
Bibir mereka terlepas secara perlahan. Mata Zinnia dan William saling bertukar pandangan.
Perawat wanita itu menatap pasangan suami istri tersebut dengan sorot mata sangat tajam.
Zinnia menoleh ke arah perawat wanita yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan siap mengibarkan bendera perang padanya.
Tangan kanan William masih bertengger pada pinggang Istrinya. Ia menoleh ke arah perawat wanita itu. William hendak membuka suaranya, namun di tahan oleh Zinnia.
"Ini urusan wanita! aku yang akan menyelesaikannya," tutur Zinnia melirik ke arah Arnon dan sang ayah mengangguk.
Zinnia tersenyum dengan kedua matanya mengarah pada perawat itu.
"Apa yang menjadi milikku, tak ada seorangpun yang bisa menyentuhnya, walau hanya sehelai bagian rambutnya saja," tutur Zinnia dengan suara lantang.
Deg deg deg
Jantung William seketika berdetak kencang mendengar ucapan Istrinya. Ia menatap wajah Zinnia yang terlihat begitu yakin mengatakan hal yang membuat jantungnya berdebar tak karuan.
"Usir wanita itu," pinta Zinnia pada pengawal yang berada di ruangan pesta tersebut.
Dua orang pengawal berbaju serba hitam mulai meringkus perawat seksi itu.
Wanita dengan lipstik merah merona mulai meronta tak ingin di bawa oleh kedua pengawal yang bertugas.
"Lepaskan aku! kau tak bisa melakukan ini padaku," teriaknya sambil terus meronta ingin dilepaskan.
"Cepat bawa dia keluar dari ruangan ini! dan kau harus ingat, Nona! besok hidupmu akan hancur, entah itu pekerjaan atau kekuargamu, karena aku tak tahu kau dari keluarga mana! yang jelas kau bukan dari keluarga sembarangan, karena orang biasa tak akan berani mempermalukan anggota keluarga, Gafin! di hadapan banyak orang seperti ini!"
Tubuh wanita itu bergetar hebat. Seketika tubuhnya lemas dengan wajah yang mulai bercucuran air mata.
"Tidak! tidak!" Wanita itu terus berteriak mengulang ucapannya terus-menerus.
Zinnia mencoba menetralisir emosinya yang sudah sempat terpancing karena perawat tak jelas yang berani menggoda suaminya.
Semua orang yang berada di sana semakin tak berani hanya untuk sekedar menggerakkan tubuhnya saja, saat putri Arnon itu mulai mengeluarkan aura jiwa singanya yang sudah pasti diturunkan dari sang ayah.
Zinnia menatap ke arah William sejenak, namun ia langsung berbalik hendak melangkah ke arah sang ibu.
Zinnia kerepotan saat ia berusaha melangkahkan kakinya karena gaun yang ia gunakan sangat merepotkan sekali.
Tiba-tiba tubuh Zinnia melayang. Gadis itu memekik kecil saat tangan kekar menggendong tubuhnya tanpa izin.
Spontan kedua tangan Zinnia melingkar pada leher William.
"Kita pulang sekarang! kau pasti sudah lelah dengan gaun merepotkan ini," tutur William sambil melangkahkan kakinya melewati karpet merah yang tergelar panjang sampai ke arah pintu keluar.
Kedua mata Zinnia menatap wajah suaminya dengan jarak sangat dekat. Ia bisa melihat setiap guratan kecil pada wajah tampan itu.
Saat William membalas tatapannya, Zinnia memilih menundukkan wajahnya seolah ia tak memperhatikan wajah suaminya.
William terkekeh melihat tingkah Zinnia. "Kau tak perlu sungkan jika ingin melihat wajah tampanku ini! kau bisa memandangnya sampai kau puas," ujar William yang mendapat pukulan ringan pada pundaknya.
"Kau terlalu besar kepala! siapa juga yang ingin melihat wajahmu yang biasa-biasa saja," elak Zinnia dengan bibir maju ke depan.
William tak menanggapi ucapan Istrinya. Ia lebih memilih untuk berjalan lurus ke depan.
Semua tamu dan kerabat tersenyum manis melihat kedua pengantin itu sudah tak sabar ingin pulang.
"Anak zaman sekarang memang tak bisa menunggu waktu tengah malam, selalu saja terburu-buru," gumam Susan yang di dengar oleh Arnon dan Edward beserta istri keduanya.
Tawa mereka semua pecah karena Susan masih sempat memikirkan hal itu.
"Putrimu nampaknya menuruni semua sifat yang kau miliki, Ar! dia dingin pada orang lain, namun pada keluarganya sendiri ia manja sekali," tutur Susan menatap sang putra.
"Dia kan anakku, Mom! jenis kelamin dan wajah cantiknya saja yang sama seperti ibunya," ledek Arnon mendapat tatapan tajam dari Melati.
"Arya kemana?" tanya Susan.
"Dia tak bisa pulang! karena ada tugas penting yang harus diselesaikan," ujar Arnon.
Sasa dan Sisi juga tak dapat hadir karena suami mereka banyak sekali pekerjaan yang harus di selesaikan. Sisi berada di Jerman, sementara Sasa berada di London.
Agnez dan Pram juga masih berada di Belanda. Kontrak kerja Agnez sudah selesai, namun karena sang putri berkuliah di sana, jadi mereka berdua harus tinggal di Negara itu sampai kuliah Melly selesai. Melly adalah putri pertama dan satu-satunya dari Pram dan Agnez.
Mobil William sudah memasuki halaman rumahnya.
Gadis itu takjub dengan rumah milik suaminya yang nampak begitu megah dan mewah.
William turun dari mobil. Ia hendak berjalan terlebih dulu ke arah pintu masuk rumahnya, namun suara Zinnia menghentikan niatnya.
"Mau kemana kau?" tanya Zinnia datar.
"Mau masuklah, Adik kecil! kau kira aku ingin ke kali?" William tersenyum simpul.
"Apa kau tak bisa membantuku? apa kau tak bisa melihat jika aku kerepotan dengan gaun ini?" tanya Zinnia menghidupkan mode cerewetnya.
William langsung berjalan ke arah mobilnya membuka pintu mobil itu dan langsung mengangkat tubuh sang istri.
"Menyusahkan sekali," gumam William membuat mata Zinnia melotot ke arahnya.
"Apa kau bilang? coba ulangi sekali lagi," pinta Zinnia.
Tak ada jawaban dari mulut suaminya. Pria itu hanya fokus menaiki tiap anak tangga menuju ke arah kamarnya.
Zinnia kesal karena William tak merespon permintaannya. Ia ikut diam tak bersuara agar pria yang tengah menggendongnya ini tahu jika dirinya sedang marah.
"Kenapa lama sekali sih! kenapa juga kamarnya harus jauh sekali," batin Zinnia.
Saat sudah berada di depan pintu kamarnya, William menurunkan Zinnia dengan nafas ngos-ngosan.
"Huh, badanmu kurus tapi kau sangat berat sekali," ujar William langsung membuka pintu kamarnya.
Zinnia kembali di buat kesal dengan perkataan suaminya yang tanpa filter itu.
Gadis itu berjalan perlahan masuk ke dalam kamar William yang sangat besar, bahkan dua kali lipat lebih besar dari kamarnya sendiri.
Zinnia membuka gaun bagian bawahnya karena gaun itu terdiri dari dua bagian yaitu atasan dan bawahannya terpisah.
Zinnia melempar gaun bagian bawahnya. Ia saat ini hanya memakai atasan gaunnya yang berbentuk dress pas body di atas lutut.
William tak sadar dengan apa yang di gunakan Istrinya. Karena dirinya saat ini tengah merebahkan tubuhnya dengan posisi terlentang.
Zinnia berjalan ke arah meja rias, ia mencoba membuka atasan dari gaunnya yang terikat sangat kuat.
Gadis itu mencoba membuka ikatan-ikatan yang bersilang pada bagian punggungnya agar atasan itu dapan lepas dari tubuhnya.
Zinnia terus berusaha membukanya, namun hasilnya sama saja, tetap tak bisa.
Ia melihat pantulan suaminya pada cermin. Zinnia mendekat ke arah William yang masih tidur dengan posisi terlentang.
Gadis itu sudah membelakangi suaminya. "Tolong bantu aku lepaskan ini," pinta Zinnia pada William.
Pria itu menatap ke arah Istrinya yang sudah membelakanginya.
Mata William terbelalak melihat baju yang dikenakan Zinnia.
Lekuk tubuh Zinnia terekspos sempurna, menampilkan pahatan tubuh seorang wanit seksi yang sering ia lihat di film-film Hollywood.
Tubuh gadis itu memang masih terlapisi oleh kain, namun jiwa pria normal seperti William pastilah meronta ingin menyentuh tubuh sempurna milik istrinya.
"Ah! tahan, Will! kau tak mencintainya, kalian menikah hanya karena kepepet saja."
Zinnia masih menunggu William membantunya. "Kenapa kau lama sekali? apa kau tidur?" tanya Zinnia hendak menoleh ke belakang, namun tangan William sudah menyentuh bagian punggungnya.
Tubuh Zinnia seketika menegang. Ia seperti tersengat listrik mendapatkan sentuhan pertama dari seorang pria pada tubuhnya. Karena ia tak pernah sekalipun di sentuh oleh pria manapun. Hanya telapak tangannya saja yang pernah bersentuhan dengan lawan jenisnya.