
William sudah sampai di Amerika. Pria itu telah berada dalam mobil yang bertugas menjemputnya.
William menghubungi nomor orang kepercayaannya.
"Ya, Pak!"
"Hotel tempat aku menginap adalah hotel yang sama dengan Nyonya kan?"
"Iya, Pak! tepat di depan kamar hotel, Nyonya!"
"Bagus! aku suka dengan cara kerjamu yang tanggap dan mengerti kemauanku."
Panggilan langsung di putuskan oleh William. Pria itu tersenyum membayangkan jika Zinnia tahu dirinya sudah berada di Negara yang sama dengannya. "Bagaimana reaksimu jika tahu aku sudah berada di tanah yang sama tempat kau berpijak saat ini."
Mobil yang di tumpangi William sudah berhenti di depan sebuah hotel dengan desain romantis.
William menelisik hotel tersebut dengan tatapan tak percaya, kenapa Zinnia bisa menginap di hotel seperti itu.
"Apa dia tak salah memilih hotel? kenapa nuansa hotel ini seperti tempat bermalam pasangan suami-istri?"
William tanpa ragu langsung menarik kopernya yang sudah di keluarkan oleh sopir.
Pria itu saat ini sudah berada di dalam lift menujunya kamar hotelnya.
Ting
Suara denting pintu lift terbuka. Pria itu langsung keluar dari dalam lift mencari kamarnya.
William melihat angka 1111, yang mana angka itu adalah nomor kamar hotelnya.
"Semoga besok hariku juga semanis angka ini."
Pria itu melihat ke arah pintu dimana kamar Zinnia berada, yaitu tepat di depan kamarnya.
William melihat jam tangannya. Saat ini telah menunjukkan pukul 10 malam.
"Pasti dia sudah tidur!" William tersenyum sambil menatap pintu kamar sang istri. "Besok aku akan memberikanmu kejutan, Istri kecilku!"
William kembali menarik kopernya sembari membuka pintu kamar hotelnya.
Keesokan harinya di sebuah panggung peragaan busana dengan gemerlap cahaya lampu dan kursi yang sudah tertata rapi di samping kanan kiri. Para reporter, fotografer dan orang penting lainnya sudah siap menunggu para model yang akan keluar berlenggak-lenggok memperlihatkan baju musim semi karya desainer dari berbagai belahan dunia.
Kamera sudah standby di segala sisi panggung untuk mengabadikan proses peragaan busana termegah tahun ini.
Seorang pria dengan kacamata khasnya tengah menunggu seseorang yang pastinya ia nanti sejak kemarin. Sejak kakinya berpijak di Negara itu.
Para kaum hawa yang duduk tepat di samping kanan kirinya sudah melirik pria tampan yang berprofesi sebagai Dokter tersebut.
Para wanita itu beranggapan jika William adalah pengamat fashion karena style pria itu sungguh tak dapat di ragukan lagi.
Ditambah dengan kacamata yang bertengger di kedua matanya. Menambah kesan seksi, tampan, gagah di mata para kaum hawa yang berada di dekatnya.
William hanya diam tak memperdulikan pandangan dari para wanita itu. Ia sudah biasa mendapatkan tatapan lapar seperti saat ini.
Zinnia berada di backstage untuk mengecek semua persiapan sudah selesai atau belum.
Gadis itu juga sudah mengenakan gaun yang sangat indah berwarna maroon. Zinnia menghampiri Sandra asisten pribadinya. "Sandra! kau urus semuanya, aku akan menemui beberapa desainer lain," tutur Zinnia pada Sandra.
"Baik, Nona!"
Zinnia berjalan ke arah para desainer lainnya yang saat ini tengah berkumpul di sebuah ruangan khusus. Saat gadis itu berjalan hendak masuk ke dalam ruangan tersebut, tiba-tiba seorang pria dengan style yang sangat cool juga hendak masuk secara bersamaan dengan Zinnia ke ruangan itu.
Zinnia merintih kesakitan pada bagian bahunya. Gadis itu menatap ke arah pria yang membenturnya.
Pria itu juga menatap ke arahnya. "Are you okay?" tanya pria tersebut sambil ingin membantu Zinnia karena tubuh gadis itu sedikit membungkuk menahan sakit.
Zinnia menepis tangan pria itu lembut. "I'm fine," sahut Zinnia sambil membenarkan gaunnya yang sedikit tak diam pada tempatnya.
Pria itu masih menatap Zinnia tanpa berkedip. Saat Zinnia menatapnya, pria tersebut tersenyum manis pada Zinnia.
Wajah Zinnia seketika terlihat bingung dengan sikap pemuda di hadapannya.
"Apa dia gila? tak saling kenal tapi sudah senyum-senyum begitu."
Pria itu memberikan kode pada Zinnia dengan tangannya agar Zinnia masuk lebih dulu. Wajah Zinnia masih terlihat bingung.
Pria tersebut kembali tersenyum manis. "Ladies first," tutur pria itu yang langsung di lakukan oleh Zinnia.
Saat Zinnia berada di ambang pintu, gadis itu menoleh ke arah pemuda tampan tersebut. Tak ada percakapan apapun, Zinnia hanya menatapnya datar. Sedetik kemudian gadis itu langsung melangkah masuk ke dalam.
Pria tadi masih tersenyum kembali saat Zinnia sudah benar-benar berbaur dengan para desainer lainnya.
"Zinnia Putri Marvion Gafin!" pemuda itu menyebutkan nama lengkap Zinnia dengan logat bahasa Indonesia yang sangat fasih.
On stage acara sudah di mulai. Para model dengan tubuh ramping, tinggi, dan cantik dengan busana yang melekat pada tubuh mereka mulai satu persatu keluar sembari berlenggak-lenggok memperlihatkan busana musim semi karya desainer yang muncul di akhir, setelah semua baju karya desainer itu sudah selesai di tampilkan dan begitu seterusnya.
Zinnia mendapat giliran paling akhir. Jadi baju musim seminya sebagai penutup acara.
William yang duduk lurus dengan panggung menunggu istrinya muncul. Pria itu begitu tak sabar ingin melihat wajah yang sangat ia rindukan.
"Kemana kau, Gadis kecil! apa kau tak tahu? aku ingin sekali bertemu denganmu."
Kini giliran baju desainer muda berbakat nomor satu di dunia yang akan tampil. Di ruangan yang zinnia tempati terdapat layar besar untuk melihat jalannya proses pergelaran busana musim semi tahun ini.
Semua desainer yang berada di sana nampak sangat kagum dengan karya desainer itu, saat semua karyanya sudah di pamerkan, desainer pria dengan tubuh jangkungnya menampakkan diri di akhir, setelah semua model selesai menampilkan maha karyanya.
Dilayar terdapat tulisan "Marquez Copaldi". Semua desainer yang hadir di sana tak heran lagi jika karya sebagus itu di buat oleh desainer muda berbakat nomor satu dunia.
Mata Zinnia melebar saat ia melihat wajah pria yang selama ini membuatnya penasaran.
"Jadi tadi yang tak sengaja berbenturan denganku adalah dia?"
Zinnia masih terus melihat wajah Marquez di layar. Gadis itu masih tak menyangka jika sosok pria yang di kagumi oleh para wanita memang benar-benar tampan.
"Halah! masih lebih tampan, Suamiku!"
Wajah Zinnia seketika terkaget sendiri dengan apa yang ada dalam pikirannya.
"Apa yang aku pikirkan? ingat, Zi! dia itu sudah bersenang-senang dengan wanita yang di cintainya, jadi kau tak perlu memikirkan Pria mesum itu lagi."
Setelah Zinnia menunggu, akhirnya kini giliran maha karyanya yang akan di perlihatkan pada dunia. Gadis itu sudah bersiap menunggu semua bajunya selesai di tampilkan.
Saat model terakhir sudah berada di on stage, Zinnia juga ikut berjalan ke arah panggung untuk memperlihatkan siapa pemilik karya baju yang tadi sudah di perlihatkan pada semua mata dunia.
Gadis itu masih tak sadar jika William berada di sana, karena Zinnia hanya terfokus pada orang-orang yang hadir di bagian kanan kirinya saja.
Saat Zinnia sudah berada tepat di depan panggung, tiba-tiba lampu mati.
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰