Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 290 Part 1 ( Season 2 )


Kini usia kehamilan Zinnia sudah memasuki usia 9 bulan.


Tinggal hitungan hari saja untuk melakukan proses operasi caesar yang sudah di sepakati oleh keluarga besar.


Semua anggota keluarga besar dari William dan Zinnia merundingkan hal itu secara matang karena Zinnia bukan hanya melahirkan satu anak saja. Desainer cantik itu akan melahirkan dua anak sekaligus, jadi operasi caesar adalah jalan paling aman.


William selaku Dokter sudah mempersiapkan segalanya dari mulai mental dan asupan gizi untuk istrinya sebelum hari operasi dilaksanakan.


William selama tiga hari kedepan memang sengaja mengambil cuti untuk menemani istrinya dirumah. Memastikan asupan nutrisi yang Zinnia konsumsi benar-benar sudah sesuai anjurannya.


Kini mereka berdua berada di meja makan. "Kau harus makan semu makanan ini tanpa terkecuali karena ini untuk kelancaran operasimu nanti, Sayang!" William melahap makanannya.


Zinnia hanya mengangguk dan melakukan permintaan suaminya.


Makanan yang berada di meja makan benar-benar sangat diperhatikan oleh William dari mulai karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayur, dan buah-buahan. Semua makanan itu terhidang rapi di meja makan rumah mereka.


Empat sehat lima sempurna yang langsung terlintas dalam pikiran seseorang yang melihat meja makan itu di setiap harinya dari mulai sarapan, makan siang, dan makan malam.


William juga menyiapkan air hangat untuk istrinya mandi karena jika terlalu panas itu tak baik untuk kandungan Zinnia.


Semua hal yang berhubungan dengan Zinnia menjelang operasi caesar benar-benar ditangani langsung oleh William dan Zinnia sangat bersyukur akan hal itu.


Kini keduanya sudah selesai makan siang.


"Sekarang waktunya mandi dan air hangat untukmu akan aku siapkan jadi Ibu Ratu Zinnia tetaplah disini sambil menunggu airnya siap," ledek William dan Zinnia mengangguk patuh atas perintah suaminya.


William berjalan ke arah kamarnya dan Zinnia mengikuti William dari belakang dengan perut yang sangat besar.


Zinnia berjalan perlahan karena ia takut tergelincir saat melewati tiap anak tangga yang ia tapaki.


William sadar jika sang istri berada di belakangnya dan Dokter tampan itu segera menghampiri Zinnia memapah sang istri. "Jangan sembarang melangkah jika tak ada siapapun di sampingmu, Sayang! aku takut terjadi sesuatu hal yang tak diinginkan," ingat William pada Zinnia.


"Maaf, Pak Dokter! aku mengaku salah," sesal Zinnia dan William tersenyum karena istrinya semakin hari semakin menggemaskan dengan perut buncit seperti itu.


"Kenapa kau terlihat semakin seksi dengan perut buncit seperti ini?" William menggoda istrinya.


"Jangan mulai ya, Sayang! aku ini tiga hari lagi akan melakukan operasi jadi jangan membuatku stress dengan gombalan kacanganmu itu," cecar Zinnia masih terus melangkahkan kakinya menuju arah kamarnya.


"Aku tak menggombal! ini kenyataannya," kekeh William.


"Terserah kau saja!" Zinnia membuka pintu kamarnya karena mereka berdua sudah berada di depan kamarnya.


Hari terus berlalu sampai hari operasi caesar sudah akan dilakukan. Kini Zinnia sudah berada di meja operasi.


Sebelumnya Zinnia sudah berpuasa tak memakan apapun.


Dokter yang menangani langsung adalah Salma selaku Dokter kandungan senior sekaligus mertua Zinnia.


Tahap pertama adalah melakukan anastesi spinal pada Zinnia. Anastesi ini hanya akan membuat tubuh bagian bawah mati rasa, sementara sang ibu masih dalam kondisi sadar.


Langkah berikutnya pemasangan kateter untuk mengosongkan kandung kemih sebelum operasi berlangsung.


William berada di dalam menemani istrinya yang tengah berjuang untuk melahirkan kedua anaknya.


Melahirkan normal atau caesar semuanya sama-sama penuh perjuangan. Bedanya perjuangan melahirkan normal lebih terasa saat proses itu juga namun, melahirkan secara caesar juga penuh perjuangan saat operasi selesai dilakukan masih akan terasa beberapa tahun kedepan bekas operasi tersebut, jadi bagaimanapun cara proses melahirkan, semuanya butuh perjuangan mental dan keyakinan untuk melahirkan anak dengan selamat beserta ibunya.


William berada tepat di samping istrinya. "Kau kuat, Sayang! kau bisa!" William menyemangati Zinnia dan desainer cantik itu mengangguk pasrah.


Setelah anastesi sudah bekerja, kini waktunya proses pengeluaran bayi Zinnia dan William.


Zinnia tak bisa melihat proses operasi itu karena terhalang oleh kain penutup. Hanya ada dirinya dan William.


Salma mulai melakukan tugasnya. Dokter kandungan itu mulai menyayat bagian perut dan rahim menantunya.


Salma mengeluarkan bayi pertama yaitu bayi laki-laki. Suara tangisan bayi pertama itu terdengar di seluruh sudut ruangan tersebut.


Zinnia dan William yang mendengar tangisan anak mereka terkejut bukan main.


William berdiri dari posisi berjongkok menyemangati istrinya. Pria itu melihat anak pertamanya sudah lahir ke dunia dan bayi yang masih merah itu berada di gendong seorang dokter sembari seorang perawat mencatat waktu lahirnya, beserta berat dan panjang si bayi.


William tersenyum tanpa teras air matanya luruh begitu saja. Ia segera kembali berjongkok mencium kening istrinya. "Terima kasih karena kau telah memberikan aku sebuah hadiah yang tak akan aku lupakan, Sayang!"


Zinnia ikut menitikkan air matanya karena ia juga ikut bahagia. Akhirnya dirinya sudah sah menyandarkan gelar seorang ibu.


Lagi-lagi William dan Zinnia mendengar suara tangisan anak kedua mereka yang saling bersautan dengan anak pertamanya.


Tangisan Zinnia semakin pecah karena yang kuasa sungguh melimpahkan berkah yang sangat luar biasa bagi keluarga kecilnya. "Aku sangat berterima kasih padamu karena kau membuatku memiliki keluarga yang lengkap," tutur William mengecup kening Zinnia dan desainer cantik itu menganggukkan kepalanya merespon ucapan suaminya.


Seorang perawat membawa bayi laki-laki yang sudah dibersihkan kepada Zinnia.


Perawat itu meletakkan anak pertama Zinnia tepat di dada Zinnia.


Air mata Zinnia semakin mengalir deras, begitu juga dengan William.


"Selamat atas kelahiran bayi kembar Anda Ibu Zinnia!" Perawat itu mengucapkan selamat dan Zinnia membalasnya dengan senyuman.


William dan Zinnia bersamaan mengecup anak laki-laki mereka.


"Selamat datang di dunia ini, Sayang! Mommy dan Daddy akan merawat kau dan adikmu dengan baik," tutur Zinnia dan William mengecup kembali kening Zinnia.


Kini perawat itu kembali menghampiri Zinnia dan William membawa bayi kedua mereka yang berjenis kelamin perempuan.


"Ini anak kedua Anda! ini berjenis kelamin perempuan dan yang saat ini berada di dada Anda berjenis kelamin laki-laki!"


William segera menghampiri perawat itu dan mengambil alih menggendong anaknya.


Raut wajah penuh haru sangat terpancar dari wajah William. Pria itu membawa anak keduanya ke arah Zinnia.


William mengadzani kedua bayi kembarnya.


Zinnia menangis semakin deras karena ia benar-benar mendapatkan dua bayi sekaligus.


"Kemari! aku ingin mencium, Putriku!"


William merundukkan sedikit tubuhnya agar Zinnia dapat leluasa mencium putri kecilnya.


"Selamat datang ke dunia ini, Sayang! Mommy dan Daddy akan menjaga kau dan kakakmu dengan baik tanpa membedakan kalian berdua."


William tersenyum mengecup kening bayi kecilnya.


Kini Salma melanjutkan tugasnya untuk mengeluarkan plasenta dari rahim Zinnia dan memberikan injeksi hormon oksitosin untuk merangsang kontraksi rahim sehingga pendarahan berkurang dan akhirnya akan berhenti.


Salma mulai menutup sayatan pada rahim dan perut Zinnia dengan jahitan.


Setelah semua proses operasi sudah selesai, Zinnia dibawa ke ruang perawatan.


Si kembar saat ini berada di ruangan yang sama dengan Zinnia.


Para Grandma dan Grandpa beserta Marquez dan Sandra sudah berada di ruangan VVIP rumah sakit William.


"Cucu Grandma lucu sekali sih!" Melati gemas dengan cucunya yang wajahnya tak terlihat kembar indentik namun, mereka sama-sama putih berhidung mancung.


"Siapa namanya, Zi?" tanya Arnon pada Zinnia.


"Tanya pada ayahnya saja," sahut Zinnia melempar pertanyaan sang ayah pada suaminya.


"Anak pertama akan aku namai "NARU ATTALA PATTINSON GAFIN" dan anak kedua akan aku namai "NARA ATTALIA PATTINSON GAFIN" ."


Melati dan Salma sangat suka dengan nama kedua cucu kembar mereka. "Nama yang bagus, Nak! kau memang ayah yang baik," puji Melati pada menantunya.


"Dan kau juga menyematkan nama besar dari dua orangtuanya, keluarga Gafin dan Pattinson!"


William tersenyum pada kedua wanita paruh baya itu.


"Semoga keluarga kalian dipenuhi dengan kebahagiaan," do'a Arnon pada keluarga kecil Putrinya.


"Amin!" William mengaminkan do'a mertuanya.


William mendekati istrinya. "Aku mencintaimu, Sayang!"


Zinnia tersenyum menerima kecupan hangat dari suaminya.


NANTIKAN PART 2 DARI BAB 290 INI KAKAK READERS 🥰


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.