
Zinnia masih diam mematung mendengar ucapan Edward yang tak sempat melihat televisi.
"Apa Uncle sebegitu sibuknya sampai tayangan televisi saja tak pernah menonton?"
"Hahahaha! kau tahu sendiri kan, jika pasien Uncle tiap hari pasti ada, jadi Uncle harus mengurus mereka, Nak!"
Zinnia tersenyum manis ke arah Edward.
"Kau baru bangun tidur, Sayang?" tanya Salma pada Zinnia.
"Tidak, Aunty! sebenarnya aku sudah bangun dari tadi, tapi aku masih malas berganti baju," ujar Zinnia tersenyum kikuk sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Zinnia tiba-tiba teringat jika ia harus menghubungi Asisten pribadinya.
Zinnia mendekat ke arah kedua orangtuanya untuk mencium pipi mereka bergantian. "Morning Mom, Dad!"
Setelah selesai ia langsung menghadap ke arah Edward dan Salma.
"Zinnia pamit ke atas dulu ya? ada hal penting yang harus diselesaikan," pamitnya sambil berjalan menuju lantai paling atas rumahnya.
Edward tersenyum memandangi calon menantunya yang berlari kecil manaiki tiap anak tangga rumahnya.
"Dia tidur di lantai paling atas?" tanya Edward basa-basi.
"Iya, dia tidur di lantai paling atas, kenapa?" tanya Arnon curiga.
"Sama seperti, William! dia juga tidur di lantai paling atas! huh, anak zaman sekarang, sukanya kamar yang berada di lantai paling tinggi, padahal kita yang sudah tua ini, kaki terasa pegal jika harus naik turun tangga tiap hari," jelas Edward pada Arnon.
Semua orang yang berada di ruang tamu itu hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Dokter yang sudah terdapat sedikit keriput di wajahnya.
"Boleh aku minta tolong pada kalian?" tanya Edward dengan wajah serius.
"Minta tolong apa?" tanya Arnon penuh selidik, karena ia tahu jika wajah Edward sudah serius seperti ini pasti ada hal penting yang akan ia katakan.
"Aku ingin melamar Zinnia menjadi calon menantuku," tutur Edward yang membuat semua mata mengarah padanya, tersmasuk mata sang istri.
"Apa yang kau katakan, Sayang? lelucon yang kau buat itu tak lucu," ucap Salma di tengah-tengah keheningan yang melanda ruangan itu karena ucapan Edward seperti terdengar sedang bercanda namun nada suara bekas dokter tampan tersebut sangat meyakinkan.
"Aku tak bercanda, aku serius dengan itu, lagi pula Melati juga pernah menjodohkan mereka berdua, dan William menerimanya, bukan?"
Edward menatap ke arah Melati dan Arnon yang memang mereka berdua tahu tentang perjodohan itu.
"Sayang! kau jangan bercanda, itu hanya candaan saat kecil," tutur Salma pada suaminya.
"Bagiku itu bukan candaan, Sayang! aku sebenarnya juga setuju dengan perjodohan masa kecil mereka, karena William sudah tergila-gila dengan wanita itu, jadi aku tak bisa mengatakan hal ini padanya sejak dulu," jelas Edward menatap ke arah Istrinya, kemudian beralih ke arah Melati dan Arnon.
"Bagaimana? apa kalian setuju? aku mohon, tolong bantu keluarga kami, Ar, Mel! besok acara pernikahannya akan di gelar dan tak ada waktu lagi untuk mencari calon pendamping yang cocok untuk William selain, Zinnia!"
Arnon dan Melati saling bertukar pandangan. Mereka masih belum bisa memutuskannya saat ini.
"Baiklah! aku akan coba pikirkan tawaranmu, tapi aku tidak janji akan menerimanya karena aku harus berdiskusi dengan Melati dan yang paling penting aku harus menanyakan pada, Zinnia! dia mau atau tidak," jelas Arnon pada Edward.
Edward menghela nafas panjang. "Baiklah! aku akan menunggu jawabannya nanti sore! aku harap keluargamu bisa membantu memecahkan masalah keluarga kami dan aku pamit pulang dulu," ujar Edward dengan wajah lesu.
Sebelum Salma mengikuti langkah kaki sang suami, ia mendekat ke arah Melati.
Salma menggenggam tangan Melati erat. "Aku akan menyayangi Zinnia sama seperti anakku sendiri jika kau dan Arnon mau menerima lamaran kami," tutur Salma tersenyum lembut pada Melati.
Melati menoleh ke arah suaminya, kemudian ia tersenyum pada Salma. "Aku akan berusaha untuk menemukan jalan keluar dari masalah keluarga kalian jika Zinnia menolak perjodohan ini."
Salma tersenyum dengan raut wajah sedikit kecewa karena kata-kata Melati yang seakan sudah memprediksi jika putrinya akan menolak pernikahan ini.
"Kami pamit dulu." Salma berbalik badan melangkah mengekori suaminya yang sudah berada di depan halaman rumah Melati.
Mobil Edward sudah keluar melewati pintu gerbang. Melati dan Arnon saling tatap. "Bagaimana ini?" tanya Melati bimbang.
"Aku tahu jika William itu anak yang baik dan dia juga sudah sangat mapan untuk menjadi calon suami, Zi! tapi kita tanyakan dulu pada putri kita, dia bersedia atau tidak," tutur Arnon pada Istrinya.
"Kita ke atas sekarang," pinta Melati menarik tangan suaminya ke arah lantai tiga.
Keduanya sudah berada di lantai atas tepat di depan pintu kamar Zinnia.
Tok tok tok
"Zi! buka pintunya, Sayang!"
Melati mengetuk pintu kamar putrinya.
Ceklek
Suara pintu kamar terbuka. Anak gadisnya sudah berganti pakaian dengan baju santai. "Ada apa, Mom?" tanya Zinnia dengan dahinya mulai mengkerut sempurna kala ia melihat sang ayah berada di depan pintu kamarnya juga.
"Daddy di sini juga?" tanya Zinnia lagi yang terkejut dengan keberadaan sang ayah.
Arnon menatap serius ke arah putrinya.
Zinnia langsung membuka pintu kamarnya lebar-lebar. Ia seakan menandakan jika kedua orangtuanya boleh masuk ke dalam kamarnya.
Arnon dan Melati langsung masuk ke dalam kamar sang putri, kemudian duduk di sofa yang berada di kamar Zinnia.
Zinnia memilih duduk menjauh dari kedua orangtuanya. Ia duduk di kasur, dengan posisi kedua kaki terlipat sempurna. Tak lupa guling kesayangannya sebagai tumpuan sikunya.
Gadis itu tak ingat jika sikunya terluka sampai ia tiba-tiba saja mengaduh kesakitan, "Aduh!"
Melati panik langsung bergegas ke arah Zinnia. "Kau tak apa-apa, Nak?" tanya Melati dengan raut wajah cemas sambil mencari bagian mana yang terasa sakit sampai Zinnia mengaduh kesakitan.
"Aku tak apa-apa, Mom! hanya luka kecil saja," jelas Zinnia pada ibunya agar sang ibu tak mencemaskan dirinya.
"Kenapa kau bisa terluka?" tanya Arnon membuka suara.
"Kemarin saat di bandara, ada insiden kecil, Dad! tapi tak apa-apa, hanya salah paham saja."
"Jadi apa yang akan Daddy bicara padaku?" tanya Zinnia penasaran.
"Kau di lamar untuk menjadi calon istri dari, William!"
Wajah Zinnia syok mendengar penuturan sang ayah. "Daddy jangan bercandaan! dia sudah punya calon dan aku tak ingin di sebut perusak hubungan orang, apalagi mereka sudah akan menikah besok."
"Calon istrinya kabur dan kau ...."
"What! kabur? apa-apaan ini, Dad! kata Daddy dia itu lelaki yang sudah mapan? tapi kenapa calon istrinya bisa kabur? pasti ada yang tak beres," tutur Zinnia dengan suara penuh selidik.
"Daddy tak tahu kenapa alasan calon istrinya kabur, yang jelas kau harus membantu keluarga Pattinson, Son!"
"Tidak mau! aku tak ingin menjadi seorang pengganti! pasti pernikahan kami nanti tak akan ada kebahagiaan, yang ada hanya siksaan batin! sama seperti cerita novel yang pernah aku baca, si perempuan pengganti selalu makan hati karena ulah si pria yang tak menerimanya sebagai pengganti dan aku tak mau mengalami itu semua, Dad! apa Daddy ingin Putrimu ini kurus dan pesakitan," jelas Zinnia yang secara halus ingin menolak perjodohan ini.
Bukannya marah, Arnon dan Melati malah tersenyum, bahkan aktor yang sudah mulai memudar ketampanannya itu tertawa kecil.
"Kau ini terlalu sering membaca novel dan menonton drama jadi begini, kata siapa yang awalnya perjodohan tak berakhir bahagia? buktinya, Mommy dan Daddy! sekarang kami bisa memiliki dua buah hati," ujar Arnon yang mendapat tatapan tajam dari Istrinya. "Sayang! apa kau sedang bernostalgia?" tanya Melati.
Arnon hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Istrinya.
Melati mengusap lembut punggung putrinya penuh kasih. "Sayang! Mommy tak akan memaksamu untuk menikah dengan, William! tapi Mommy hanya ingin kau tahu, saat Mommy melahirkan adikmu, Arya! waktu itu Mommy mengalami pendarahan dan stok darah di rumah sakit sedang habis! beruntung Aunty Salma memiliki golongan darah yang sama dengan, Mommy! dia langsung mendonorkan darahnya tanpa pikir panjang! karena pada saat itu, Grandpa Hadi sedang ada proyek di luar kota, Mommy hanya ingin kau tahu saja, semua keputusan ada di tanganmu, Nak! karena kau yang akan menjalani rumah tangga itu nantinya," jelas Melati pada putrinya, namun sebenarnya ia juga ingin membujuk Zinnia.
"Mommy bilang tak akan memaksaku? tapi ini apa? menceritakan soal jasa Aunty Salma padaku! huh, itu sama saja kau membujukku secara halus, Mom!"
Zinnia menghela nafas panjang. "Apa kalian sungguh ingin aku menikah dengan pria itu?" tanya Zinnia.
"Kami hanya ingin yang terbaik untukmu, Sayang! dia pria yang baik! Daddy sudah mengenalnya sejak dia kecil," jelas Melati menatap wajah putrinya penuh keyakinan.
"Tapi aku masih curiga, Mom!"
Dahi Melati mengernyit sempurna. "Curiga? curiga apa, Sayang?" tanya Melati yang bingung dengan pemikiran Zinnia.
"Jangan-jangan calon istrinya kabur karena wajahnya tak setampan dulu! bisa jadi wanita itu mau menjalin hubungan dengannya karena pria itu kaya," simpul Zinnia.
"Hahahaha!"
Tawa Arnon pecah seketika setelah Zinnia selesai berbicara.
"Daddy kenapa?"
"Kau yang kenapa, Baby! cara berpikirmu sungguh tak benar! William itu tampan, bahkan sangat tampan."
"Daddy bohong ya? mana mungkin orang tampan di tinggal kabur oleh calon istrinya," celetuk Zinnia sekenanya.
"Calon istrinya saja yang bodoh," sahut Arnon dengan santai.
"Sepertinya kau ingin sekali menjadikan pria itu menantumu, Dad!"
"Tentu saja, Baby! dia pria tampan, baik, mapan! kurang apa lagi?"
"Kurangnya, aku tak ingin menikah dengannya, Dad!"
"Jika kau tak ingin menikah dengannya, tak apa, Nak! usia kami sudah mulai menua dan hidup kami juga akan segera ...."
"Oke stop, Mom! aku akan menikah dengannya dan Mommy jangan pernah berpikir yang aneh-aneh," sela Zinnia pada ucapan ibunya.
Arnon dan Melati tersenyum. "Terimakasih, Sayang!" memeluk Zinnia.
"Mommy yakin! kalian pasti akan bahagia, tapi hanya butuh waktu dan proses saja, Nak!" mengusap rambut Zinnia lembut.
Zinnia semakin mengeratkan pelukannya pada sang ibu, sementara Arnon tersenyum menang.