
Hari demi hari terus Melati lewati. Usia kandungannya kini mulai menginjak 5 bulan. Ia tetap melakukan aktivitas seperti biasanya. Semua itu ia lakukan agar nanti saat proses persalinan, Melati bisa melahirkan dengan gampang.
Melati memang bukan tipe gadis yang hanya bisa diam tanpa melakukan apa-apa. Ia lebih senang melakukan aktivitas seperti biasanya.
Tanda-tanda mengidam masih belum terasa oleh Melati. Mungkin janin yang berada di dalam perutnya mengerti jika sang ayah masih sibuk mengurus proyek filmnya.
Gadis itu juga tak mual-mual atau pusing. Kehamilan Melati memang di banggakan oleh para keluarga dan pelayanan karena janin penerus keluarga Gafin itu tak rewel berada di dalam rahim ibunya.
Susan selalu memanjakan Melati. Ia yang paling tak ingin Melati lelah sedikitpun, meskipun sang menantu yang mencuri-curi pekerjaan agar bisa beraktivitas seperti biasa kala mertuanya sudah berangkat mengurus butiknya.
Melati jarang mengunjungi ayahnya karena ia takut terjadi sesuatu pada janin yang dikandungnya jika terlalu sering menaiki kendaraan.
Gadis itu akan keluar rumah jika memang ia pikir itu perlu.
Hadi dan Agnez yang sekarang lebih sering datang ke rumah Arnon untuk melihat keadaan Melati.
Kisah cinta Agnez dan Pram juga masih sama seperti biasanya. Masih seperti kucing dan tikus yang saling serang.
Kisah keduanya belum ada perkembangan karena pria itu juga sibuk dengan jam terbang Arnon yang sangat padat. Jadi sebagai Asisten profesional, ia harus bekerja sungguh-sungguh tanpa memikirkan urusan pribadinya.
Agnez juga sangat sibuk dengan toko bunganya yang semakin hari semakin ramai.
Gadis dengan perut yang mulai membuncit terlihat tengah menyiram tanamannya yang berada di halaman belakang.
Melati memang setiap pagi selalu menyempatkan menyiram semua tanaman itu sendiri, agar dirinya sekalian bisa berjemur.
Untuk sore hari, Melati tak terlalu mengambil alih mengurus tanaman, karena semenjak perutnya membuncit dan kandungan juga bertambah bulan membuatnya sering merasa lelah.
Melati sedang menonton acara kuliner di sebuah stasiun TV. Acara itu menyuguhkan jajanan tradisional khas Indonesia dari berbagai daerah.
Awalnya Melati tenang-tenang saja saat melihat klepon, serabi dan jajanan lainnya, namun saat kue cucur melintas di layar TV LED itu. Melati menelan ludahnya dalam-dalam.
"Kenapa aku ingin sekali makan kue itu," gumam Melati sembari menyantap kentang goreng yang ia buat sendiri.
Kepala pelayan Mirna selalu setia mendampingi Melati. Ia memang di tugasnya untuk menjaga Melati saat Susan tahu jika menantunya tengah mengandung sang cucu.
"Ada apa, Nona?" tanya Mirna pada Melati.
"Apa ada yang bisa membuat kue cucur gula merah disini?" tanya Melati menoleh ke arah Mirna yang berada tepat di sampingnya tengah berdiri.
"Apa anda ingin makan jajanan itu?" tanya balik Mirna.
"Iya!"
"Saya akan meminta pelayan untuk membeli di toko yang khusus membuat jajanan tradisional itu, Nona!" ujar Mirna pada Melati.
"Aku tidak mau! aku ingin melihat proses pembuatannya secara langsung dan memakannya saat jajanan itu masih panas hampir hangat," jelas Melati.
"Tapi disini tak ada yang tahu membuat kue cucur, Nona!"
Perasaan Melati kesal dan ingin sekali marah saat Mirna mengatakan jika di rumah itu tak ada yang bisa membuat makanan yang ia inginkan.
Gadis itu melangkah ke arah kamarnya dengan wajah kesal.
Mirna cepat tanggap akan hal itu. Ia langsung menghubungi Susan.
"Ada apa, Mirna?"
"Nona muda ingin makan kue cucur, Nyonya!"
"Kau tinggal belikan saja di toko jajanan tradisional."
"Tapi, Nona muda ingin melihat secara langsung proses pembuatannya dan memakannya saat masih panas hampir hangat, Nyonya!"
"Hahahaha! nampaknya menantuku sedang mengidam! aku akan segera pulang, Mirna!"
Suara panggilan terputus. Mirna menghubungi Asisten Pram.
"Ya, Kepala Pelayan Mirna!"
"Tolong beritahu, Tuan muda! Nona saat ini tengah merajuk karena menginginkan kue cucur."
"Baik! saya sudah dalam perjalanan pulang, Kepala Pelayan Mirna!"
"Baik, Asisten Pram!"
Arnon yang sedari tadi mendengarkan obrolan Pram dan Mirna lewat telepon memilih bertanya pada Asistennya.
"Ada apa, Pram? kenapa kepala pelayan Mirna sampai menghubungimu?"
"Nona muda ingin kue cucur, Tuan! sekarang istri anda sedang merajuk," jelas Pram pada Arnon.
"Lebih cepat lagi, Pram! dia pasti sedang sedih sendirian di dalam kamar."
Pram melakukan apa yang di perintahkan oleh Arnon. Ia menekan pedal gas nya dalam-dalam.
20 menit kemudian, akhirnya Pram dan Arnon sudah berada di depan halaman rumah keluarga Gafin.
Arnon berlari menuju kamarnya. Ternyata di depan kamar sudah ada ibunya dan Mirna yang mengetuk pintu kamarnya.
"Bagaimana, Mom? apa Melati sudah mau membuka pintunya?" tanya Arnon cemas.
"Belum, Nak! Melati masih tetap di dalam dan dia tak mau membuka pintunya dari tadi," ujar Susan yang sudah sangat cemas dengan keadaan Melati.
"Kepala pelayan Mirna! tolong ambil kunci cadangan kamar saya," titah Arnon pada Mirna.
Mirna langsung berjalan mengambil kunci cadangan kamar Arnon. Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Mirna datang. "Ini kuncinya, Tuan muda," ujar Mirna sembari memberikan kunci cadangan kamar Arnon.
Pria itu menerima kuncinya dan membuka pintu kamarnya. Untuk saja Melati hanya mengunci kamarnya dengan kunci biasa tak menguncinya dari dalam.
Ceklek
Suara pintu kamar itu terbuka. Arnon tak melihat keberadaan gadis cantik dengan perut yang mulai membuncit itu.
Arnon mencari keberadaan istrinya, sampai pada bagian jendela kamar yang terbuka, pria itu melihat seorang gadis tengah menatap ke arah luar kamar dengan posisi tubuh agak miring, sehingga perut buncitnya terlihat sangat nyata di mata Arnon.
Pria itu mendekati istrinya. Menyentuh perut Melati yang sudah terlihat membesar karena calon anaknya berada dalam rahim Melati.
Arnon mengusap-usap perut Melati lembut. Gadis itu menoleh ke arah Arnon.
Tanpa banyak bicara, Melati langsung memeluk tubuh Arnon erat diiringi suara isak tangis yang terdengar tertahan.
"Kau kenapa, Sayang?" tanya Arnon berpura-pura tak tahu.
"Aku ingin makan kue cucur gula merah, Sayang! aku ingin sekali makan itu, tapi di rumah ini tak ada yang bisa membuat makanan itu," tutur Melati sembari sesegukan.
"Kau bisa beli di toko yang menjual jajanan tradisional kan, Sayang! apa perlu kita pergi sekarang juga?" tanya Arnon membalas pelukan istrinya.
"Aku tidak mau beli dari toko, Sayang! aku ingin melihat proses pembuatannya dan memakannya saat masih panas hampir hangat."
"Apa ini kemauan anak kita?" tanya Arnon menengadahkan wajah istrinya sembari mengusap air mata Melati.
"Aku tidak tahu, yang jelas aku tak ingin membeli kue cucur itu dari toko."
"Jika tak ada yang bisa membuat kue itu bagaimana?" tanya Arnon yang ingin tahu reaksi Melati.
"Kau jahat, Sayang! aku hanya ingin makan kue cucur yang langsung di buat sendiri, hiks hiks hiks."
"Cup cup cup, Sayang! maaf ya? nanti aku akan mencari tahu siapa yang bisa membuat kue cucur itu."
"Janji," ujar Melati menatap kedua mata suaminya.
"Janji, Sayang! demi anak dan istriku! apapun akan aku lakukan." Mencium kening Melati lama.
Keduanya saling memeluk satu sama lain. Senyum keduanya juga tak luntur.
Arnon harus ekstra sabar menghadapi istrinya yang mungkin dalam fase mengidam dan ia harus menuruti semua kemauan istrinya demi anak yang ada dalam rahim Melati.
Meskipun Arnon sibuk, ia tetap meluangkan waktu untuk istrinya. Karena pada masa-masa hamil, seorang suami harus siap siaga ada untuk sang istri.
Arnon mungkin tak bisa 24 jam bersama Melati, namun ia bisa membagi waktu meskipun pekerjaan yang harus ia selesaikan juga masih menunggunya.
Beruntung syuting filmnya sudah tinggal satu Minggu lagi, jadi dia bisa mempersiapkan kejutan untuk sang istri yang sudah ia susun rapi bersama Asistennya.
Kejutan itu ia berikan pada Melati sebagai tanda terimakasih pada Istrinya karena telah memberikan dia anak dan sebagai awal mula kehidupan keduanya.
Kejutan itu ia persiapkan kurang lebih enam bulan. Semua itu sudah ia rencanakan saat awal pengungkapan perasaannya pada Melati. Saat itu juga ia yakin, untuk mempersiapkan hadiah untuk istrinya.