Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 212 ( Season 2 )


Zinnia sudah berada di dapur untuk menyiapkan bekal makan siang suaminya. Hari ini Zinnia sengaja tak mengantar makan siang itu karena ia akan ada pertemuan dengan pihak agensi yang akan mengkolaborasikan rancangannya dan Marquez.


Sarapan William sudah siap di meja makan. Seperti biasa pula sarapan Dokter tampan itu hanya roti dan selesai kacang kesukaannya beserta segelas susu hangat.


Tak tak tak


Suara sepatu William terdengar oleh Zinnia. Gadis yang sebentar lagi akan berubah gelar menjadi wanita itu sedang berada di meja bar menyusun bekal makan siang William.


Setelah selesai, Zinnia langsung berjalan ke arah meja makan dengan tas bekal yang ia tenteng di tangannya.


Dari jarak yang cukup jauh, Zinnia sudah bisa mencium wangi tubuh suaminya. Zinnia langsung meletakkan tas bekal makan siang William di atas meja makan. Gadis itu berlari berhambur memeluk William.


William dengan senang hati menerima istrinya dalam pelukannya.


"Kenapa tiba-tiba main peluk seperti ini? apa kau sudah jatuh cinta tingkat akut padaku," ledek William pada istrinya.


Zinnia menatap wajah William. "Sepertinya memang iya! karena aku selalu ingin memelukmu seperti ini," jelas Zinnia tersenyum manis pada William.


"Kapan kau akan berangkat?" tanya William sambil mengusap punggung istrinya.


"Sepertinya aku akan berangkat nanti jam 10 saja karena pertemuannya sekitar jam setengah 11."


"Semoga pekerjaanmu berjalan lancar ya, Sayang!"


"Terimakasih, Suamiku!"


Cup


Zinnia tersenyum setelah berhasil mendaratkan bibirnya pada bibir William. "Morning kiss, Hubby!"


Cup


Tanpa diduga oleh Zinnia, William membalas kecupannya pagi ini.


"Morning kiss, My Wife!"


Keduanya saling berpelukan melimpahkan rasa kasih sayang yang sangat tulus.


Asih yang berada tak jauh dari jarak mereka melihat kenyataan indah sudah datang pada kehidupan bocah kecil yang dulunya sering ia suapi.


"Semoga kebahagiaan kalian berdua selalu terjaga baik sekarang dan selamanya," gumam Asih.


William dan Zinnia berjalan ke arah meja makan untuk sarapan.


Setelah beberapa menit, akhirnya sarapan mereka sudah selesai dan William akan berangkat ke rumah sakit.


"Aku berangkat dulu ya, Sayang!" William menyentuh dua pundak Zinnia mencium kening istrinya lembut.


Gadis itu memejamkan matanya menikmati ciuman bibir William pada keningnya.


"Hati-hati di jalan ya!" Zinnia tersenyum pada William. Gadis itu melihat kacamata William yang menyembul pada bagian saku kemejanya.


Zinnia mengambil kacamata itu dan memakaikannya. "Begini baru lebih tampan," tutur Zinnia sambil melipat kedua tangannya di dada.


William tersenyum. "Apa kau tak takut jika ada wanita yang mencoba menggodaku jika aku berpenampilan setampan ini?" tanya William menggoda balik istrinya.


"Aku sudah tahu jika para wanita yang melihatmu pasti akan jatuh cinta padamu, tapi aku juga tahu, hanya aku perempuan yang ada di dalam sini," ucap Zinnia sambil menunjuk dada William.


"Kau benar, Sayang! hanya kau yang ada di hatiku. Aku berangkat dulu ya! aku mencintaimu."


"Aku juga mencintaimu, Sayang!"


William melangkah keluar dari rumah itu menuju halaman depan. Saat William sudah sampai di tempat tujuan, ternyata Asih sudah menunggunya di sana.


"Jangan lupa kabari aku segera, jika Nyonya sudah berangkat," titah William pada Asih.


"Baik, Tuan!"


"Apa semua yang aku perintahkan padamu untuk membeli perlengkapan penunjang sudah di beli?" tanya William.


"Sudah, Tuan! Kelopak bunga mawar merah, lampu kelap-kelip dan halaman belakang sudah saya perintahkan pada pelayan dan ahli dekorasi untuk mendekor taman belakang menjadi tempat makan malam yang indah," jelas Asih pada William.


"Bagus! jangan lupa! undang chef terbaik untuk menu makan malamnya."


"Baik, Tuan!"


Di tempat lain Marquez sudah berada di sebuah hotel. Pria itu tidur dalam posisi terlentang dengan kedua matanya menatap langit-langit kamar hotelnya.


"Hari ini aku akan bertemu langsung denganmu, Zi! apa kau masih ingat denganku atau tidak?"


Marquez memejamkan matanya. "Aku ingin tahu bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya pada Pria itu, jika kau memang tak mencintainya, aku akan maju! tapi jika kau mencintai dia, aku akan tetap menjagamu dari belakang sebagai orang yang pernah mencintaimu."


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Zinnia sudah selesai dengan ritual bersoleknya. Gadis itu memakai lose pant di padu padankan dengan atasan berlengan balon.


Tak tak tak


Suara hak sepatu Zinnia terdengar di ruang tamu rumahnya. Gadis itu berpapasan dengan Asih. "Aku akan pergi ke restoran, hanya sebentar saja," tutur Zinnia pada Asih.


"Baik, Nyonya!"


Saat kaki Zinnia hendak melangkah lagi, tiba-tiba ponselnya berbunyi.


"Halo, mom!"


"Kau ada dimana, Sayang?"


"Aku ada di rumah, tapi aku sekarang akan pergi ke restoran untuk urusan pekerjaan."


"Setelah pulang dari restoran, apa kau bisa ke rumah?"


"Ada apa memangnya, mom?"


"Temani mommy jalan-jalan ke mall ya?"


Zinnia masih berpikir. Di restoran juga tak akan membutuhkan waktu lama untuk menandatangani kontrak kerjasama dengan pihak agensi.


"Baiklah! tapi sebentar saja ya, mom! karena aku kasihan pada suamiku jika dia pulang aku tak ada di rumah."


"Wah, ada yang sudah lengket nih!"


"Ah, mommy jangan meledekku!"


"Ya sudah! mommy tutup dulu ya, Nak!"


Panggilan di tutup oleh Melati dan Zinnia langsung memasukkan ponselnya ke dalam tasnya kembali.


Gadis itu berjalan ke arah mobil yang sudah menunggunya di halaman depan.


Zinnia sudah berada di depan restoran seafood. Gadis itu dan Asistennya mencari keberadaan Marquez dan pihak agensi yang akan bekerjasama.


Sandra melihat Marquez dan pihak agensi duduk di sebuah meja dekat dengan mereka.


"Mereka ada di meja itu, Nona!" Sandra menunjuk sebuah meja dengan dua orang pria yang sedang asyik bercengkrama.


Zinnia dan Sandra berjalan menghampiri meja Marquez.


"Maaf, saya terlambat," sesal Zinnia sambil menundukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, Nona!"


Mereka menggunakan bahasa Indonesia karena dari pihak agensi dan Marquez mengerti bahasa Indonesia.


Zinnia duduk di sebuah kursi yang memang sudah tersedia untuknya.


William yang tadinya berada di rumah sakit, kini pria itu sudah berada di rumahnya.


William sengaja meminta bantuan mertua perempuannya untuk memuluskan rencanakan malam ini. Ia sengaja meminta Melati untuk menghambat kepulangan Zinnia ke rumah.


William memberitahu mertua perempuannya nanti malam ia ingin memberikan kejutan makan malam yang romantis untuk Zinnia.


William tak mengatakan hal yang sebenarnya jika ia ingin membuat malam pertama yang romantis dengan Zinnia karena jika ia mengatakan hal itu pada Melati, pasti ibu mertuanya itu akan menertawakannya karena William belum juga membobol gawang sang istri.


"Aku akan membuat malammu hari ini menjadi malam terindah untukmu, Sayang!"


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰