Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 109


Keesokan harinya, Agnez tengah bersiap semaksimal mungkin. Ia ingin tampil sempurna di hadapan Pram.


"Aku harus membuktikan padanya, jika aku tulus mencintainya! untuk urusan dia menerima cintaku atau tidak? terserah! aku tak perduli," gumamnya sembari mengoles lipstik berwarna nude.


Wanita itu mengenakan dress dengan rambut di kuncir tak terlalu tinggi.


Tak lupa hells andalannya yang menambah kesan elegan pada dirinya.


Agnez menyambar tas jinjing yang sudah ia siapkan tadi malam. Tak lupa ia juga menyambar paper bag berisi selimut Pram.


Wanita itu berjalan keluar menuju teras.


Agnez sudah berada di luar gerbang rumahnya. Ia menunggu taksi online yang sudah ia pesan.


Rona wajah bahagia tak dapat ia sembunyikan kala membayangkan dirinya akan mengungkap rasa cinta yang mulai tumbuh pada Pram.


Pria dingin, datar, dan tak romantis itu telah membuat hatinya berbunga-bunga.


Saat taksi pesanannya tiba, senyum manisnya terukir indah.


Agnez langsung masuk ke dalam taksi tersebut. Ia memberitahu supir ke arah mana roda taksi itu akan bergulir.


Di sepanjang perjalanan menuju rumah Pram hal yang ada di benak wanita itu adalah dirinya yang secara gamblang mengutarakan isi hatinya tanpa rasa takut di tolak oleh pria datar seperti Pram.


Agnez menatap ke arah luar jendela dengan senyum yang tak pernah pudar.


Matanya terpejam membayangkan wajah Pram yang selalu berkeliaran menganggu tidurnya sejak semalam suntuk.


"Aku akan mengungkapkannya agar kau tahu, Asisten Pram!"


Agnez lagi-lagi tersenyum tanpa henti. Ia sungguh bahagia bisa mengungkapkan perasaan pada Pram karena pada saat ia menaruh hati pada Erick, ia hanya bisa memendam saja.


Kali ini Agnez tak ingin kisah lamanya terulang kembali. Ia ingin jujur pada dirinya sendiri dan juga orang yang telah membuat jantungnya berdetak lebih cepat bagai mengikuti lomba pacuan kuda.


Setelah cukup lama berada di dalam taksi online itu, akhirnya roda yang sedari tadi bergulir tanpa henti sudah berada di depan sebuah pintu gerbang dengan desain rumah yang mewah, namun tak semewah rumah keluarga Gafin tentunya.


Agnez keluar dari taksi tersebut. Ia memijakkan kakinya di atas tanah tepat di depan pintu gerbang kokoh . Sama seperti pemiliknya yang juga sangat kokoh di matanya.


Jari-jari lentik Agnez menyentuh pagar besi tersebut. Ia mencari mungkin ada seseorang yang bisa membukakan pagar itu.


Satpam menghampirinya dengan wajah sopan dan santun.


"Ada apa ya, Mbak?" tanya satpam tersebut.


"Pram ada?"


"Tuan Pram ada, Mbak!"


Satpam tersebut membuka pintu gerbang dan mempersilakan agar Agnez masuk ke dalam.


"Silahkan masuk, Mbak!"


"Terimakasih, Pak!"


Agnez dengan langkah semangat tanpa ragu masuk ke dalam pekarangan rumah Pram yang nampak sangat asri.


Tanaman menghiasi rumah pria datar itu. Bunga-bunga yang berwarna warni, namun lebih di dominasi warna putih sangat pas dengan rumah yang juga di cat putih.


Langkah kaki Agnez terus melangkah menuju teras rumah Pram.


Agnez masih sempat berjongkok melihat bunga yang berwarna salmon. Ia menyentuh kelopak bunga tersebut. "Semoga perasaaku sebentar lagi akan seindah warnamu ini," gumam Agnez yang kemudian beranjak berdiri melanjutkan langkah kakinya menuju teras.


Kaki Agnez sudah berpijak di atas keramik berwarna putih tulang. Pintu rumah itu terbuka sedikit lebar. Ia berpikir mungkin ini jalan dari yang maha kuasa agar dirinya lebih mudah mengungkapkan perasaannya pada Pram.


Wanita itu berjalan ke arah pintu yang sudah setengah terbuka lebar, namun sayup-sayup ia mendengar percakapan beberapa orang di dalam sana.


Entah kenapa langkah kakinya seketika berhenti. Telinganya memerintahkan dirinya agar mendengar apa yang sedang orang-orang di dalam sana bicarakan.


Posisi Agnez saat ini masih terhalang oleh pintu. Satu kali geser saja sudah dapat dipastikan jika tubuhnya akan terlihat sempurna dari dalam sana.


Telinga Agnez secara otomatis mengaktifkan mode sensor penajam tingkat tinggi.


Kakak tiri Melati itu mulai memfokuskan pada topik pembicaraan orang yang ada di dalam rumah itu.


"Kamu masih ingat dia kan, Pram?" tanya ibu Pram.


"Dia ... Marina, kan?"


"Iya, dia teman kecilmu, Pram! Mama tahu kalian dulu pernah membuat cincin pernikahan dari rumput, kan?"


Hati Agnez yang awalnya terbang sampai langit ke tujuh mulai goyah. Penerbangannya yang awalnya sangat stabil kini mulai oleng diterpa angin yang masih dapat ia tahan terjangannya.


"Mama tahu dari mana?" tanya Pram pada ibunya.


Kali ini penerbangan Agnez yang penuh bunga itu seakan penuh dengan kilatan petir yang menyambar. Petir itu siap kapan saja menghanguskan pesawat cinta yang sedang ia tumpangi dengan sambarannya.


"Kamu juga harus tahu, Pram! Rina ini sampai menolak semua lamaran para rekan bisnis orangtuanya karena dia masih setia menunggu cintamu," jelas ibu Pram lagi yang membuat hati Agnez kini sudah mulai terasa ribuan batu besar menggelinding di dalamnya.


"Apa benar itu, Rin?" tanya Pram memastikan .


"Iya, Kak Pram!"


Lagi-lagi jutaan jarum terasa menyerbu hatinya. Agnez tak menyangka jika Pram yang dingin macam es batu bisa berbicara dengan nada lembut pada teman kecilnya itu. Padanya saja Pram sungguh seenaknya sendiri.


Agnez mulai berpikir. Apa mungkin Pram menaruh rasa pada wanita yang berada di sampingnya saat ini?


"Butuh bukti apa lagi kau, Nak! kau setujui saja perjodohan ini, Pram!"


Kali ini bukan hanya hati Agnez yang bisa saja berhenti berdetak, pesawat cinta yang ia naiki juga langsung terjun bebas dengan awak pesawat yang sudah hilang entah kemana, hanya ada dirinya yang siap mati tanpa ada yang menemani.


Agnez berpikir, mungkin hanya dirinya yang merasakan cinta itu. Mungkin hanya dirinya saja yang merasakan getaran hebat dalam hatinya, mungkin hanya dirinya saja yang berharap cinta itu akan berbuah manis, semanis kurma.


"Mama ingin kalian berdua menikah bulan ini! Mama ingin segera memiliki cucu dari kalian berdua," ucap ibu Pram tulus.


Tanpa mereka semua sadari sepasang mata yang mulai meneteskan air matanya melihat semua adegan yang membuat hatinya hancur.


Agnez menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tak ingin isak tangisasnya di dengar sampai ke dalam.


Perasaan Agnez kali ini bagai penumpang yang menikmati kesendiriannya jatuh dari pesawat cinta yang ia tumpangi.


Pesawat itu jatuh ke daratan dengan kecepatan yang tak bisa ia kira. Rasa hancur, remuk, bahkan seketika menjadi debu saat dirinya jatuh menimpa daratan.


Semua rasa cinta dan sakit itu ternyata hanya bisa ia rasakan sendiri. Semua hal bahagia yang Agnez rasakan ternyata tak pernah di rasakan oleh Pram.


Lagi-lagi yang memberi hidup padanya mengujinya dengan air mata.


Pria yang telah memiliki kekasih masa kecil tak akan mau melirik wanita sepertinya.


Kekasih masa kecil pria yang ia cintai sungguh cantik rupa dan juga dari kalangan atas.


Kesimpulan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat hatinya mantap tak akan mengutarakan cinta sepihaknya itu.


Ia akan berusaha mengubur dalam-dalam rasa yang awalnya manis, namun kini berubah pahit.


Air mata Agnez sungguh mengucur deras dengan isak tangis yang ia tahan.


Bagai api yang disiram bahan bakar, kini hatinya semakin perih, melebihi perih yang ia rasakan sebelumnya.


Ibu Pram menyatukan tangan Pram dan Marina dan parahnya lagi, pria itu tak ada niat untuk menolaknya.


Sungguh sakit hati Agnez sudah tak tertahankan lagi.


Kali ini ia menyerah, menyerah akan menghilangkan perasaannya pada Pram.


Awalnya ia hanya ingin mengubur rasa itu, namun melihat semua kenyataan yang ada di depan matanya jika pria yang ia cintai bersikap lembut pada wanita lain, sedangkan padanya, pria itu bersikap kebalikannya.


Agnez berpikir, mungkin dirinya memang dari awal tak boleh terjebak dengan cinta yang hanya ia rasakan sendiri.


Pria yang tak pernah mencintainya, pria yang selalu dingin padanya, pria yang selalu berwajah datar padanya.


"Aku akan membuang jauh rasa cinta ini, Pram! aku tak akan pernah membiarkan cinta ini tumbuh pada orang yang salah!"


Agnez membalikkan badannya. Melangkahkan kakinya menuju pintu gerbang rumah Pram.


Agnez masih di penuhi dengan derai air mata di wajahnya. Bibirnya ia lipat serapat mungkin agar isak tangisnya tak terdengar.


"Sudah bertemu dengan, Tuan Pram?" tanya satpam itu.


Agnez mencoba menjawab setenang mungkin.


"Sudah, Pak! tapi keluarga saya ada yang meninggal, jadi saya harus pergi sekarang," ujar Agnez melanjutkan langkahnya.


"Hatiku yang akan segera mati untuk mencintainya," gumam Agnez sembari air mata mengalir melewati pipinya.


Ia berjalan tanpa arah dan tujuan dengan langkah lemah.


Agnez mulai mengutak-atik ponselnya, memesan taksi online kembali.


Agnez menunggu tak jauh dari jarak rumah Pram dengan tempatnya saat ini berdiri bagai pungguk merindukan bulan.


Agnez melihat ke arah rumah Pram yang menjulang tinggi. Lagi-lagi air mata mengalir tanpa ia pinta.


"Tuhan! aku mohon padamu, jika memang aku tak di izinkan untuk mencintainya ... beri aku jalan untuk melupakan rasa ini," doa Agnez pada sang maha pencipta.