Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 284 ( Season 2 )


Kelopak mata Sandra perlahan terbuka. Tubuhnya terasa berat seperti di tindih oleh beban yang sangat berat.


Sandra melihat ke arah dadanya dimana sebuah tangan kekar melingkar pada tubuhnya dengan jari-jari miliknya dan milik orang itu yang saling terkait satu sama lain.


Sandra tersenyum saat mengingat apa yang terjadi tadi malam.


Marquez tak membiarkan dirinya menutup kelopak matanya meskipun hanya sebentar saja.


Desainer tampan itu sungguh tangguh di atas ranjang. Sandra berusaha menyingkirkan tangan Marquez yang masih melingkar pada tubuhnya namun, tak bisa karena pelukan Marquez sangat erat.


"Jangan bergerak! aku masih mengantuk," gumam Marquez dengan mata yang masih terpejam.


Sandra menoleh ke arah suaminya yang masih tertidur. Mata Sandra beralih menatap ke arah ponsel yang berada di atas nakas dan meraihnya. Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi.


"Astaga! ini sudah sangat siang! kenapa sampai sesiang ini aku bangun," gumam Sandra sembari memejamkan matanya.


Kilas balik kejadian semalam kembali terbayang dalam benak Sandra saat suaminya membuat dirinya tidur jam 4 pagi.


Sandra kembali menoleh ke arah Marquez. "Ayo bangun! ini sudah siang," ujar Sandra mengusap wajah tampan nan polos Marquez saat dalam keadaan tidur seperti ini.


Mata Marquez perlahan terbuka dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah cantik sang istri dengan baju tidur yang sudah menutupi seluruh tubuhnya.


Untungnya tadi pagi mereka berdua sebelum tidur membersihkan diri terlebih dulu, jadi saat bangun, tak perlu khawatir dengan penampilan mereka yang berantakan karena peperangan semalam.


Marquez tersenyum pada Sandra. "Apa kau lelah?" tanyanya sembari melihat ke arah leher Sandra yang dipenuhi bercak merah keunguan.


Marquez kembali tersenyum pada istrinya. Belum juga Sandra menjawab pertanyaan Marquez, desainer tampan itu kembali berceloteh, "kenapa lehermu memerah seperti itu? apa ada mahluk halus yang mencoba menyentuhmu?"


Sandra spontan meraba bagian lehernya yang sedikit terasa perih.


Tatapan mata wanita itu menyorot mata suaminya tajam. "Yang menjadi mahkluk halusnya itu kau! dan aku sangat lelah karena kau membuat tubuhku seperti di remukkan menggunakan palu milik Thor di film Marvel itu," cecar Sandra ketus bercampur kesal.


Marquez hanya tersenyum karena ia senang sekali melihat istrinya pagi-pagi sudah menggerutu seperti ini.


Cup


"Selamat pagi, Istriku!"


Marquez memeluk erat sang istri dengan kepala berada di dada Sandra.


Asisten cantik itu hanya tersenyum sembari mengusap lembut rambut Marquez. "Mulai manja ini ceritanya?" tanya Sandra dan Marquez hanya menganggukkan kepalanya.


"Dasar bocah gede! sudah tua tapi berlagak menjadi anak-anak! kau sudah tak pantas masuk ke dalam kategori itu karena wajahmu sudah terlihat tua," cecar Sandra dan Marquez menengadahkan wajahnya menatap ke arah Sandra. "Tapi kau suka kan dengan bocah tua ini?" tanya Marquez balik meledek istrinya.


"Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa suka dengan bocah tua macam dirimu ini! padahal pria tampan di luar sana masih sangat banyak! apalagi wajah para CEO ...."


Marquez menarik tengkuk Sandra dan memakan habis bibir istrinya.


Sandra berusaha melepaskan ciuman ganas suaminya namun, Marquez mengunci tangan istrinya.


Karena sudah puas dengan bibir Sandra, akhirnya Marquez melepaskan pangutan mereka. "Ini hukuman untukmu karena sudah berani membuatku cemburu, Nyonya Copaldi!" Marquez tersenyum simpul sembari membuka satu persatu kancing baju tidur istrinya.


"Mau apa?" tanya Sandra pura-pura bodoh.


"Mau menggarapmu lagi agar kau tak membicarakan para CEO yang ingin kau sebut tampan itu!"


"Tapi ...."


"Diam, Sayang! apa kau ingin aku membuatmu berteriak seperti tadi malam lagi," ancam Marquez pada Sandra.


Asisten Zinnia itu menggelengkan kepalanya tak mau.


Marquez tersenyum menang. "Bagus! kau nikmati saja."


"Tapi ...."


"Tapi apa lagi?" tanya Marquez sedikit kesal karena Sandra seakan menunda penyatuan mereka untuk yang kesekian kalinya.


"Eeee, anu ... itu ...."


"Anu, itu apa sih, Sayang?" tanya Marquez frustrasi karena istrinya berbelit-belit untuk mengungkapkan sesuatu.


"Ituku masih sakit," adu Sandra dengan raut wajah malu-malu.


Marquez awalnya terkejut namun, sedetik kemudian keterkejutan itu berubah menjadi seutas senyum.


Marquez menyentuh pipi istrinya. "Aku akan pelan-pelan, Sayang!"


"Sungguh!" Marquez menyahut.


Sandra mengangkat jari kelingkingnya. "Janji?"


Marquez tersenyum karena istrinya ini umurnya saja yang dewasa, tapi sifatnya masih seperti anak-anak. "Janji, Sayang!" Marquez menautkan jari kelingkingnya.


Sandra tersenyum dan mengangguk. Anggukan Sandra bagai sumber air yang muncul di tengah padang pasir yang tandus.


Perlahan tapi pasti kini tangan Marquez sudah mulai satu persatu membuka kancing baju tidur Sandra dan dengan cepat Marquez menarik selimut putih kamar hotel itu untuk memulai ritual sarapan paginya.


Di rumah besar William, Zinnia tengah berada di wastafel dapurnya memuntahkan isi perutnya yang baru saja ia makan.


Zinnia masih tetap mual dan muntah jika makanan yang ada di meja makannya tak sesuai dengan seleranya atau bau makanan itu terlalu menyengat.


"Apa perlu saya telepon Tuan, Nyonya?" tanya Asih yang tengah mengusap punggung majikannya.


"Ti ... dak ... perlu A ... huek huek huek!"


Zinnia kembali ingin memuntahkan isi perutnya yang sudah kosong karena dari tadi ia sudah memuntahkan semua makanan yang baru saja ia makan.


Setelah rasa mual yang dirasakan oleh Zinnia berkurang, desainer cantik itu membersihkan mulutnya dengan air mengalir dari kran wastafel di dapurnya.


"Apa Nyonya ingin makan sesuatu?" tanya Asih pada Tuannya.


"Tidak! aku hanya ingin istirahat saja," sahut Zinnia dan Asih dengan sigap memapah Zinnia yang sudah terlihat sangat lemah karena makanan yang dimakan oleh Nyonya mudanya keluar tak tersisa.


Saat ini Zinnia sudah berada di dalam kamarnya dan Asih secara perlahan membantu membaringkan tubuh tuannya.


"Saya buatkan teh jahe ya, Nyonya?" tanya Asih menawarkan lagi.


"Tidak, Kepala Pelayan Asih! aku hanya ingin istirahat," tolak Zinnia halus dengan suara lemahnya.


"Jika Anda perlu sesuatu, Anda bisa langsung menghubungi saya, Nyonya!"


"Ya!"


Asih segera undur diri dari hadapan Nyonya mudanya.


Zinnia menatap langit-langit kamarnya yang nampak putih polos dengan ornamen putih tulang menyerupai bunga mawar putih namun masih terlihat tak terlalu timbul.


Desainer cantik itu mencoba memejamkan matanya. Ia ingin beristirahat sejenak karena rasa mualnya masih sedikit menderanya tak hilang seutuhnya.


Zinnia mencoba untuk tidur agar tubuhnya terasa lebih baik saat ia nanti sudah bangun namun, mata itu tak mau menghantarkan dirinya ke alam mimpi.


Zinnia membuka matanya kembali melihat Langit-langit kamarnya. "Sayang! Mommy mohon pada kalian berdua! jangan buat Mommy seperti ini ya, Sayang! biarkan Mommy istirahat karena Daddy kalian sedang bekerja," gumam Zinnia sembari mengusap lembut perut ratanya yang mulai sedikit terasa lebih gendut dari biasanya.


Mata Zinnia terpejam saat ia berusaha menenangkan pikirannya agar tak kembali mual.


Tangan Zinnia tak sengaja berpindah dan mengenai ponselnya yang tergeletak sembarangan di atas kasur.


Zinnia segera membuka matanya dan melihat ke arah ponselnya.


Istri William itu mengambil ponselnya dan mulai mengutak-atik benda pipih miliknya.


Zinnia mulai berselancar menggulir layar ponselnya dari mulai akun media sosialnya dan sampai pada akhirnya ia berakhir di YouTube.


Saat ia menggulir aplikasi itu untuk melihat sesuatu yang lucu atau menarik, mata Zinnia tersita pada sebuah makanan yang menurutnya patut ia coba dan yang jelas liurnya hampir saja berceceran di atas kasur. "Makanan apa ini?" tanya Zinnia mulai menekan tombol play dan melihat proses pembuatannya.


"Sepertinya enak sekali!" Zinnia melihat apa nama makanan itu karena ada dua jenis makanan yang ditampilkan pada video yang saat ini ia tonton. Minuman dan makanan tadi.


Zinnia melihat di description box dan nama makanan itu adalah serabi.


Desainer cantik tersebut sampai menelan ludahnya saat serabi yang sudah jadi dan sudah di sajikan dengan cantiknya di potong dengan pisau dan durian yang di buat topping beserta keju yang ditaburkan di atasnya terlihat sangat menggoda lidah para pemirsa yang melihatnya. Potongan kecil serabi itu di tusuk menggunakan garpu dan di perlihatkan lebih dekat lagi ke arah kamera agar lebih menggugah selera para pemirsa yang menyaksikan tayangan itu.


"Sepertinya serabi dengan topping durian dan keju ini sangat enak! aku ingin sekali memakan makanan ini," gumam Zinnia menatap layar ponselnya dengan tatapan ingin meneteskan liurnya sekarang juga.


Zinnia menghentikan menonton video yang bisa membuatnya banjir akan liurnya sendiri. Ibu hamil itu keluar dari aplikasi tersebut dan segera menghubungi suaminya.


Tak ada sahutan dari William yang ada hanya suara operator. "Kemana sih dia? apa sedang sibuk?" tanya Zinnia pada dirinya sendiri.


Ibu hamil itu mulai merajuk dan memeluk gulingnya erat membayangkan jika guling itu adalah suaminya. "Rasakan kau! ih! ih!" Zinnia memeluk begitu erat guling itu seakan ia tengah mencekik suaminya karena kesal.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.