Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 222 ( Season 2 )


Zinnia dan William sudah berada di teras rumah Edward. Para tetua juga berada di teras mengantarkan anak-anak mereka yang akan pulang.


"Hati-hati ya, Sayang!" Melati memeluk anaknya, begitu pula dengan Salma.


Edward menepuk pundak William. "Terus berusaha untuk membuat kami menjadi kakek dan nenek," tutur mantan Dokter tampan pada zamannya itu.


William hanya tersenyum menganggukkan kepalanya. "Kami pulang dulu ya," pamit William pada keluarganya.


William dan Zinnia berjalan ke arah mobilnya.


Kaca mobil William terbuka dan mereka berdua masih melambaikan tangan pada para tetua.


"Kau lelah?" tanya William pada Zinnia dan wanita itu menganggukkan kepalanya.


William membawa kepala istrinya ke pundaknya dan Zinnia mencari posisi ternyamannya.


William terus mengelus rambut Zinnia.


Beberapa menit kemudian, mobil yang di naiki oleh William berhenti di depan rumah mewahnya.


Pria itu menyandarkan Zinnia pada sandaran kursi penumpang, sedangkan William turun lebih dulu untuk mengangkat tubuh istrinya yang sudah terkulai lemas karena Zinnia dalam mode terlelap tidur.


William mengangkat tubuh istrinya ala bridal style. Pria itu membawa Zinnia ke dalam kamar lantai dua karena mulai malam pertama mereka berlangsung, William memutuskan akan pindah ke lantai dua.


William mempertimbangkan semua itu matang-matang. Ia berpikir jauh ke depan jika Zinnia hamil, ia tak ingin istrinya dalam bahaya harus naik turun tangga lantai empatnya.


William sudah berada di dalam kamarnya. Ia meletakkan tubuh Zinnia pada ranjang empuknya.


William membuka hells yang dipakai oleh istrinya. "Kau pasti lelah sekali, sampai aku melepaskan heelsmu saja kau tak bangun," gumam William sembari meletakkan hells Zinnia di dekat ranjang mereka.


William memilih mandi terlebih dulu karena tubuhnya terasa sangat lengket.


Setelah selesai dengan ritual mandinya, William berbaring tepat di samping Zinnia.


Pria itu masih menatap istrinya. "Selamat tidur, Sayang!" William bergeser sedikit agar jaraknya dan sang istri lebih dekat.


Cup


Kecupan singkat mendarat di kening Zinnia. "Aku mencintaimu, Sayang!"


William membawa kepala Zinnia berada dalam pelukannya sampai wanita itu kembali mencari posisi ternyamannya.


Malam ini tak ada jadwal meronda karena esok hari kedua pasangan itu akan melakukan kencan pertama mereka sebagai pasangan suami istri.


Sebenarnya bisa di bilang sudah cukup terlambat jika masih di katakan sebagai kencan, namun daripada tidak melakukan sama sekali, lebih baik mengukir kenangan manis untuk menjadi kenangan terindah dalam hidup ini.


Zinnia sudah memakai set training merah hati kombinasi putih, sementara William memakai set training berwarna abu.


Rambut Zinnia di kuncir kuda dengan topi jogging berwarna maroon yang sudah bertengger di kepalanya.


William juga sudah mengenakan topi jogging-nya.


Tak lupa sepatu kets couple berwarna putih mereka berdua kenakan.


William berada di meja makan hanya untuk mengganjal perutnya dengan roti dan selai kesukaannya, sementara Zinnia berada di dapur untuk mengisi air minum pada botol minuman yang akan ia bawa nanti.


Zinnia memakan rotinya yang masih sebagian ada di mulutnya karena kedua tangannya sibuk dengan botol air minumnya.


William menghampiri Zinnia ke dapur. Ternyata istrinya berada di meja bar. "Kau sedang apa? ayo kita segera berangkat," tutur William memeluk tubuh Zinnia dari belakang.


Zinnia menoleh ke arah suaminya sembari mengangguk. Karena gemas dengan kelakuan istrinya, William menggigit roti yang diapit oleh bibir Zinnia.


Hap


William mengunyah roti dengan selai nanas dalam mulutnya. "Enak! apalagi itu dari mulutmu," goda William mengecup pipi Zinnia.


Cup


"Sekarang waktunya berangkat!"


William menarik tangan Zinnia dan wanita itu tak lupa membawa botol minumannya.


"Kita akan pergi kencan namun, dengan cara yang sehat, Sayang!"


"Apa kita akan berolahraga berat?" tanya Zinnia lagi dan William langsung menggelengkan kepalanya dengan gerakan cepat.


"Tentu saja tidak karena aku tak ingin membuatmu kelelahan," tutur William pada istrinya.


Mobil William berhenti di sebuah taman yang sangat asri dengan hawa yang sangat sejuk dan hanya ada beberapa pasangan yang jogging di tempat itu.


Zinnia yang sudah turun dari mobilnya tersenyum manis sambil menghirup udara segar di pagi hari. "Tentram sekali berada di tempat ini," gumam Zinnia sembari memperhatikan setiap sudut taman itu.


William mendekati istrinya. "Kita akan jogging pagi ini," tutur William pada Zinnia.


Sebelum mereka memulai aktivitas paginya, Zinnia mengirimkan lokasinya pada Sandra dan ia menitipkan botol minum dan handuk yang ia bawa pada sopirnya.


"Pak! nanti berikan botol minum ini pada asisten saya," titah Zinnia pada sopirnya.


"Baik, Nyonya!"


"Sekarang waktunya berkencan sehat ala, Dokter William!" Zinnia berlari terlebih dulu dan William mengekori istrinya dari belakang.


Kini posisi keduanya sudah sejajar sambil terus melakukan aktivitas jogging-nya.


"Kenapa kau melakukan kencan yang tak biasa seperti ini?" tanya Zinnia sembari mengusap peluh yang menetes di pelipisnya.


"Tentu saja untuk membuat badan kita sehat dan kemesraan lebih banyak terjadi di tempat dan aktivitas menyehatkan seperti ini," ujar William pada istrinya.


Sebelum mereka jogging, William dan Zinnia sudah melakukan pemanasan terlebih dulu saat di rumah.


William melihat sebuah tempat duduk panjang. Ia menarik tangan Zinnia untuk menepi beristirahat sejenak di kursi panjang itu.


Keduanya masih dengan napas ngos-ngosan. Zinnia terus mengusap peluh yang mengalir pada pelipisnya, sementara William meluruskan kakinya.


Zinnia melihat ke segala arah mencari keberadaan Sandra dan asistennya itu ternyata sudah muncul di hadapannya.


"Ini air minum dan handuk kecil untuk anda, Nona!"


Zinnia menerima semua barang yang diberikan oleh Sandra. "Terimakasih, Sandra!"


Zinnia membuka tutup botol air minum itu, kemudian ia memberikannya pada William terlebih dulu. "Kau minum dulu!"


William melihat ke arah Zinnia. "Kau saja yang minum lebih dulu, Sayang!"


Zinnia bangun mengarahkan botol minum itu pada bibir William. "Kau yang harus minum dulu, Sayang!"


William akhirnya mengalah, ia yang meminum air itu lebih dulu.


Setelah selesai, William mengarahkan botol minum bekas bibirnya poda bibir Zinnia. "Sekarang giliranmu, Sayang!"


Zinnia tanpa ragu langsung meneguk air putih yang ia bawa.


William tersenyum simpul. "Apa kau tahu? secara tak langsung kita sudah berciuman, Sayang!" Arnon menggoda Zinnia.


Wanita itu melihat ke arah sekelilingnya. Zinnia menutup botol itu kembali dan memberikannya pada Sandra. "Kau balik badan sekarang!" Zinnia meminta Sandra untuk berbalik badan.


Wanita itu menghadap ke arah suaminya. "Tadi itu masih belum termasuk ciuman, Sayang!"


Cup


Bibir Zinnia mengecup sekilas bibir William. "Ini baru ciuman, meskipun hanya sebentar saja," tutur Zinnia menjulurkan lidahnya berlari terlebih dulu mendahului suaminya.


William terdiam. Ia melihat mungkin ada seseorang yang melihatnya dan Zinnia berciuman.


William mengelus dadanya lega. "Untung saja tak ada orang lain!"


William berdiri mengejar Zinnia yang sudah agak jauh dari jaraknya beristirahat.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS 🥰🥰🥰