Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 238 ( Season 2 )


Jam makan siang sudah tiba, Zinnia sudah beranjak dari tempat duduknya.


"Aku akan ke rumah sakit untuk makan siang dengan, Suamiku! kalian berdua ingin makan diluar atau masak sendiri terserah," tutur Zinnia meraih tas jinjingnya.


Desainer cantik itu mengenakan kacamatanya keluar dari ruangan itu, sementara Marquez dan Sandra masih berada di dalam ruangan Zinnia.


"Kau ingin makan di luar?" tanya Marquez menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.


"Aku makan di sini saja! aku ingin masak untuk menghemat uang," sahut Sandra beranjak dari duduknya menuju arah dapur yang berada di butik itu.


Marquez yang merasa penasaran dengan dapur di butik Zinnia ikut berdiri mengikuti langkah kaki Sandra.


Sandra sudah mengenakan apron agar bajunya terbebas dari cipratan apapun saat ia memasak sebentar lagi.


Marquez duduk di kursi meja bar melihat Sandra yang sedang memasak.


"Kau sedang apa?" tanya Marquez pada Sandra yang membelakanginya.


"Apa kau tak bisa melihat aku sedang memasak apa?" tanya balik Sandra pada desainer tampan itu.


"Aku tak bisa melihatnya karena tubuhmu menghalanginya," sahut Marquez dan Sandra segera mengacungkan bungkus mie kuah kari.


"Kau memakan makanan itu?" tanya Marquez dengan nada suara tak yakin.


"Ya!"


"Jangan terlalu sering memakan makanan siap saji seperti itu, makan sayur yang banyak agar kau tak kekurangan gizi," cecar Marquez membuat tubuh Sandra berbalik menghadap ke arahnya.


"Aku memakan mie bisa di hitung berapa kali dalam sebulan! hari ini aku sangat ingin makan mie karena aku ingin menenangkan hariku yang di penuhi dengan sandiwara palsumu itu," ujar Sandra dengan nada datar dan dingin.


"Wow! kau jangan terlalu benci padaku, Nona Asisten! nanti jatuh cinta baru tahu rasa! apa kau tahu benci dan cinta itu beda tipis, setipis kulit bawang," jelas Marquez dengan nada bangga.


Sandra hanya tersenyum remeh pada desainer tampan itu. "Aku tak mungkin jatuh cinta pada pria yang mencintai, Nona Zinnia! apalagi cintamu begitu besar untuknya," tutur Sandra berbalik mengaduk mie-nya.


Mata Marquez melebar sempurna. Pria itu langsung bergegas mendekati Sandra yang membuka bumbu mie-nya dan menuangkan pada sebuah mangkuk.


"Darimana kau tahu tentang itu?" tanya Marquez penasaran.


"Kau lupa jika aku seorang asisten pribadi dan semua hal yang berhubungan tentangmu bisa aku ketahui dalam hitungan menit," tutur Sandra masih sibuk dengan bumbu mie-nya.


"Kenapa aku bisa lupa jika dia seorang, asisten pribadi Zinnia!"


"Apa lagi yang kau tahu selain itu?" tanya Marquez ingin memastikan jika Sandra benar-benar bisa mencari tahu semua hal yang berhubungan dengan dirinya.


Sandra menghentikan gerakan menggunting bumbu mie-nya. Wanita itu melihat ke arah Marquez dengan tatapan datar tanpa ekspresi.


"Satu, kau pernah terkencing di celana saat kau masih di bangku taman kanak-kanak karena kau takut sekali melihat ular, padahal itu hanya ular mainan! dua, sudah beberapa tahun terakhir ini keluargamu ingin menjodohkanmu dengan keluarga para bangsawan, tapi kau menolaknya dan yang ketiga ...."


"Stop, Nona Asisten! aku percaya jika kau seorang penggemarku," ujar Marquez tersenyum manis pada Sandra.


Raut wajah Sandra sudah kesal bukan main. "What! aku penggemarmu? apa kau sedang sakit?" tanya Sandra menyentuh kening desainer tampan itu.


"Tidak panas dan juga tidak dingin," ujar Sandra lagi.


Marquez mematikan kompornya. Pria menyentuh tangan Sandra yang masih menempel di keningnya. "Apa kau bisa membaca pikiran manusia juga?" tanya Marquez menatap lekat manik mata kekasih palsunya.


"Aku bukan manusia sakti yang bisa membaca pikiran orang, jika bisa aku tak ingin tahu isi pikiranmu! pasti isinya Nona Zinnia semua," sahut Sandra membuat senyum Marquez terpancar indah.


"Kau memang asisten yang sangat pintar," puji Marquez sembari menurunkan telapak tangan Sandra yang masih bertengger pada keningnya.


Pria itu langsung mengambil alih mie yang di buat oleh Sandra. Marquez menuang mie yang sudah ditiriskan itu ke dalam mangkuk, kemudian menuangkan air mendidih dari panci lain yang akan menjadi kuah dari mie tersebut.


Sandra melihat Marquez hanya diam karena ia sungguh baru tahu jika desainer yang banyak di puja oleh kaum hawa memiliki sifat kekanak-kanakan.


"Aku dengar tadi ada orang berkata jangan makan mie itu, tapi harus makan sayur yang banyak agar kau tak kekurangan gizi," sindir Sandra melipat kedua tangannya di dada.


Marquez hanya tersenyum sembari menoleh ke arah Sandra. "Aku juga tak sering makan makanan ini! jadi hari ini aku akan memakannya sampai habis," ujar Marquez Langsung memakan mie yang ada di depannya.


Sandra merengut kesal karena ia harus membuat mie lagi.


Wanita itu berjalan mengambil satu bungkus mie lagi sembari mengumpat ria dalam hatinya.


"Dasar pria egois! makananku diambil dan sekarang dia sedang asyik memakan mie yang aku buat."


Di ruangan dengan cat berwarna serba putih, seorang pria dengan kacamata yang bertengger di kedua matanya tengah menikmati makan siang yang disiapkan oleh sang istri.


Pria itu menikmati tiap suapan yang masuk ke dalam mulutnya sampai sebuah suara pintu ruangannya terbuka membuat pria tampan yang tak lain adalah William melihat ke arah pintu tersebut.


Sosok wanita cantik dengan tas jinjing di tangannya berjalan mendekati William. Wanita itu duduk di pangkuan suaminya yang masih mengunyah makanan dalam mulutnya.


Sendok di tangan William masih tetap di pegangnya.


Zinnia memeluk suaminya erat, sampai William tak bisa melanjutkan memakan makanannya.


William meraih air mineral dan meneguknya. Pria itu meletakkan sendok makannya di atas kotak bekalnya.


"Sayang! kau kenapa?" tanya William pada Zinnia yang masih menempel erat pada tubuhnya.


"Aku rindu padamu," sahut Zinnia masih tak ingin melepaskan pelukannya pada tubuh William.


"Bagaimana dengan urusanmu dan Marquez? kenapa kau kemari? bukankah masih banyak hal yang harus kalian berdua bicarakan?" tanya William pada istrinya.


"Aku tak perduli dengan itu! aku di sana bagai obat nyamuk yang harus melihat kemesraan mereka berdua, Sayang!" Zinnia mengadu pada suaminya.


Pria itu tersenyum mengusap lembut rambut panjang istrinya. "Jadi kau tak ada lawan untuk bermesraan?" tanya William dan Zinnia menganggukkan kepalanya.


"Uluh uluh! kasihan sekali sih istriku yang cantik ini," ujar William dengan nada suara khas sedang menenangkan anak kecil yang sedang merajuk.


"Apa kau sudah makan?" tanya William pada istrinya.


Zinnia sedikit memundurkan wajahnya agar ia dapat melihat wajah suaminya. "Belum! aku datang kemari ingin makan siang denganmu," sahut Zinnia dengan wajah yang masih cemberut.


"Kenapa kau menggemaskan sekali jika sudah manja begini."


"Makan yang mana yang kau inginkan, Sayang?" tanya William menggoda istrinya.


"Aku ingin makan bekal makan siangmu," sahut Zinnia masih dengan wajah cemberut.


"Tapi aku ingin memakanmu sekarang," tutur William menarik pinggang istrinya agar lebih dekat dengannya.


"Tapi perutku lapar, Sayang!" Zinnia menolak permintaan William halus.


"Adik kecilku juga lapar, Sayang!" William tak mau kalah terus memaksa Zinnia agar mau melakukan olahraga siang bersamanya.


Zinnia masih berpikir, kemudian beberapa detik ia tersenyum sembari mengangguk. "Tapi aku makan dulu karena perutku sudah lapar," tutur Zinnia pada suaminya.


William mengangguk semangat karena siang ini adalah siang yang sangat membahagiakan untuknya.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.