Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 286 ( Season 2 )


Melati dan Arnon berada dalam satu mobil sementara William berada di mobil yang berbeda.


Mobil yang William naiki berada di depan mobil Arnon dan Melati.


Mobil William berhenti di sebuah supermarket.


Melati dan Arnon melihat William keluar dari mobilnya menuju arah supermarket tersebut. "William mau apa ya, Sayang!" tanya Melati pada suaminya.


"Mana aku tahu, Sayang!"


Melati menatap kesal ke arah Arnon. "Kau ini! jangan terlalu menakutkan jadi mertua! bisa-bisa kau di cap mertua galak tapi takut istri," cecar Melati yang kesal pada suaminya.


Saat mulut Arnon hendak terbuka untuk menanggapi ucapan sang istri, tiba-tiba William mengetuk kaca mobil tepat di bagian sisi Melati duduk.


Spontan Melati menurunkan kaca mobilnya. "Ada apa, Will?" tanya Melati pada menantunya.


"Mommy bisa membantuku memilih Durian? karena Zinnia ingin serabi dengan topping durian," jelas William pada mertuanya.


"Bisa, Nak!"


Melati hendak keluar dari mobil itu namun, Arnon berceloteh seenaknya. "Kau bukan anak TK lagi, William! kau itu sebentar lagi akan menjadi seorang ayah dan memilih Durian saja tak tahu."


Melati memukul lengan suaminya. "Jangan selalu menganggu menantu kita! dia itu tak pernah berbelanja hal seperti itu jadi kau harus memakluminya, Sayang!"


Arnon hanya mencebik kesal dan wajah William terlihat tak enak hati pada mertuanya. "Maafkan aku selalu merepotkan, Mommy dan Daddy!"


"Jangan dengarkan mulut kaleng rombeng mertua laki-lakimu ini, Nak! dia masih masa pubertas," ledek Melati turun dari mobilnya berjalan ke arah supermarket, sementara William menunggu di luar.


Arnon masih berkomat-kamit tak karuan. "Melati pikir aku ini masih bocah apa? masa pubertasku sudah lewat, bahkan sekarang sudah memiliki dua buntut," gumam Arnon kesal.


Setelah Durian kualitas super sudah Melati beli, akhirnya kedua mobil mewah itu melaju kembali ke jalan raya berjalan menuju arah rumah William.


Di dalam rumahnya, Zinnia tengah menunggu kedatangan suaminya yang masih belum pulang.


"Biasanya jam segini sudah pulang! kenapa belum juga pulang sih!" Zinnia menggerutu terus menerus.


Setelah berjam-jam tanpa makan apapun hanya minuman ibu hamil saja yang ada di kamarnya, tiba-tiba suara dua mobil terdengar oleh telinga Zinnia.


Ibu hamil itu segera turun dari kasurnya berjalan ke arah jendela kamarnya melihat siapa yang datang sampai dua mobil sekaligus masuk ke halaman rumahnya.


"Itu kan mobil Mommy dan William!"


Zinnia berjalan cepat ke arah lantai dasar. Saat sudah menuruni anak tangga, Zinnia berjalan cukup pelan agar ia dan bayinya tak kenapa-napa.


Zinnia berjalan ke arah ruang tamu dan kebetulan sekali saat itu juga Melati masuk ke dalam rumahnya. "Mommy!" Zinnia berlari memeluk tubuh ibunya.


"Mommy! aku rindu sekali dengan, Mommy!" Zinnia mengecup pipi ibunya.


"Pada Daddy tak rindu?" tanya Arnon merentangkan tangannya pada Zinnia dan Putri cantiknya itu berjalan masuk ke dalam dekapan hangat sang ayah. "Aku juga merindukan, Daddy!"


William berada tepat di belakang Arnon. Pria itu masih diam menikmatinya suasana hangat yang terjadi secara langsung di depan matanya.


Setelah cukup lama memeluk ayahnya, Zinnia melonggarkan pelukannya dan melihat ke arah William. "Kenapa pulang! sekalian saja kau menginap di rumah sakit!" Zinnia terlihat kesal pada calon dari kedua anaknya.


Melati segera menarik tangan suaminya agar William bisa membujuk istrinya untuk tak merajuk.


William berjalan mendekati Zinnia. Pria itu mengusap puncak kepala sang istri. "Maaf ya, Sayang! aku masih ada jadwal operasi dadakan," jelas William pada istrinya.


"Iya, aku tahu, aku yang salah! maafkan aku ya?"


Zinnia melirik ke arah suaminya. "Tapi buatkan aku serabi seperti yang aku mau," ujar Zinnia membuat kesepakatan dengan William.


"Iya! tapi jangan sekarang juga karena aku masih ingin belajar dengan, Mommy!"


Zinnia menoleh ke arah ibunya. "Benar, Mom?" tanya Zinnia pada sang ibu.


"Iya, Sayang! suamimu sampai jauh-jauh dari rumah sakit ke rumah hanya untuk meminta diajari langsung oleh Mommy bagaimana cara membuat serabi yang kau inginkan," jelas Melati agar anaknya itu tak salah paham pada William.


Zinnia menatap ke arah William. "Maaf! seharusnya aku tak seperti tadi," sesal Zinnia menundukkan kepalanya.


William menarik Zinnia masuk ke dalam pelukannya. "Aku memaklumi jika orang hamil itu susah di tebak dan aku sebagai suami serta calon ayah yang baik harus mengerti dirimu, Sayang! karena momen ini tak akan terulang lagi saat masa kehamilan kedua anak kembar kita," tutur William mengecup puncak kepala istrinya.


"Terima kasih, Suamiku!"


Melati dan Arnon tersenyum melihat keharmonisan keluarga kecil putrinya.


Kini William sudah menggunakan apron dan Melati juga menggunakan apron untuk memulai ritual membuat kue serabi.


"Kau perhatikan Mommy agar kau tahu bagaimana cara membuat adonannya dan setelah ini kau yang membuat kue serabinya."


William menganggukkan kepalanya, sementara Zinnia dan Arnon berada di meja bar melihat mereka berdua yang sedang proses membuat serabi keinginan Zinnia.


"Kita akan membuat serabi tradisional yang sangat enak," tutur Melati.


Ibu Zinnia itu mulai memasukkan tepung beras dan kelapa parut, serta diikuti oleh sedikit demi sedikit air matang suhu ruangan dalam satu wadah. Melati mulai mencampur kedua bahan itu sampai benar-benar tercampur sempurna dan jangan lupa tambahkan sedikit garam.


"Ini bahannya sudah tercampur semua, jadi sekarang giliranmu yang harus memasaknya, Will! cetakannya sudah Mommy panaskan jadi kau tinggal menuangkan dengan sendok makan secukupnya jangan terlalu banyak agar masaknya merata," jelas Melati pada menantunya.


William hanya mengangguk namun, aslinya ia tak paham betul apa yang diajarkan mertuanya.


"Aku tak berbakat dalam hal memasak seperti ini, yang aku tahu hanya membedah dan membantu menyelamatkan nyawa seseorang."


Zinnia tersenyum melihat ekspresi Suaminya karena raut wajah William nampak frustrasi melihat ke arah adonan yang sudah siap untuk di tuang ke dalam cetakan.


"Rasakan kau! anakku memang pintar! mereka berdua bukan hanya ingin makan kue serabi, tetapi mereka juga ingin menyiksa Daddy-nya yang tak tahu akan urusan masak memasak."


"Sekarang kau tuang adonan itu ke dalam cetakan yang sudah Mommy panaskan!"


William mengambil sendok mengaduk adonan itu sama seperti saat Melati mencontohkan bagaimana cara menuangkan ke dalam cetakan.


William mulai mencobanya dan hasilnya cetakan berlubang tujuh itu belepotan karena adonan yang William tuangkan dengan sendok berceceran.


"Hahaha! kenapa kau lucu sekali sih, Sayang!" Zinnia mengejek Suaminya.


William tak memperdulikan ejekan istrinya karena yang paling penting saat ini adalah menunggu serabi itu matang dan ia bisa terbebas dari tugas yang bukan bidang keahliannya.


"Sabar, Will! demi anakmu, jadi harus tahan malu di depan istri dan mertuamu yang teramat tampan tapi takut istri itu."


William masih setia menunggu serabinya matanya. Dokter tampan itu terus memperhatikan serabi tersebut karena ia takut serabi buatannya gosong tak bisa dimakan orang.


Lebih tepatnya bukan takut tak bisa dimakan orang, melainkan takut di hujat orang jika kue itu gosong.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.