
Arnon dan Melati sudah sampai di kediaman mereka.
Arnon dan istrinya turun dari mobil, mereka jalan beriringan masuk ke dalam rumah. Ternyata di depan rumah, Pram telah menunggu keduanya.
Arnon mengehentikan langkahnya tepat di depan Pram yang langsung memberi hormat pada Tuan mudanya.
"Pram! ikut aku ke ruang belajar ... kau juga, Sayang!" Arnon menatap Melati sekilas, kemudian berjalan menuju arah ruang belajar diikuti oleh Melati dan Pram.
Mereka bertiga sudah berada di ruang belajar. Ketiganya duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu.
"Jelaskan semuanya, Pram!"
"Erick bekerja sama dengan ibu tiri, Nona! Erick dan Nyonya Anggi yang memesan obat perangsang level tinggi kepada salah satu teman, Erick! dan Nyonya Anggi yang membooking kamar 2020 untuk melancarkan aksinya pada, Nona muda!"
Melati masih tak mengerti maksud dari semua penjelasan Pram padanya.
"Apa maksud dari semua ini?" tanya Melati yang masih bingung.
"Kemarin saat aku membaca catatan darimu, aku langsung memerintahkan Pram agar dia menyelidiki apa yang di rencanakan oleh kedua wanita jahat yang berada di rumah papa Hadi dan beruntungnya tindakanku benar, sampai pada akhirnya kau di beri obat oleh, Erick! Dan lelaki gila itu membawamu ke dalam kamar hotel hendak bercinta sepuasnya denganmu, Istriku!"
Melati terperangah mendengar semua penjelasan dari Arnon. Ia sungguh tak menyangka jika Erick bisa berbuat hal segila itu.
"Ap-apa dia berhasil ... meniduriku?" tanya Melati yang memang lupa akan kejadian tadi malam hanya sebagian saja yang ia ingat.
Arnon tersenyum simpul sambil menganggukkan kepalanya mantap.
Wajah Melati menegang. Sekujur tubuhnya membatu. Ia sungguh tak menyangka jika dirinya sudah ternodai oleh pria lain selain suaminya sendiri.
Melati sungguh merasa sangat bersalah pada Arnon. Ia sebagai seorang istri tak dapat menjaga kehormatannya sendiri.
Buliran air mata jatuh membasahi wajahnya. Ia terus mencoba mengingat kejadian semalam, namun ingatan itu sungguh tak dapat ia ingat secara menyeluruh. Hal yang ia ingat hanya percintaan panasnya dengan Arnon.
"Maafkan ... aku, Sayang! aku ...."
Arnon memeluk istrinya erat. Sungguh ia merasa bersalah telah membuat Melati sampai menangis seperti itu.
"Cup cup cup! Sayang! maafkan aku? aku hanya bercanda, kau tahu sendiri bukan jika tadi pagi kita berada dalam satu kamar," jelas Arnon agar Melati menghentikan tangisannya.
Bukannya berhenti menangis, gadis itu semakin menjadi mengeluarkan air matanya.
"Sayang! aku mohon, berhentilah menangis, aku minta maaf," ujar Arnon.
Tangis Melati masih tetap terdengar di telinga Arnon.
Setelah cukup lama mengeluarkan air matanya, akhirnya intensitas tangisan Melati mulai berkurang.
Gadis itu menatap wajah Arnon. "Kau jahat padaku! kau tega membuatku sampai menangis seperti ini," tutur Melati dengan air mata yang kembali menggenangi pelupuk matanya.
"Sayang! kau tak tersentuh sedikitpun oleh pria gila itu, karena aku lebih dulu datang saat kau hendak di sentuh oleh, Erick."
Melati memukul dada suaminya kesal. Ia sungguh sudah merasa kecewa tadinya pada dirinya sendiri karena lelucon yang Arnon perbuat padanya.
Pria itu menahan tangan Melati dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.
"Maaf, Sayang! aku hanya ingin menggodamu saja."
"Itu keterlaluan! aku tak suka," ucap Melati membalas pelukan suaminya.
Keduanya tersenyum dalam dekapan pasangan masing-masing.
Pram hanya bisa diam tanpa bersuara ataupun bergerak bagai patung lilin.
"Hei, kalian berdua! aku masih disini, aku masih setia melihat kemesraan kalian! kasihanilah aku yang hanya seorang Asisten tanpa pasangan ini! huh, sungguh jiwa jombloku meronta ingin segera keluar dari ruangan ini," batin Pram.
Melati dan Arnon masih tetap mendekap satu sama lain, namun saat ekor mata Arnon menangkap sosok Asistennya masih berada di ruangannya, ia langsung sedikit melonggarkan pelukannya pada sang istri.
"He'em, kita lanjutkan pembicaraan kita yang tadi," ujar Arnon pada Pram.
Pram hanya mengangguk tanpa berkata apapun.
"Saya sudah menunggu dari tadi, Tuan! bahkan meskipun anda sedang asyik bermesraan, saya tetap menunggu dan dari sini saya bisa tahu, jika menunggu Anda itu sangat menyakitkan bagi lelaki jomblo seperti saya."
"Kau laporkan Anggi pada pihak berwajib! untuk, Erick! jangan biarkan dia keluar dari penjara, buat pria itu mendekam dalam sel tahanan dan perintah itu juga berlaku untuk Anggi."
"Baik, Tuan!"
"Kau boleh pergi sekarang," titah Arnon.
Pram memberi hormat kemudian berjalan keluar dari ruangan Bosnya.
Saat sudah berada di luar pintu, pria itu menghembuskan napas panjang.
"Huh! jika terus-menerus seperti ini, aku bisa sesak napas berlama-lama di dalam melihat mereka berdua," gumam Pram yang tak sadar jika ada pelayan yang lewat dan melihatnya tengah berbicara sendiri.
Pram tak ambil pusing. Pria itu tak menggubris pelayan tadi dan ia terus berjalan menuruni anak tangga.
Arnon dan Melati masih berada di ruangannya. Pria itu menatap wajah istrinya. Menghapus bekas air mata Melati yang masih menempel pada pipinya.
Melati juga menatap wajah suaminya dengan bibir yang di majukan ke depan.
Arnon tersenyum melihat bibir istrinya yang siap di terkam saat itu juga.
Tanpa menunggu waktu lama, Arnon langsung melancarkan aksinya secepat kilat.
Cup
Melati masih tetap cemberut dengan bibirnya yang masih di majukan.
Cup
Arnon mengecupnya lagi, namun kedua alis Melati masih tetap menyatu dan bibirnya masih tetap dalam posisi yang sama.
Bukan lagi kecupan yang di terima oleh Melati, melainkan ciuman manis dari suaminya.
Kedua bibir mereka sudah menyatu. Arnon tak ingin menyia-nyiakan kesempatan bagus itu. Ia langsung mengobrak-abrik bagian tubuh istrinya yang berwarna cerry tersebut.
Melati tersenyum di tengah ciuman mereka. Gadis itu mengalungkan tangannya pada leher sang suami.
Tangan Arnon mengelus lembut pinggang Melati dengan gerakan ke atas dan ke bawah.
Ciuman keduanya semakin intens. Saat Melati mulai membuka mulutnya untuk di jelajahi oleh Arnon, tiba-tiba ....
Ceklek
Suara pintu terdengar dan kedua sejoli itu seketika melepaskan penyatuan bibir mereka menoleh ke arah pintu.
Pelayan yang membuka pintu tersebut terkejut karena ia tak tahu jika di ruangan itu masih ada orang.
"Ma-maaf, Tuan muda! saya ...."
"Kau ini ...."
Melati menahan ucapan suaminya menggunakan telunjuknya.
Gadis itu menggelengkan kepalanya yang merupakan isyarat jika Arnon tak perlu melanjutkan kalimatnya.
Melati menatap ke arah pelayanan wanita yang masih tertunduk diam.
"Tidak apa-apa, Mbak! setelah kami keluar dari ruangan ini, Mbak bisa membersihkannya," ucap Melati ramah.
"Baik, Nona muda!"
Pelayan wanita itu bergegas keluar dari ruang belajar Arnon.
Melati melihat ke arah suaminya yang masih cemberut.
"Sayang! kau tak boleh seperti itu, dia mungkin memang tak tahu jika kita masih disini," jelas Melati.
"Tapi dia menggangu aktivitas kita, Sayang!"
"Kau ini! apa semalam masih kurang?" tanya Melati sambil geleng-geleng kepala.
"Kurang," sahut Arnon cepat.
Melati melebarkan matanya yang ingin melompat keluar.
"Apa kau serius? pinggangku masih sakit dan kau bilang masih kurang? hah, sungguh pria perkasa Suamiku ini," tutur Melati.
Arnon hanya nyengir kuda menanggapi ucapan istrinya.
"Sudah! ayo kita turun! aku ingin ke rumah Kak Agnez, dia masih sakit."
"Untuk apa kau kesana? dia itu wanita jahat!"
"Sayang?"
"Tidak mau!"
Melati berdiri kemudian menundukkan tubuhnya.
Cup
Kecupan manja ia berikan pada bibir suaminya kemudian berjalan keluar dari ruangan itu.
Arnon tersenyum sembari menyusul istrinya keluar dari ruang belajarnya.