Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 209 ( Season 2 )


Marinka tengah memoles bibir tebalnya dengan lipstik berwarna coklat. Wanita itu tersenyum pada dirinya sendiri saat melihat pantulan wajahnya di depan cermin.


"Aku bersyukur sekali bisa memiliki wajah yang sangat mirip denganmu, Marion! dengan begini Kak William pasti akan gampang untuk aku miliki," gumam Marinka sembari memasukkan lipstik yang sudah ia gunakan ke dalam tasnya.


Saat Marinka hendak menutup kembali resleting tasnya, ponsel wanita berbibir tebal itu berbunyi.


Saat Marinka melihat siapa yang menghubunginya, wajahnya langsung terlihat kesal.


Wanita itu tak mengangkat panggilan pada ponselnya. Ia memilih meletakkan kembali ponsel itu dan merapikan tatanan rambutnya.


"Kau sudah cantik, sekarang waktunya kembali menebar pesonamu pada calon suamimu, Marinka!"


Marinka menyeringai licik pada pantulan cermin. Saat hendak keluar dari toilet tersebut, ponselnya kembali berdering.


Marinka memejamkan matanya menahan emosi. Ia sudah dapat memastikan siapa yang menghubunginya.


Marinka mengambil ponsel dari dalam tasnya dan dengan cepat, ia mengangkat panggilan itu.


"Halo!"


"Pulang sekarang, Rin!"


"Apa hakmu menyuruhku pulang!"


"Jangan buat William tersakiti kembali, kasihan dia."


"Itu bukan urusanmu, kau urus saja suamimu itu!"


"Cinta tak bisa di paksakan, Rin! dia sudah menemukan perempuan yang tepat untuknya."


"Aku ini memiliki wajah yang sama persis sepertimu dan aku yakin dia masih ada rasa padamu."


"Hentikan semua ini, Rin! sudah cukup kau memperalat aku dan suamiku sebagai batu loncatan untuk menggapai semua apa yang kau inginkan."


"Kau diam saja! William sudah sangat benci padamu, jadi kau jangan banyak bicara."


"Suatu saat kebenaran akan terungkap siapa dalang di balik semua rencana hina itu."


"Tutup mulutmu, Marion! kau jangan berani menakutiku! hah, semua orang juga tahu, jika kau wanita yang sangat kejam meninggalkan pengantin pria tepat sehari sebelum hari pernikahan."


Senyum Marinka terpancar karena ia berani menyerang balik saudara kembarnya itu.


"Dan suatu saat nanti semua orang juga akan tahu jika kau dalang di balik rencana hinamu itu, Marinka!"


"Itu tak akan pernah terjadi."


"Kau tunggu saja karma akan segera menghampirimu dan aku menyesal bisa mempunyai saudara kembar berhati busuk sepertimu."


Tut tut tut tut


Panggilan diakhir oleh Marion. Wajah Marinka sudah memerah.


Wanita itu mengepalkan tangannya menahan amarah. "Dari dulu sampai saat ini kau selalu berlawanan arah denganku, Marion! pantas saja aku anak yang sangat di sayangi mama dan almarhum ayah!"


Marinka menormalkan kembali raut wajahnya bagai tak terjadi apa-apa dengannya.


"Tenang dan lakukan semua yang sudah kau rencanakan, Marinka!"


Marinka berjalan keluar dari dalam toilet.


Sementara Zinnia dan William masih menunggu makanan mereka. Setelah beberapa detik, akhirnya pesanan mereka berdua datang beserta pesanan Marinka juga.


Marinka duduk di kursinya. "Maaf menunggu lama," ujarnya sambil tersenyum manis pada Zinnia dan William.


"Tak apa-apa, lagipula makanannya juga baru datang," sahut William ramah.


"Kita makan sekarang," celetuk Zinnia sambil mengambil beberapa menu makanan pesanannya dan meletakkan makanan itu di satu piring yang berada di antara Zinnia dan William.


Marinka mengernyitkan dahinya. "Kenapa hanya ada satu piring di depan kalian? apa kau tak makan, Kak?" tanya Marinka pada William karena arah tatapan wanita itu tertuju pada suami Zinnia.


"Aku akan makan sepiring berdua dengan, Istriku!"


Wajah Marinka sudah memerah menahan bara api cemburu yang hendak tumpah saat itu juga.


"Bukankah lebih baik jika Kakak makan sendiri saja," ujar Marinka sambil menyendok makanannya.


"Aku saat ini sedang ingin makan sepiring berdua dengan Istriku, Rin!"


Zinnia melirik Marinka dan wajah wanita itu sudah merengut kesal sambil memakan makanannya dengan gerakan kasar.


"Hahaha,! rasakan kau, Kutu loncat! mati kutu kau kan sekarang, hahahaha! kutu loncat ternyata bisa mati kutu juga ya? terserahlah, kalau bisa dia menghilang saja dari muka bumi ini! aku muak dengan sikap perhatiannya pada, William!"


Saat Zinnia hendak menyuapi William, ponsel gadis itu berdenting.


Zinnia langsung meletakkan sendoknya beralih pada ponselnya. Ia membuka pesan dari Sandra.


Sandra


Ada agensi dari luar Negeri ingin mengkolaborasikan rancangan anda dan Tuan Marquez untuk acara malam puncak penghargaan artis dengan gaya fashion terupdat. Jika anda menyetujui untuk bertemu, besok siang akan ada pertemuan di restoran seafood.


Zinnia masih memikirkan pesan yang di kirim oleh Asisten pribadinya.


"Sayang! apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya William pada istrinya.


Zinnia tersadar dari lamunannya. "Tidak ada, Sayang!"


William tersenyum pada Zinnia. "Kau tak perlu berbohong padaku! biar aku saja yang menyuapimu," tutur William sambil menyendok makanan dan memberikannya pada Zinnia. "Aaaaaaak! buka mulutmu, Sayang!"


"Tapi ...."


"Aku tahu kau pasti sedang sibuk dengan pekerjaan kan? jadi biar aku saja yang menyuapimu."


Zinnia tersenyum manis pada William. "Terimakasih! I love you."


"I love you too, Honey!"


Zinnia langsung melahap makanan yang di suapi oleh suaminya.


Marinka tak melanjutkan acara makannya. Ia hanya mengaduk-aduk makanan mahal itu dengan arah tatapan mata tertuju pada kemesraan William dan Zinnia.


"Kau boleh saja tersenyum saat ini, Zinnia! suatu hari nanti, kau akan menjauh dari kehidupan, Kak William! sama seperti saudara kembarku yang berlagak baik itu, tapi dia masih mau saja aku suruh melakukan keburukan pada orang lain."


Zinnia mulai menekan-nekan layar ponselnya membalas pesan dari Sandra.


Zinnia


Keputusannya akan aku kabari nanti malam. Sekarang aku masih makan siang dengan suamiku di luar.


Aku butuh bantuanmu.


Beberapa detik setelah pesan di kirim oleh Zinnia, balasan dari Sandra sudah nampak pada Notifikasi ponselnya.


Sandra


Bantuan apa, Nona.


Zinnia


Cari tahu secara detail tentang Marinka, saudara kembar mantan calon istri suamiku.


Sandra


Baik, Nona.


Zinnia


Aku tunggu sampai selesai makan siang, semua hal sekecil apapun yang berurusan dengan Marinka harus secara detail kau dapatkan.


Sandra


Baik, Nona.


Setelah selesai dengan ponselnya, Zinnia melihat ke arah William. "Maaf ya, Sayang! setelah makan siang, ada yang ingin aku bicarakan padamu," tutur Zinnia pada suaminya.


"Iya, tapi kita makan dulu ya!"


Zinnia mengangguk sembari membuka mulutnya untuk meminta William menyuapinya kembali.


"Kau sungguh manja sekali hari ini," ujar William pada istrinya sambil menyuapi Zinnia.


Marinka lagi-lagi di buat meradang oleh kelakuan romantis dua orang manusia yang sudah berstatus menjadi suami istri itu.


"Kak William apa-apaan sih! kenapa dia menyuapi si gadis manja ini? biarkan saja dia kelaparan."


Zinnia melihat ke arah Marinka yang sedang sibuk mengaduk makanannya tanpa ada yang masuk ke dalam mulutnya.


"Apa Kak Marinka sedang tidak nafsu makan, sedang ada masalah, atau sedang program diet?" tanya Zinnia namun, lebih tepatnya meledek kembaran Marion itu.


Marinka langsung tersadar dari lamunannya sedari tadi. "Aku sudah kenyang," elak Marinka.


Zinnia hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Marinka.


"Halah! pasti kau sedang kepanasan karena melihat kemesraanku dan William."


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰