Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 260 ( Season 2 )


Marquez membaringkan tubuhnya di atas ranjang dengan wajah lesu tak bersemangat. Desainer tampan itu memiringkan tubuhnya menatap ke arah dinding dimana kekasihnya berada di seberang dinding itu.


Marquez berjalan ke arah dinding tersebut dengan cepat dan menempelkan telinganya pada dinding dengan ketebalan maksimal.


"Kenapa suara Sandra tak bisa aku dengar?" tanya Marquez pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba di dalam kepala Marquez muncul sebuah kata yaitu " BODOH ".


"Bodoh? ... astaga! kenapa aku bisa jadi bodoh seperti ini? sudah tahu ini dinding kamar hotel kedap suara, karena aku ingin bertemu dengannya aku menjadi pria yang tak waras," umpatnya pada diri sendiri.


Ponsel Marquez berbunyi. Wajah pria itu sangat gembira karena ia mengira jika yang menghubunginya adalah Sandra, ternyata bukan.


Saat melihat nama yang tercantum di layar ponselnya, wajah Marquez mendadak berubah asam. "Pasti dia ingin meledekku lagi," sangka Marquez pada suami Zinnia.


Akhirnya panggilan dari William terputus dan senyum penuh kemenangan terpancar di bibir Marquez. "Rasakan kau, Will! enak saja aku yang selalu kau kerjai! huh, rasakan pembalasanku, Pak Dokter jahil!"


Marquez sudah senang bukan main namun, saat ponselnya berdenting dengan pertanda pesan masuk, Marquez segera melihat notifikasi pesan itu dan lagi-lagi nama William yang muncul.


Karena penasaran dengan isinya, akhirnya Marquez membuka pesan dari William.


William


Jika kau tak mengangkat telepon dariku, makan informasi penting tentang Sandra aku anggap hangusπŸ˜›


Marquez yang melihat emoticon dari William berspekulasi jika suami Zinnia itu menipunya. "Pasti ini hanya akal-akalan William yang ingin mengerjaiku!"


Marquez hendak meletakkan ponselnya namun, notifikasi pesan masuk dari William kembali muncul.


William


Tak membalas pesanku, aku pastikan malam ini tak ada malam romantis yang akan terjadi untuk double date kita berempat 😏


Marquez dengan gesit membalas pesan dari William. Jari jemari kekar itu dengan lihai mengutak-atik ponselnya.


Marquez


Ada apa?


Marquez sengaja membalas pesan dari William singkat karena ia tak ingin William tahu jika dirinya ingin tahu apa rencana William dan Zinnia.


William


Cepat ganti baju! kita akan makan malam berempat.


Marquez masih diam belum membalas pesan dari William. "Ini kan masih jam ...."


Marquez melihat ke arah jam tangannya dan seketika ia mengumpat, "Bodoh kau, Marq! kita berangkat sore dan kau teringat jika kau pagi mengudara ke Australia, padahal tadi sore. Aku harus segera bersiap!"


Marquez segera berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Zinnia dan William sudah siap, si wanita dengan gaun cantik berwarna maroon dan si pria dengan setelah jas berwarna cream.


Perut Zinnia masih datar karena usia kehamilannya masih berjalan hampir dua bulan.


Sandra juga sudah siap dengan gaun birunya. Kini mereka bertiga hanya menunggu Marquez.


"Kemana dia?" tanya Zinnia pada Sandra dan asisten pribadianya itu menjawab, "Saya tidak tahu, Nona!"


"Kau kan pacarnya, San!" Zinnia kembali berucap ria.


"Tapi saya tidak bersamanya setiap saat, Nona!" Sandra menjawab dengan tegas dan tepat.


"Memang pria macam Marquez itu ...."


Seorang pria keluar dari kamar 113 dengan setelan jas berwarna hitam.


Semua orang yang tengah menunggunya menatap ke arah Marquez. "Ini yang jadi biang kerok! kita harus menunggu lama dan berdiri sampai kaki serasa akan berbuah semangka," cecar Zinnia sembari berbalik badan menarik tangan Sandra menuju arah tempat makan malam mereka.


Marquez yang baru keluar dari kamarnya hendak ingin memamerkan ketampanan yang ia miliki tertegun seketika saat ucapan Zinnia melayang masuk ke dalam telinganya.


William ingin tertawa berguling-guling di lantai karena sungguh nasib Marquez hari ini benar-benar kurang mujur. "Kenapa diam? ayo jalan," ujar William membuyarkan lamunan Marquez.


William dan Marquez berjalan dengan langkah stabil. "Apa semua wanita datang bulan hari ini? atau kerasukan roh nenek sihir yang benci denganku?" tanya Marquez pada William dan Dokter tampan itu melirik ke arah desainer yang terkenal selalu ceria. "Mereka mungkin sedang tak mood berbicara padamu saja," tutur William menenangkan rekan istrinya.


"Tapi kenapa harus padaku saja yang seperti itu? padamu saja tidak, semuanya ramah seperti biasa," celoteh Marquez yang sudah kesal bukan main.


"Itu berarti pesonaku lebih besar daripada dirimu, Tuan Copaldi!" William mulai meledek Marquez.


Pukulan kecil mendarat pada lengan kekar suami Zinnia itu.


"Rasakan itu! kau kira aku ini jelek apa!" Marquez sudah benar-benar kesal kali ini.


"Hanya bercanda, jangan dibuat serius! intinya kau harus tetap bersikap mesra pada pasanganmu dan hujani dia dengan kata-kata mesra yang penuh cinta," tutur William menasehati Marquez.


"Apa cara itu akan berhasil?" tanya Marquez lagi yang masih belum yakin akan saran dari William.


"Aku ini sudah berpengalaman meskipun usia pernikahanku dan Zinnia masih seumur kacang polong, aku menyarankan seperti itu padamu karena aku telah mempraktekkannya, Marq! dan cara itu paling ampuh membuat wanita takluk pada kita kaum pria."


Marquez masih berpikir. Hal romantis apa yang akan ia lakukan malam ini pada Sandra.


"Apa yang harus aku lakukan malam ini? aku tak membawa cincin bertahtakan berlian, Will!"


William hanya bisa geleng-geleng kelapa karena Marquez benar-benar tak mahir dalam urusan percintaan.


"Malam ini kau tak perlu menyediakan hal itu! cukup dengan kata-kata mesra saja, tapi besok malam saat kau mulai beraksi, kau bawa cincin bertahtakan berlian itu padanya! kau harus segera melamarnya, Marq!"


Marquez tak menyangka jika otak William benar-benar encer. "Kau hebat sekali, Will! aku tak pernah terpikirkan cara untuk membuat lamaran seperti yang kau pikirkan, ya meskipun aku sebenarnya sudah ada niatan seperti itu tapi semuanya sirna karena sikap Sandra tiba-tiba berubah cuek tingkat akut!"


"Intinya kau sekarang tak perlu banyak bicara! kau ikuti semua instruksi dariku," pinta William pada Marquez dan desainer tampan itu mengangguk patuh.


Kini mereka berempat sudah berada di satu meja makan yang sama. Mereka juga sudah asyik dengan makanan yang ada pada piring masing-masing.


Makan malam kali ini terlihat begitu romantis karena dilakukan di pinggir kolam renang dengan cahaya rembulan yang memantul pada air kolam membuat double date malam ini sangat sempurna. Apalagi taburan bunga mawar di kolam itu membuat nuansa manis semakin kental terasa.


William melihat ke arah Marquez dan desainer tampan itu juga melihat ke arahnya. William memberikan kode agar Marquez membersihkan sisa makanan yang berada pada sudut bibir Sandra.


Dengan sigap tangan Marquez terulur pada sudut bibir kekasihnya namun, sebelum tangan itu benar-benar sudah berada di sudut bibir Sandra, Marquez lebih dulu meminta izin. "Jangan tolak perbuatan baikku kali ini karena aku hanya ingin membersihkan sudut bibirmu," tutur Marquez lembut penuh kasih sayang.


Sandra mengangguk mengizinkan. Kini tangan Marquez mulai membersihkan sudut bibir kekasihnya sembari berkata, "Maafkan aku karena tak mengerti jika kau sedang dalam mood yang buruk dan aku berjanji selama kau masih tak ingin berbicara dengan siapapun aku tidak ...."


"Aku yang minta maaf karena aku seharusnya tak bersikap seperti itu padamu, Sayang!" Sandra memotong perkataan Marquez.


William tersenyum karena apa yang ia ajarkan pada Marquez benar-benar berguna.


Zinnia hanya sibuk dengan makanannya sembari sedikit menyaksikan kemesraan Marquez dan Asistennya.


Kini Sandra dan Marquez sudah kembali akur. Desainer ternama itu melirik ke arah William dengan jempol terangkat secara sembunyi-sembunyi di balik ketiaknya. William hanya bisa tersenyum menanggapinya.


Mereka berempat kini sudah selesai dengan acara makan malamnya. Zinnia dan William kembali lebih dulu ke kamar mereka karena William tak ingin istrinya berlama-lama di luar. Beruntung Zinnia memakai gaun super tertutup dan lebih tebal dari biasanya sehingga hawa dingin tak akan menusuk kulit mulus istrinya.


Sandra dan Marquez masih berada di pinggir kolam itu. Mereka masih menikmati cahaya lampu kecil yang begitu indah dengan bunga mawar bertebaran di kolam tersebut.


"Apa kau masih marah padaku?" tanya Marquez pada Sandra dan wanita itu menggelengkan kepalanya menandakan jika ia tak marah pada Marquez.


"Jika kau mengatakan dari awal kau dalam keadaan datang bulan, aku pasti akan memakluminya dan tak akan memaksamu untuk berduaan di kamar seperti tadi," sesal Marquez yang tak ingin itu terjadi lagi di dalam hubungan mereka berdua.


Sandra menoleh ke arah Marquez yang masih menatap ke arahnya. "Aku juga seharusnya tak bersikap seperti tadi, tapi emosiku tak terkontrol sampai aku seenaknya padamu," sesal Sandra juga.


Marquez tersenyum sembari menyentuh tangan Sandra dan menggenggam tangan itu erat. "Kita lupakan saja hal yang tak mengenakkan itu! karena aku hanya ingin hari-hari kita dilalui dengan kebahagiaan," ujar Marquez dengan wajah seriusnya dan Sandra lagi-lagi mengangguk mengiyakan permintaan kekasihnya.


"Aku mencintaimu, Sayang!" Marquez mengangkat tangan Sandra dan mengecup punggung tangan kekasihnya itu lembut.


Wajah Sandra sudah memerah karena perlakuan manis Marquez padanya.


"Jangan marah lagi ya?"


Wajah Sandra yang tertunduk ke bawah mulai terangkat ke atas menatap mata Marquez lekat. "Aku juga mencintaimu dan aku tak akan marah lagi," balas Sandra tersenyum manis pada kekasihnya.


Di dalam kamar Zinnia dan William, dua orang beda jenis itu tengah berbaring di tempat tidur. Zinnia sudah berada dalam dekapan suaminya. "Besok kau harus sarapan lebih dulu jangan terburu-buru untuk datang ke lokasi acara karena kesehatanmu dan anak kita itu lebih utama bagiku, Sayang!" William mengusap lembut rambut panjang Zinnia.


"Aku tahu, Sayang! kau tenang saja!"


William tersenyum sembari mengecup puncak kepala istrinya.


"Apa kau mau membantuku menyusun rencana untuk besok?" tanya William sembari memundurkan wajahnya menatap wajah sang istri. "Rencana apa?" tanya Zinnia bingung.


"Besok Marquez akan melamar, Sandra! dan aku ingin membantu acaranya berjalan dengan manis dan kau pasti tahu bagaimana cara membuat hati wanita meleleh kan?"


Zinnia hanya tersenyum menanggapi celotehan suaminya. "Bukan hanya aku yang tahu, justru kau yang lebih mahir dariku dan aku mendukung semua rencanamu itu, Sayang! karena Sandra sudah bagian dari keluarga kita juga, aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri," tutur Zinnia dan William mengangguk mengerti.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.