
Wajah Marquez terkejut melihat isi dari kotak hadiah yang Niken titipkan pada ibunya untuk dirinya.
Ada sebuah cincin dari tanaman merambat dan mahkota bunga yang sudah mengering serta sebuah flashdisk di dalam kotak itu.
Marquez teringat akan kenangan beberapa tahun silam saat ia masih kecil.
Marquez dan Niken saat itu bermain di sebuah kebun bersama kakek dan nenek mereka. Marquez membuat sebuah cincin dan mahkota bunga untuk Niken kala itu.
Saat cincin dan mahkota itu sudah selesai dibuat, Marquez meletakkan mahkota bunga itu pada kepala Niken dan ia sematkan pula cincin tersebut pada jari manis Niken.
Marquez kala itu mengatakan jika kelak ia akan menikahi Niken saat sahabatnya itu sudah dewasa dan kejadian itu terjadi sebelum Marquez bertemu dengan Zinnia.
Ingatan itu berputar di kepala Marquez. Saat ia melihat cincin dan mahkota bunga tersebut ingatannya kembali.
"Jadi dia masih menyimpan barang-barang ini?" tanya Marquez pada dirinya sendiri.
Sandra menghampiri suaminya. Ia melihat barang-barang yang berada di dalam kotak pemberian Niken tadi. "Apa itu? sepertinya barang itu sudah sangat lama sampai mengering seperti itu," celetuk Sandra yang penasaran.
"Ini cincin dan mahkota dari tumbuhan merambat," jelas Marquez pada Niken.
William dan Zinnia menghampiri pasangan pengantin baru itu. "Kenapa kalian ada disini? tamu sudah berdatangan untuk mengucapkan selamat pada kalian berdua," tutur Zinnia pada keduanya.
William melihat ke arah kotak yang di pegang oleh Marquez. "Itu flashdisk kan?" tanya William dan Marquez melihat ke arah flashdisk tersebut.
"Gerry! kau membawa laptop di mobil?" tanya Marquez pada Asistennya.
"Iya, Tuan!"
"Cepat ambil sekarang!"
Semua orang yang berada di sekitar Marquez termasuk Sandra bingung kenapa Marquez harus meminta asistennya mengambil laptop.
"Untuk apa, Sayang?" tanya Sandra pada suaminya.
"Aku ingin melihat apa isi dari flashdisk ini," sahut Marquez memperlihatkan flashdisk yang kini sudah berada di tangannya.
Gerry sudah membawa laptop yang diminta oleh Marquez. "Sebaiknya kita di ruang privat saja, Tuan!" Gerry menyarankan pada Bosnya.
Marquez segera mengikuti arah Gerry melangkah, begitu pula dengan William, Zinnia, dan Sandra.
Mereka berlima dengan Gerry sudah berada di private room.
Gerry sudah menghidupkan laptopnya dan Marquez segera menancapkan flashdisk itu, kemudian mencari file apa yang berada di dalamnya.
Ia melihat sebuah file dengan nama "Ungkapan Niken".
Marquez mengklik file tersebut dan disana terdapat video Niken.
Marquez melihat ke arah sang istri untuk meminta izin, "Apa aku boleh melihatnya?"
Sandra menganggukkan kepalanya. "Kau harus melihatnya, Sayang! mungkin ada sesuatu hal yang ingin disampaikan oleh, Niken!"
Marquez menekan tombol play pada layar laptop itu karena laptopnya tipe touchscreen.
Saat videonya itu sudah diputar, wajah pertama yang muncul adalah Niken.
Wajah wanita itu sudah bersih akan makeup tebalnya. Niken tersenyum memandang ke arah camera seakan ia tengah menatap seseorang.
"Hai, Marq! apa kabar?" Niken tersenyum. "Selamat atas pernikahanmu dan Sandra! aku yakin saat ini kau pasti bahagia kan?" Niken kembali tersenyum dengan wajah yang sudah semakin pucat.
"Maaf karena aku tak bisa datang ke acara pesta pernikahan kalian! aku merasa lelah ingin istirahat, dan untuk hadiah itu aku berikan padamu agar kau memberikan cincin dan mahkota itu pada, Sandra! sekarang wanita yang menjadi istrimu bukan aku, tapi dia!" Niken menatap ke atas mencoba menahan air matanya yang sudah hampir banjir.
"Untuk video ini aku sengaja membuatnya agar kelak kau bisa ingat padaku meskipun aku sudah tiada!" suara Niken bergetar dalam video itu.
Mata Sandra mulai menggenang air mata. Begitu pula dengan Marquez dan yang lain juga ikut menahan air mata mereka.
"Semoga kalian berdua bahagia sampai ajal memisahkan ya! ... dan terima kasih karena kau sudah memberikan aku sebuah rasa bagaimana bahagianya, indahnya, dan nikmatnya jatuh cinta pada seseorang! semenjak kau mengatakan kau ingin menikah denganku waktu itu, aku selalu mengingat perkataanmu dan kau satu-satunya pria yang ada di dalam sini," tunjuk Niken pada dadanya.
Niken tersenyum kembali. "Seharusnya aku tak menganggap serius ucapan seorang anak laki-laki! mungkin aku terlalu terbawa perasaan padamu sehingga perasaan ini hanya aku yang merasakan sendiri tanpa balasan, membuat hubungan kita beberapa tahun terakhir merenggang! tapi kau tenang saja! aku sudah belajar untuk melupakan perasaan ini. Jika saat aku sudah tak berada di sekitarmu, pasti aku akan merindukanmu jika perasaan ini terus tumbuh di hari terakhirku, jadi aku akan berusaha untuk melupakannya."
Marquez masih diam tanpa suara begitu pula dengan yang lainnya hanya sebulir air mata yang jatuh di pipi Zinnia dan Sandra saat mendengar pengakuan cinta yang teramat sangat besar oleh Niken untuk Marquez.
"Aku minta maaf karena tak memberitahumu perihal mengundang Sandra kemari untuk menggantikan aku sebagai pengantin wanita! aku melakukan itu semua agar kau bisa bahagia, aku tak ingin kau merasa terbebani saat kau benar-benar menjadi suamiku hari ini!" Niken menundukkan kepalanya, kemudian kembali menatap ke depan. "Aku melakukan itu semua demi kebahagiaanmu dan aku ingin kau menikah dengan wanita yang kau cintai dan perlu kau ketahui, jika pernikahan ini bukan aku yang memintanya, ini semua murni keinginan orangtuaku yang merasa kasihan padaku karena sebentar lagi aku akan ...."
Niken tersenyum kecut kala ia tak dapat melanjutkan perkataannya sendiri.
"Saat ini kau tak perlu merasa kasihan padaku! yang terpenting kau harus hidup bahagia bersama Sandra yang sudah sah menjadi istrimu! aku hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan kalian dan aku juga berdoa pada Tuhan jika memang aku akan pergi saat ini juga aku harap ada pria di surga menantiku yang mirip seperti dirimu mengatakan jika dia mencintaiku, meskipun hanya ada dalam khayalanku saja."
Tiba-tiba darah segar mengalir lewat hidung Niken dan Sandra menutup mulutnya menggelengkan kepala karena terkejut.
Zinnia juga ikut terkejut karena Niken yang berada di dalam video itu menundukkan kepalanya mengambil beberapa lembar tisu untuk membersihkan darah segar yang keluar dari hidungnya.
Marquez menegang seketika. Ia merasa pria paling bodoh sedunia karena tak memberikan kesempatan pada Niken untuk berkencan dengannya waktu itu, meskipun sebagai kencan terakhir dalam hidup sahabatnya.
"Jangan mengasihani diriku! aku wanita tangguh dan kuat! satu hal yang pasti ... aku mencintaimu, Marquez! sangat ... mencintaimu!" lagi-lagi darah segar keluar dari hidung Niken dan wanita itu berbalik badan menghapusnya.
Niken memegangi kepalanya. Sepertinya sahabat Marquez itu tengah kesakitan.
Niken berbalik badan menghadap ke arah kamera lagi untuk mematikan rekamannya.
Dengan tangan yang memegangi kepalanya menahan sakit dan tangan satunya lagi berusaha mematikan rekaman pada cameranya.
Wajah semua orang panik karena kondisi Niken sepertinya memburuk.
"Apa di sana ada petugas medis yang berjaga?" tanya William dengan suara tegas karena ia melihat kondisi Niken sangat buruk.
Marquez menoleh ke arah William dengan mata memerah dan wajah penuh ketakutan akan kehilangan sahabatnya yang tak pernah ia bahagiakan. "Tidak ada! dia tak mau ada petugas medis dirumahnya," sahut Marquez.
"Kita kesana sekarang!" William mulai mengintruksikan karena kondisi Niken bisa lebih buruk dari itu.
Mereka semua bergegas keluar menuju arah parkiran dan tentunya bukan dari pintu utama tapi melewati pintu darurat.
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.