepat di belakang mereka berdua.
"Seharusnya aku yang berada di sampingmu saat ini, Mel! bukan pria itu."
Erick sudah mencari tahu tentang hubungan Arnon dan Melati sebelumnya.
Nyalinya pertama memang menciut saat tahu jika Melati sudah menikah, namun saat ia menyelidiki tentang pernikahan Melati, jiwa ingin memiliki gadis itu kembali bangkit saat mengetahui Arnon tak pernah mencintai Melati dan pernikahan mereka hanya didasari oleh perjodohan orang tua keduanya.
Agnez sengaja memegang lengan Erick saat pria itu sedang asyik-asyiknya berkhayal.
"Kak Erick! Kakak sudah punya pacar belum?" tanya Agnez manja.
"Belum."
"Ini kesempatan yang bagus bagiku! aku harus bisa mendapatkan, Kak Erick!"
Mereka semua sudah berada di meja makan. Arnon dan Melati duduk berdampingan, sedangkan Erick duduk tepat berhadapan dengan Melati. Agnez duduk di samping Erick dan Anggi berada di kursi dekat dengan Agnez.
"Ayo silahkan di makan!" Anggi yang mengambil makanan terlebih dulu sebagai tanda jamuan makan malam ini sudah berlangsung.
"Oh, iya! aku mengajakmu makan malam disini, ingin memperkenalkan keluarga baruku sekaligus bernostalgia dengan para juniormu," sindir Arnon.
Hanya senyuman terpaksa yang terukir dari bibir Erick.
Setelah beberapa menit, acara makan malam selesai. Agnez dan Melati membawa beberapa piring dan gelas kotor ke dapur.
Ponsel Arnon berbunyi. Pria itu lebih dulu kembali ke ruang tamu, sedangkan Erick masih tetap berada di kursinya.
Melati kembali seorang diri dari arah dapur. Agnez masih meletakkan piring kotor, sedangkan Anggi ke kamar mandi.
Melati masih membereskan sisa makanan dan akan membawanya ke dapur.
"Mau aku bantu, Mel?" tanya Erick pada Melati.
"Tidak perlu, Kak! aku bisa sendiri," tolak Melati halus.
Mata Erick tak sengaja melihat ke arah rambut Melati yang terdapat sesuatu menyangkut di sana.
"Diam, Mel! ada sesuatu di rambutmu," ujar Erick mendekati Melati mengambil sesuatu yang menempel pada rambutnya.
Posisi keduanya seperti sedang berciuman, padahal tidak. Saat posisi itu masih berlangsung, Agnez dan Anggi berjalan menuju meja makan.
Seketika wajah keduanya terkejut, kemudian berganti penuh amarah yang sangat luar biasa.
Agnez tanpa pikir panjang mendekati keduanya menarik lengan Melati kasar.
"Kau benar-benar tak tahu diri ya! kau itu sudah bersuami, tapi lagakmu itu bagai pelakor yang suka menggoda milik orang lain," bentak Agnez yang menggelegar seisi ruangan.
"Maksud Kakak ap ...."
PLAKK
Suara tamparan menggema di ruang makan itu. Erick begitu terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Agnez.
"Agnez! apa yang kau lakukan," bentak Erick pada Agnez.
"Dia itu wanita penggoda, Kak! sudah punya suami tapi masih saja berusaha tebar pesona pada pria lain," ucap Agnez penuh emosi.
Melati memegangi pipinya yang terasa panas karena tamparan Agnez cukup keras mengenai pipinya.
"Memang tak seharusnya kami baik padamu! kau itu memang orang yang tak tahu di untung! kau tak ada balas budi padaku yang sudah membesarkanmu ini!" Anggi mulai ikut andil memarahi Melati.
"Kau tahu bukan jika Agnez menyukai, Erick! tapi kau malah menggodanya! dasar perempuan perebut ...."
"Cukup, Ma! cukup!" Melati mulai mengeluarkan emosinya yang sedari tadi ia tahan.
"Aku dan Kak Erick tak melakukan apapun," kilah Melati yang memang tak melakukan apapun dengan seniornya itu.
"Kau masih berkilah rupanya ya!" Anggi mengangkat tangannya hendak melayangkan tamparan pada pipi Melati namun suara bariton penuh emosi mengurungkan niatnya.
"Hentikan!"
Pria itu berjalan menuju ke arah Melati membawa istrinya ke dalam pelukannya.
"Batas kesabaranku sudah habis! kalian semakin lama semakin tak tahu di untung rupanya ya? mulai hari ini kalian harus membayar sewa jika masih ingin tinggal di rumah ini, jika kalian berdua tak mau ... kalian keluar dari rumah ini!"
Emosi Arnon sudah tak bisa di bendung lagi melihat istrinya di perlakukan tak adil oleh kedua manusia tak tahu diri itu.
"Kau tak bisa seenaknya melakukan ini pada kami! rumah ini sudah menjadi milik kami," tolak Anggi yang masih tak mau mengindahkan permintaan Arnon.
"Hahahaha! wahai Mama mertua yang baik! rumah ini bukan atas namamu, melainkan atas nama Papa Hadi, jadi kau bisa kapan saja di tendang jauh-jauh dari sini," ujar Arnon lagi.
Anggi dan Agnez diam dengan tubuh membatu.
"Jangan kira aku dan Papa tak tahu perlakuan kalian pada, Melati! sudah cukup ketidak adilan berlangsung di keluarga ini." Arnon membawa Melati menuju mobil.
Namun saat mereka berdua masih belum terlalu jauh dari Anggi dan Agnez, Arnon mengehentikan langkahnya.
"Jangan lupa! uang sewa kalian, berikan pada, Papa! agar uang itu di donasikan untuk panti asuhan."
Arnon kembali melanjutkan jalannya dengan posisi masih mendekap istrinya.