Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 141


Melati sudah berada di ruangan yang telah di siapkan oleh suaminya.


Semua sahabat, keluarga dan para pelayan rumah berkumpul di ruangan itu.


Semua orang yang hadir, sudah mengenakan pakaiannya yang pas untuk acara baby shower putri pertama Arnon dan Melati.


Mereka semua masih diam tanpa ada yang bersuara karena penutup mata Melati masih belum di buka.


"Kenapa berhenti? apa sudah sampai?" tanya Melati pada pengawal yang tak lain adalah suaminya sendiri.


"Sudah!"


Melati hendak membuka penutup matanya, namun tangan Arnon menghentikan pergerakan tangan Melati.


Karena merasakan ada tangan yang menyentuh pergelangan tangannya, Melati langsung menepis tangan Arnon.


"Hei, Pak pengawal! aku kan sudah bilang tadi! jangan berani menyentuhku," ujar Melati dengan wajah yang sudah kesal.


Tanpa pikir panjang, ibu hamil itu langsung membuka ikatan penutup matanya dan melemparnya sembarang.


Saat kedua mata Nyonya Arnon itu terbuka, alangkah terkejutnya karena pria yang sedari tadi yang membawanya ke ruangan itu adalah Arnon, suaminya sendiri.


"K-kau? k-kenapa kau ...."


Ucapan Melati seketika terhenti saat melihat semua orang mulai dari keluarga dan sahabat berkumpul di ruangan itu.


Mata Melati kembali di manjakan oleh dekorasi indah nan cantik yang membuat hatinya seketika merasa tersentuh kala tulisan "BABY" terpampang di atas tart susun tiga yang sudah tertata rapi dengan berbagai macam makanan manis lainnya. Belum lagi tulisan pada dekorasi dinding " My Baby Girl".


Mata Melati kembali menatap ke arah suaminya. "Apa ... ini semua untukku dan anak kita?" tanya Melati dengan wajah penuh tanya.


Arnon tersenyum pada Istrinya sembari menganggukkan kepalanya menandakan jika semuanya itu memang ia siapkan untuk sang istri dan calon anaknya.


Wanita berperut buncit itu langsung berhambur ke dalam pelukan Arnon. " Terimakasih, Sayang! aku mencintaimu," tutur Melati mengeratkan pelukannya pada Arnon.


Aktor tampan itu juga membalas pelukan hangat istrinya. "Aku juga mencintaimu! apapun akan aku lakukan untuk kalian berdua, karena selain keluargaku, kau dan anak kita bagian dari harta terindah yang di berikan Tuhan padaku, Sayang!"


Melati menengadahkan wajahnya menatap setiap inci sudut wajah Arnon dan aktor tampan itu juga tengah menatap wajah istrinya.


"Anak kita pasti ingin sekali cepat berada di dunia karena dia tahu jika Daddy-nya sangat menyayanginya," ujar Melati tersenyum pada Arnon.


"Dia juga pasti ingin segera bertemu denganmu, Sayang! karena Mommy-nya sangat cantik," tutur Arnon menggesekkan ujung hidungnya pada hidung Melati.


Keduanya sama-sama tersenyum, namun raut wajah Melati seketika berubah saat melihat ke arah pipi Arnon yang sempat ia tampar. "Apa kau pengawal itu?" tanya Melati memastikan.


"Tentu saja, Sayang! dan aku juga orang yang merancang semua acara ini dan kau juga sempat menyebutnya orang gila," jelas Arnon menatap istrinya dengan mata yang sudah menyipit.


Melati tak bereaksi, ia hanya menatap kedua mata Arnon.


"Kau bilang akan memberikan aku sesuatu, berikan sekarang, Sayang! aku ingin tahu bagaimana hukumanmu itu," ledek Arnon.


Tangan Melati menyentuh pipi Arnon yang sempat ia tampar. Ibu hamil itu mengusap lembut pipi suaminya.


"Aku pasti akan memberikan hukuman pada orang yang sudah berani membuatku lelah harus berjalan dengan mata tertutup!"


Arnon menunggu hukuman apa yang akan Melati berikan padanya.


Satu detik menunggu ....


Dua detik menunggu ....


Tiga detik menunggu ....


Saat hitungan detik sudah hampir pada angka empat, bibir lembut Melati mendarat sempurna pada pipi Arnon dengan durasi yang cukup lama.


Setelah sekiranya cukup membuat pipi itu terasa lebih baik, Melati melepaskan kecupannya. "Apa hukuman ini masih kurang?" tanya Melati menatap kedua manik mata Arnon.


Pria itu mendekatkan bibirnya pada telinga Melati. "Hukuman ini belum ada apa-apanya, Sayang! aku ingin nanti malam kau memuaskannya aku," bisik Arnon.


"Hei, kalian berdua! kapan acara baby shower ini akan dimulai, jika kalian masih asyik bermesraan seperti itu," tegur Hamish.


Sontak semua orang yang hadir tertawa mendengar celetukan mulut sahabat Arnon tersebut.


"Kita mulai sekarang acaranya," tutur Arnon dan diangguki oleh Melati.


Acara inti sudah selesai dilakukan, kini tiba acara dimana Melati akan membaca harapan dari semua orang yang datang untuk dirinya dan sang anak.


Melati mengambil kertas yang sudah di gulung dengan pita yang melingkar indah di gulungan itu. Ia mulai membuka dan membaca isi dari harapan entah dari siapa.


Saat ia membaca siapa yang menulis harapan tersebut. Melati menatap ke arah Agnez dengan senyumnya.


"Semoga ibu dan anaknya selalu sehat dan dalam lindungan yang maha kuasa, from Aunty Agnez."


Mati meletakkan gulungan kecil harapan Agnez untuknya dan sang bayi. Ia kembali mengambil gulungan lainnya.


Melati membuka gulungan kedua dan melihat siapa yang menulis harapan tersebut.


Melati hanya tersenyum saat membaca si penulis harapan.


"Semoga Baby Girl bisa menjadi menantuku, from Uncle Edward."


Saat Melati selesai membacakan harapan yang Edward tulis, tiba-tiba tendangan kuat dari perut Melati mengejutkan wanita berkulit eksotis tersebut.


DUKK


"Awwww!"


Melati merintih karena tendangan bayinya begitu kuat. Arnon yang berdiri di samping istrinya segera menyentuh kedua bahu Melati dengan wajah cemas.


"Apa kau baik-baik saja, Sayang?" tanya Arnon.


"Aku tak apa-apa, hanya saja setelah selesai membaca harapan dari, Edward! tendangan dari bayi kita sungguh kuat sekali," jelas Melati mengusap lembut perut buncitnya.


Arnon juga ikut mengusap lembut perut buncit istrinya. "Jangan mengejutkan Mommy, Baby!" Arnon kembali mengusap lembut perut Melati.


"Itu artinya dia merespon dengan harapan yang aku tulis, Ar! dan aku yakin, jika putrimu ingin aku menjadi calon ayah mertuanya," tutur Edward bangga.


"Apa kau sedang sakit? kau saja belum menikah! bagaimana bisa kau menjadi besanku? jangan konyol, Ed!"


"Kau lupa jika aku ...."


"Sudah! aku tak ingin mendengar perkataan konyolmu itu," potong Arnon.


"Lanjutkan lagi, Sayang!" Arnon meminta Melati untuk melanjutkan kembali membaca harapan lainnya.


Melati kembali membuka gulungan yang ketiga. Saat ia membaca siapa penulis harapan itu, mata Melati tertuju pada Hamish.


"Harapanku untuk keluarga kecil kalian, semoga keponakanku yang akan lahir dua bulan lagi, bisa memiliki adik 10, from Uncle Hamish."


Mata Arnon membelalakkan sempurna, sedangkan Melati hanya cekikikan melihat suaminya sudah menatap Hamish tajam.


"Apa kau kira aku akan membuat club sepakbola? huh, kau sungguh lebih konyol dari, Edward!"


Semua orang yang hadir ikut tertawa mendengar umpatan Arnon.


Melati membuka semua gulungan itu satu persatu sampai selesai.


Semua orang yang hadir ikut tertawa mendengar tiap gulungan yang masih ada harapan konyol dari sahabat Arnon.


Melati dan Arnon berdiri tepat di belakang meja dan yang lain duduk di karpet yang sudah tergelar rapi.


Semua itu memang konsep yang Arnon buat agar acara baby shower untuk anak dan istrinya nampak lebih santai seperti di pantai.