Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 211 ( Season 2 )


Zinnia dan William sudah berada di atas tempat tidur dengan posisi Zinnia sudah berada di bawah Kungkungan suaminya.


Tatapan mata keduanya sama-sama saling memuja satu sama lain. Zinnia mengulurkan tangannya menggapai wajah William. "I love you!"


Pria itu semakin menurunkan wajahnya agar jarak di antara mereka semakin dekat. "I love you too."


William kembali memakan habis bibir Zinnia. Pria itu mulai membuka satu kancing pertama milik istrinya dan Zinnia juga sudah menarik dasi yang melingkar di kerah kemeja suaminya.


Tangan Zinnia mulai mengikuti gerakan tangan William. Gadis itu membuka satu kancing pertama kemeja William namun, William menahan tangan Zinnia dan ciuman mereka terlepas.


Wajah Zinnia bingung kenapa William melepaskan ciuman mereka. "Kenapa?" tanya Zinnia menatap wajah William penasaran.


"Aku tak ingin melakukannya sekarang, Sayang!"


"Apa kau tak menginginkannya?" tanya Zinnia lagi.


William mencium kening istrinya. "Aku sangat menginginkannya, melebihi rasa inginmu saat ini namun, aku ingin malam pertama kita sangat berkesan untukmu dan aku akan mempersiapkan semua itu," jelas William pada Zinnia.


"Jadi hari ini kita tak melakukan apapun?" tanya Zinnia lagi dan lagi.


"Aku ingin berdua denganmu di rumah."


Zinnia tersenyum mendengar ungkapan dari mulut William. "Aku ingin bertanya sesuatu padamu," tutur Zinnia sambil membalik posisi William yang kini sudah berada di bawah kungkungan tubuhnya.


Rambut Zinnia yang sebagian mengenai wajah William menciptakan sensasi geli pada tubuhnya.


Tangan William meraih jepit rambut yang berada di atas nakas, menggulung rambut Zinnia sembarangan dan menjepitnya agar tak bertebaran pada wajahnya.


Zinnia tersenyum pada suaminya. "Kenapa? apa kau terganggu dengan keberadaan rambutku?"


"Aku bukan terganggu, tapi aku ingin menerkammu saat ini juga, Sayang!"


Zinnia mendekatkan bibirnya pada bibir William. "Lakukan, Sayang!"


William manarik napasnya dalam dan mengembuskan secara perlahan sampai mengenai wajah Zinnia yang sangat dekat dengannya.


"Aku ingin malam pertama kita romantis, aku ingin kau merasakan bagaimana rasanya terbang merasakan kenikmatan dunia yang tiada tara."


Zinnia memundurkan sedikit wajahnya menatap wajah William. "Baiklah! aku akan menunggu malam romantis itu, Sayang!"


Zinnia langsung berguling pada posisi dimana ia biasa tidur. "Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting padamu," tutur Zinnia pada William yang masih tidur dengan posisi terlentang.


Pria itu bangun mendekati istrinya. William tidur di dada Zinnia bagai anak kecil yang meminta di nina bobo-kan.


Zinnia mengusap kepala William dengan gerakan lembut. Sedangkan William memejamkan mata menikmati usapan menenangkan pada bagian kepalanya.


"Katakan saja," ujar William masih dengan posisi yang sama.


"Ada agensi yang menawarkan aku dan Marquez Copaldi berkolaborasi untuk acara penghargaan artis dengan gaya fashion terupdate, apa kau mengizinkan aku atau tidak?" tanya Zinnia pada suaminya.


Pria itu membuka matanya. Mendongakkan kepalanya menatap wajah Zinnia. "Apa pria itu desainer yang membuat semua mata terpukau saat acara peluncuran baju musim semi waktu itu?"


"Hmm, dia desainer berbakat nomor satu dunia," ujar Zinnia.


"Dia kan tampan! jika kau sering bersama dengannya maka kau akan ja ...."


"Aku sudah jatuh cinta padamu, Sayang! kau tak perlu cemas," sambung Zinnia yang tahu arah pembicaraan William.


William masih diam memikirkan ucapan Zinnia.


"Kapan kau akan melangsungkan kerjasama itu?" tanya William yang ingin nemastikan sesuatu.


"Aku masih belum tahu kapan pastinya karena aku masih ingin meminta izinmu, jika kau mengizinkan, sekarang aku akan menghubungi, Sandra!"


William tersenyum simpul. "Jadi besok atau lusa kau tak akan langsung mengerjakan proyek itu kan?" tanya William lagi.


"Aku juga tidak tahu! apa aku tanyakan pada Sandra saja?"


"Halo, Nona!"


"Jika aku menyetujui kerjasama itu, kapan pastinya acara penghargaannya akan berlangsung?"


"Bulan depan, Nona!"


Zinnia masih mengingat-ingat tanggal berapa sekarang ini.


"Sekarang tanggal 12, jadi masih ada cukup banyak waktu untuk merancang busana kolaborasi itu," gumam Zinnia dan semua gumaman itu di dengar oleh William.


"Bagaimana? apa kau mengizinkan aku untuk menerima tawaran itu?" tanya Zinnia lagi pada suaminya dengan ponsel yang masih tersambung dengan Sandra.


"Kapan kau kira-kira mengerjakan pekerjaan itu?" tanya balik William pada istrinya.


"Sekitar 10 hari atau 2 Minggu setelah kontrak kerjasama sudah di tandatangani," sahut Zinnia.


"Masih cukup banyak waktu untuk membuat malam pertamaku berjalan sukses, jika Zinnia sudah aku bobol, dia sudah seratus persen menjadi wanitaku seutuhnya dan lelaki lain tak akan ada yang bisa merebutnya dariku."


"Baiklah! kau terima saja tawaran itu, tapi kau harus memuaskan aku dulu sebelum kau sibuk dengan pekerjaanmu, Sayang! William junior harus segera berada di dalam sini," tutur William sembari mengelus lembut perut Zinnia.


Pria itu tak sengaja melihat ke arah ponsel istrinya yang masih menyala. "Kau tak mematikan sambungan teleponmu?" tanya William dan Zinnia langsung teringat jika panggilan Sandra belum ia tutup.


"Sandra! apa kau mendengar semua obrolan kami?" tanya Zinnia pada Asistennya.


"Anggap saja saya tidak mendengarnya, Nona!"


Wajah Zinnia memerah karena Sandra sudah mendengar semua obrolan fulgarnya dan William.


Zinnia memukul lengan suaminya cukup keras.


"Aw, sakit!" William merintih kesakitan.


Zinnia kembali berbicara dengan Sandra, "Aku terima tawaran itu dan panggilan ini akan aku tutup."


Zinnia meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia melihat William dengan tatapan kesal.


"Aku kesakitan, Sayang! kenapa kau mengabaikan aku," rengek William bagai anak kecil.


"Kau tak bisa mengerem perkataanmu kan?" Zinnia berlagak cuek pada suaminya.


"Tapi kan aku tidak tahu jika kau belum mematikan sambungan teleponmu dengan, Sandra!"


Zinnia menghembukannya napasnya pasrah. "Kau benar, memang aku yang salah."


Zinnia memeluk kepala William yang sudah berada di atas dadanya. "Maafkan aku ya? pasti lenganmu sakit."


William tersenyum karena Zinnia mudah untuk ia kukuhkan. "Kau cukup memelukku seperti ini aku pasti akan sembuh," tutur William dengan suara manjanya.


"Kalau begitu, kau tidur saja! eh, tunggu dulu! apa suamiku ini sudah mandi?" tanya Zinnia pada William.


Pria itu menengadahkan wajahnya kembali. "Kau bisa mencium seluruh tubuhku jika kau ingin memastikan apa aku sudah mandi atau tidak."


Tak perlu melakukan itu semua, mencium wangi rambut William saja Zinnia sudah tahu jika suaminya sudah mandi.


"Aku percaya padamu, jika kau sudah mandi," ujar Zinnia kembali memeluk kepala suaminya.


William tersenyum bahagia karena besok ia akan merencanakan malam pertama yang romantis untuk Zinnia.


"Kau tunggu saja besok malam, Sayang! proses pembuatan William junior harus berjalan dengan mulus."


William memejamkan matanya. Ia ingin segera pagi menjelang karena besok pasti akan menjadi hari yang sibuk baginya dan para anak buahnya.


Dan besok juga akan menjadi malam yang sangat panjang untuknya dan Zinnia.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰