
Melati dan Arnon bersiap dan turun ke bawah untuk pulang.
Saat keduanya telah sampai di bawah, Melati melihat Asisten Pram telah menunggu mereka.
"Asisten Pram? untuk apa kau di sini?" tanya Melati dengan wajah kebingungan.
Arnon menggenggam tangan Melati erat.
"Sayang, kau kira aku menjentikkan jariku semua lampu akan begitu saja hidup seperti di negeri dongeng? semua itu berkat bantuan Om jin ini," jelas Arnon pada Melati.
"Tapi ... kasihan istrimu jika sampai malam begini kau belum pulang, dia pasti memikirkanmu," tutur Melati dengan raut wajah iba.
Tawa Arnon menggelegar di tengah hamparan bunga yang tengah bermekaran.
"Apa kau bercanda? dia itu masih lajang,Sayang!" tawa Arnon masih terdengar mendayu di bawa oleh terpaan angin.
Wajah Asisten Pram nampak tersenyum kikuk mendengar kedua Tuannya sedang memperdebatkan statusnya yang masih melajang.
Melati masih tak percaya dengan apa yang di katakan oleh suaminya.
*"Apakah yang di ucapkan Arnon itu benar adanya? tapi aku tak percaya," batin Melati yang masih ingin memastikan kebenarannya.
"Benarkah? kau masih lajang, Asisten Pram?" tanya Melati.
"Benar, Nona!" Pram menjawab dengan tegas.
Jawaban Pram sangat menohok bagi Melati. Bagaimana tidak, seorang pria yang pekerjaannya sudah mapan masih belum mempunyai istri dengan usia yang kira-kira hampir sama dengan suaminya.
"Kau serius? jangan main-main Asisten Pram! umur yang sudah tua begitu kau masih belum juga menikah?" Melati sudah frustrasi menerima kenyataan yang ada karena orang terdekatnya yang berusia 30 tahun masih belum menikah. Lebih tepatnya belum genap 30 tahun, termasuk suaminya dan asisten pribadinya.
"Astaga, Nona! kenapa anda tak memfilter perkataan anda! apa anda sadar jika umur saya dan Tuan muda itu sama, secara tak langsung anda juga mengolok-oloknya," pikir Pram.
"Sayang, umurku juga hampir 30 tahun! aku juga sudah tua, apa kau masih mau denganku?" tanya Arnon menarik pinggang Melati agar jarak mereka lebih dekat.
"Aku masih tetap mau padamu karena aku mencintaimu meskipun usiamu sudah tua," jelas Melati.
"Harus berapa lama aku menjadi obat nyamuk di sini," batin Pram yang di buat gerah dengan kelakuan kedua Tuan dan Nona mudanya.
Di rumah Hadi, semua keluarga sudah berada di meja makan untuk makan malam.
"Melati belum pulang, Ma?" tanya Hadi.
"Belum, Pa! kenapa?" tanya Anggi sambil melahap makanannya.
"Tidak apa-apa, Ma! hanya saja aku kepikiran dengan anak itu."
"Sudahlah, Pa! Melati itu sudah punya suami, apalagi dia sekarang pergi dengan suaminya yang kaya itu, jadi Papa tak perlu cemas," sahut Anggi.
"Iya, Ma! kau benar."
"Berlebihan sekali Papa ini, sudah tahu Melati pergi dengan suaminya tapi masih saja cemas seperti itu," pikir Anggi yang sedikit tak suka dengan sikap suaminya.
Arnon dan Melati sudah berada di dalam mobil menuju arah pulang ke rumah baru Hadi.
Mereka berdua masih tetap bergandengan tangan. Melati melihat ke arah lampu jalan yang bersinar indah di sepanjang jalan pulang.
"Apa kau masih ingat wajah, Mama?" tanya Arnon pada Melati yang masih fokus melihat lampu jalan.
Gadis itu menoleh ke arah suaminya. "Aku tak ingat wajah mama karena umurku waktu itu masih 2 tahun." Wajah Melati tertunduk sambil mengusap tangan Arnon yang menggenggam tangannya.
Pria itu tahu jika istrinya pasti merasa sedih tak bisa mengingat wajah ibu yang melahirkannya.
"Aku hanya tahu dari foto saja," sambung Melati lagi.
Arnon menarik Melati dalam pelukannya.
"Kau tak perlu sedih, Sayang! ada mommy yang juga sangat sayang padamu." Mengusap lembut rambut halus Melati.
"Jangan ada tangisan lagi untuk kedepannya kecuali tangisan bahagia karena aku tak akan membiarkan air mata kesedihan jatuh dari matamu lagi." Arnon mengeratkan pelukannya pada Melati.
"Apa kau lapar? kita masih belum makan dari tadi siang," ujar Arnon.
"Kita makan di rumah saja, aku akan memasak untukmu," sahut Melati mencari posisi ternyaman pada dada bidang Arnon.
"Baiklah, aku juga rindu masakanmu," celetuk Arnon yang di tanggapi senyuman oleh Melati.
Setelah cukup lama roda mobil itu bergulir di tengah jalan raya, akhirnya Melati dan Arnon sampai di rumah baru Hadi.
Mereka berdua turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.
Pelayan sudah menyambut keduanya di depan pintu masuk.
Melati dan Arnon berada di dekat tangga menuju lantai atas.
"Kau mandilah dulu, aku akan memasak di dapur," pinta Melati menyerahkan jas yang ia pakai pada suaminya.
"Baiklah, aku ke atas dulu." Mencium kening Melati lama dan gadis itu memejamkan matanya menikmati ciuman dari Arnon.
Arnon melepaskan ciumannya berjalan menuju lantai atas, sedangkan Melati menuju dapur untuk memasak makan malam untuknya dan Arnon.
"Baru pulang ya? enak sekali jadi Nyonya Arnon, bisa pulang kapan saja jika perlu tak pulang juga tak apa," ucap Anggi ketus.
Melati tak memperdulikan ocehan ibu tirinya yang memang sudah menjadi santapan tiap hari gadis itu saat masih belum menikah dengan Arnon.
"Tak perlu berlagak tak perduli, kau pasti dengar kan ucapkanku? untuk apa kau masih memasak jam segini? kami semua sudah makan jika menunggumu pulang bisa-bisa papamu itu mati kelaparan," ucap Anggi lagi yang membuat kesabaran Melati sudah tak dapat di tahan. lagi.
"Cukup, Ma! kenapa Mama berkata seperti itu? perkataan itu adalah doa, jadi tolong jaga bicara Mama."
"Anak kemarin sore sudah berani menceramahiku rupanya ya? ingat! sebelum kau menikah dengan suamimu yang kaya itu kau hanya pelayan restoran yang tak punya apa-apa." Menyeringai dengan wajah mengejek.
"Jika saja bukan karena ide mamamu yang sudah mati, kau tak mungkin menikah dengan orang kaya seperti Arnon." Anggi kembali mengeluarkan kata-kata pedasnya.
"Cukup, Ma ... cukup!" Melati berteriak pada ibu tirinya karena amarahnya kali ini sudah di ambang batas.
Gadis itu bisa saja menampar mulut culas Anggi, namun ia masih menganggap wanita itu sebagai orang tuanya jadi niatnya ia urungkan.
"Baru di cerca begini saja sudah berteriak, apalagi kata-kataku lebih pedas dari ini?" Anggi melenggang pergi dengan senyuman licik.
Badan Melati luruh ke lantai. Gadis itu tak mengerti kenapa Anggi sangat membencinya, padahal ia tak pernah sekalipun menyakiti hati ibu tirinya itu.
"Mama ... aku rindu mama," gumam Melati memeluk erat kedua lututnya.
Tanpa Melati sadari, ada sepasang mata yang menyaksikan kejadian tadi.
Pria tampan yang sangat mencintainya tidak menyangka jika hidup Melati sangat memprihatinkan sebelum istrinya itu menikah dengannya.
Pria itu adalah Arnon. Ia mendekati Melati yang masih duduk memeluk lututnya di lantai.
"Sayang! apa kau baik-baik saja?" tanya Arnon menyentuh kedua bahu Melati lembut.
Gadis itu melihat ke arah Arnon dan langsung berhambur memeluk suaminya.
Isak tangis Melati kembali terdengar di telinga suaminya. "Sayang! jangan menangis lagi, aku tak ingin melihatmu seperti ini," ujar Arnon menenangkan istrinya yang masih tetap menangis.
"Aku kira mama Anggi itu baik pada Melati, ternyata dia membuat istriku tersiksa selama ini." Rahang Arnon mengeras saat mengetahui kenyataan pahit yang Melati alami selama ini.
"Sekali lagi dia membuat wanitaku menangis, lihat saja apa yang akan aku lakukan padanya," batin Arnon.
"Kau tak perlu memasak lagi, kita makan di luar saja," pinta Arnon masih terus mengusap rambut panjang Melati.
Gadis itu menatap ke arah suaminya. "Tapi aku ingin memasak untukmu? kau tunggu di meja makan saja, aku akan melanjutkan membuat makanannya." Melati berdiri hendak melanjutkan memotong bawang bombay dan kawan-kawannya, namun Arnon mencegah gadis itu.
"Apa boleh aku membantumu?" tanya Arnon di iringi senyumannya.
Melati akhirnya tersenyum membalas senyuman Arnon. "Kau boleh membantuku, kau potong saja bawang ini ya?"
Arnon tanpa pikir panjang melakukan apa yang Melati suruh padanya, namun belum juga bawang itu selesai di potong, mata Arnon terasa perih dan pria itu menyentuh matanya dengan tangan yang ia gunakan untuk memotong bawang.
"Mataku perih sekali,Sayang!"
Melati yang sedang mencuci sayur kol menoleh ke arah Arnon. Gadis itu menghampiri suaminya yang sedang sibuk mengucek matanya.
"Kau kenapa?" tanya Melati menyingkirkan tangan Arnon yang masih setia berada di kedua matanya.
"Mataku terasa perih saat memotong bawang itu," adu Arnon pada Melati.
" Kau ini, apa kau tak tak pernah memotong bawang sebelumnya?" tanya Melati menuntun Arnon ke arah wastafel untuk mencuci tangan suaminya.
"Jangankan memotong, memegang pisau saja aku tak pernah," sahut Arnon dengan mata terpejam.
Melati hanya bisa tersenyum mendengar ucapan suaminya. Ia membantu mencuci tangan Arnon,kemudian mengelapnya sampai kering.
"Kau cuci matamu sendiri, setelah itu rasa perihnya akan hilang," pinta Melati pada Arnon.
Pria itu mengambil air dan membasuh ke wajahnya sampai rasa perih pada matanya hilang.
Melati mengambil beberapa lembar tisu yang ada di meja bar dan membersihkan wajah Arnon yang masih basah.
Mata Arnon perlahan terbuka. Pria itu tak merasakan rasa perih lagi pada kedua matanya.
"Bagaimana? masih perih atau tidak?" tanya Melati.
"Masih perih, Sayang! apa kau bisa membantuku untuk melihatnya?"
"Baiklah! tundukan sedikit badanmu," pinta Melati dan pria itu menuruti permintaan istrinya.
Melati membuka sedikit kelopak mata Arnon dan melihat mungkin ada sesuatu yang masuk ke dalam mata suaminya.Saat gadis itu tengah fokus, Arnon tersenyum membuka sedikit sebelah matanya kemudian mengecup bibir Melati.
Cup
"Aku rasa mataku sudah tak sakit lagi," ujar Arnon yang menegakkan badannya kembali.
Melati menatap Arnon tajam. "Aku tahu kau pasti sengaja kan?"
"Begitulah." Arnon berlari menuju meja makan sambil berteriak, "aku akan menunggumu di meja makan,Sayang!"
Melati hanya bisa tersenyum melihat tingkah kekanakan Arnon. Gadis itu melanjutkan kembali pekerjaannya.