
Marquez dan Sandra berjalan sembari tangan keduanya sudah saling genggam. Kaki mereka juga begitu kompak melangkah menuju arah mobil Marquez.
Saat Sandra dan Marquez sudah berada di depan mobil milik desainer tampan itu, Sandra menoleh ke arah pria yang sudah sah menjadi kekasihnya dalam waktu kurang dari satu jam. "Aku pulang dulu," tutur Sandra pada Marquez.
"Kau pulang denganku!" Marquez menarik tangan Sandra agar masuk ke dalam mobilnya. "Tapi mobilku?" tanya Sandra menahan tubuhnya agar tak masuk ke dalam mobil kekasihnya.
"Ada supirku, Sayang!" Marquez segera memaksa tubuh Sandra agar masuk ke dalam mobilnya.
Mereka berdua sudah berada di dalam mobil yang sama. "Mana kunci mobilmu, biar sopirku yang membawanya," pinta Marquez pada Sandra dan Sandra memberikan dengan senang hati kunci mobilnya.
Marquez tersenyum pada Sandra sebelum ia menginjak pedal gasnya.
Di dalam perjalanan menuju rumah Sandra, tak ada yang membuka suara. Mereka berdua seperti orang yang baru pertama saling kenal. Atmosfer di dalam mobil itu di liputi kecanggungan tingkat akut.
Sandra duduk gelisah karena ia bingung harus memulai lebih dulu obrolan dengan Marquez atau tidak.
"Kenapa diam?" tanya Marquez yang akhirnya memilih membuka suara lebih dulu setelah sekian lama Sandra bergulat dengan pikirannya.
"Kau juga diam," sahut Sandra sembari menatap ke arah Marquez.
Sandra melihat ke arah spion tengah. Ia melihat mobilnya mengikuti dirinya dan Marquez. Helaan napas Sandra terdengar oleh indera pendengaran desainer tampan itu. "Kenapa, Sayang?" tanya Marquez Marquez masih sibuk dengan alat kemudinya.
"Seharusnya aku pulang dengan mobilku sendiri saja, agar kau tak perlu mondar-mandir seperti saat ini," jawab Sandra yang kasihan pada kekasihnya.
"Kau sungguh perempuan yang tak peka," celetuk Marquez dengan nada sedikit menyindir.
Kening Sandra mengkerut sempurna. "Tak peka? memangnya apa yang kau maksud?" tanya Sandra yang tak mengerti jalan pikiran Marquez.
"Kenapa kau sangat polos sekali sih, Calon Istriku!"
"Dengarkan aku baik-baik ya, Sayang! aku ingin berkencan denganmu di hari pertama kita jadian! meskipun tak seromantis pasangan lain, tapi aku tetap merasa bahagia meski hanya duduk berdua di dalam mobil seperti saat ini," jelas Marquez menyentuh tangan Sandra.
Kini tangan keduanya sudah saling genggam. "Kita sudah hampir sampai dan aku tak ingin berpisah darimu," tutur Marquez dan Sandra menoleh ke arah kekasihnya. "Jangan lebay!"
Marquez hanya tersenyum sembari membelokkannya setir mobilnya masuk ke dalam pekarangan rumah Sandra.
Dua mobil mewah sudah berada di halaman depan rumah asisten Zinnia itu. Marquez membukakan pintu untuk Sandra dan senyuman manis Sandra berikan sebagai tanda terimakasih atas perlakuan manis Marquez padanya.
Sandra dan Marquez kini saling berhadapan memandang wajah satu sama lain. "Aku masuk dulu ya! dan kau hati-hati," ujar Sandra pada lelaki yang berada di depannya saat ini.
"Apa aku boleh tidur di sini?" tanya Marquez menggoda calon istrinya.
Wajah Sandra mulai berwarna merah jambu. Wanita itu secepat kilat memukul lengan kekasihnya. "Jika sudah sah di mata agama dan hukum, baru bisa tidur denganku," jelas Sandra menundukkan kepalanya karena malu.
Marquez mengangkat dagu istrinya dan wajah cantik yang membuatnya jatuh cinta itu terlihat jelas di depan matanya. "Aku akan segera melamarmu, setelah acara penghargaan selesai," tutur Marquez pada Sandra.
Senyum indah Sandra terbit bagai mentari pagi yang terlihat sangat menyilaukan hati pria itu.
Marquez menyentuh pipi Sandra. "Aku pulang dulu! kau tidur yang nyenyak dan jangan lupa mimpikan pria jelekmu ini," goda Marquez.
Sandra hanya mengangguk patuh. "Selamat malam, Calon istriku dan semoga mimpi indah!"
Marquez menarik Sandra masuk dalam dekapan hangatnya. "Aku pasti akan sangat merindukanmu," tutur Marquez dengan suara manjanya.
Sandra yang menyandarkan kepalanya dengan wajah malu-malu tersenyum mendengar penuturan dari mulut kekasihnya. "Pandangi saja fotoku," jawab Sandra dengan suara tegas bagai seorang ibu yang sedang memarahi anaknya.
Marquez menjauhkan sedikit wajahnya dan wajah Sandra juga terangkat ke atas menatap wajah Marquez.
"Bisa kita seperti ini untuk dua jam kedepan?" tanya Marquez dengan raut wajah memohon.
"Tidak bisa! karena aku tak mau kedinginan di luar sini," tolak Sandra mentah-mentah.
Sandra yang gemas dengan tingkah kekasihnya langsung menarik ujung hidung desainer tampan itu.
"Jangan selalu berulah! besok kita akan bertemu karena harus membahas semua persiapan untuk 3 hari ke depan," jelas Sandra dan Marquez kembali menarik tubuh Sandra masuk ke dalam pelukannya.
"Aku jadi ingin menikah sekarang denganmu, agar aku bisa tidur dan di Nina bobo-kan olehmu, Sayang!"
Marquez kembali merengek dan rengekannya pasti membuat senyum Sandra lepas kendali.
Sandra menjauhkan jarak dari Marquez. "Kau pulang saja! besok pagi kita akan bertemu, ingat! jangan tidur terlalu malam agar insomniamu cepat hilang," ujar Sandra memperingati kekasihnya yang memiliki penyakit susah tidur.
Marquez hanya menganggukkan kepalanya tanda ia patuh dengan perkataan Sandra.
Sandra medekati Marquez. "Selamat malam dan hati-hati di jalan ... Sayang!"
Sandra menjijitkan kakinya mengecup pipi Marquez sekilas.
Cup
Wanita itu menundukkan kepalanya karena ia malu sudah mencium Marquez lebih dulu.
Marquez hanya diam dengan raut wajah syok karena ia tak menyangka jika Sandra memiliki cukup nyali untuk menciumnya lebih dulu, meskipun hanya di pipi saja.
Marquez menarik tengkuk Sandra dan ....
Cuppppp
Kecupan lama mendarat pada bibir indah Sandra. "Selamat malam, Calon istriku! aku selalu merindukanmu," ujar Marquez.
Sandra segera berbalik badan dengan wajah yang sangat merah. "Kau pulang saja! aku ingin masuk," kilah Sandra yang sebenarnya ia merasa dadanya sudah meloncat keluar dari jalurnya.
Marquez mendekatkan bibirnya pada daun telinga Sandra. "Aku akan pulang dan I Love You, My Women!"
Marquez segera pergi dari belakang Sandra, sementara si empunya daun telinga masih memejamkan matanya karena tubuhnya merespon di luar dugaan.
Suara mobil Marquez terdengar dan Sandra segera berbalik badan melihat ke arah suara itu.
Kaca mobil Marquez yang duduk di kursi penumpang terbuka. Pria itu memajukan bibirnya memberikan kecupan jarak jauh dengan wajah di buat segenit mungkin.
Sandra berkacak pinggang karena kekasihnya itu masih bisa menggodanya.
Setelah mobil Marquez sudah tak terlihat, Sandra tersenyum sembari melangkahkan kakinya menuju pintu masuk rumah.
Belum juga ia menapaki tiap anak tangga menuju lantai dua dimana kamarnya berada, ponsel Sandra sudah berdenting tanda ada pesan masuk.
Sandra melihat ponselnya dan senyum manis Asisten cantik itu kembali terbit kala ia membaca nama si pengirim pesan.
Tn. Copaldi
Jangan lupa mimpikan kekasihmu yang jelek ini ya, Calon Istriku 😘
Sandra masih diam tepat di anak tangga pertama menuju lantai atas rumahnya. Ia masih tersenyum-senyum sendiri melihat ke arah layar ponselnya.
Sandra
Tugasmu akan aku laksana, Calon Suamiku 😉
JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.