
Zinnia berlari kecil ke arah kamar mandi setelah dirinya sukses membuat William mematung dengan mata terpejam.
Pria itu tersadar dan mengacak rambutnya kasar. "Apa yang terjadi padaku? kenapa sepagi ini hawanya sudah panas seperti di tengah terik matahari?" William bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Dokter tampan itu berjalan ke arah ranjangnya. Ia menyibukkan diri bermain game pada ponselnya sambil menunggui Zinnia selesai mandi.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya Zinnia keluar dari kamar mandi sudah berpakaian lengkap.
William menatap ke arah istrinya dengan tatapan bingung. "Tumben kau sudah berpakaian dari dalam?" tanya William berjalan ke arah kamar mandi sampai ia berpapasan dengan istrinya.
"Karena aku tak ingin pria mesum sepertimu melihat lekuk tubuhku! bisa-bisa air liurmu menetes, Pak Dokter!"
Zinnia berjalan ke arah meja rias hanya untuk menyisir rambutnya tanpa ingin melapisi kulit wajahnya dengan cream super mahalnya itu.
William hanya tersenyum kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai menyisir rambutnya, Zinnia berjalan ke arah dapur untuk membuat sarapan suaminya.
Gadis itu membuat susu hangat untuk William dan dirinya.
Tiap pagi mulai hari ini memang sudah menjadi tugas Zinnia mempersiapkan sarapan ringan itu dan pelayan yang lain memasak untuk sarapan mereka saja.
Zinnia meletakkan dua gelas susu untuknya dan William.
Gadis itu juga mengolesi dua lembar roti dengan rasa yang berbeda pula. Rasa coklat dan kacang.
Suara hentakan sepatu terdengar dari tiap anak tangga yang berada di rumah itu. Membuat perhatian Zinnia yang awalnya fokus dengan roti dan selainya, kini mata gadis itu tertuju pada langkah kaki seorang pria tampan dengan setelah kemeja putih yang membuat tingkat ketampanan seorang pria yang dijuluki Hot Dokter itu kini meningkatkan 1000%.
Tubuh pria itu sungguh idaman para wanita dari mulai rambut sampai ujung kaki, semua idaman para kaum hawa.
"Kenapa pria ini tampan sekali jika sudah berpakaian rapi seperti itu?"
William duduk tepat di sebelah istrinya. Meminum susu hangat buatan Zinnia.
Gadis itu masih belum sadar dari lamunannya. Ia melihat bagaimana jakun pria itu naik turun saat susu hangat yang ia buat masuk perlahan ke dalam tenggorokannya dan membuat tingkat keseksian William semakin meningkat drastis.
"Pantas saja dia di beri julukan, Hot Dokter! cara meminum susu saja bisa membuat wanita cenat-cenut begini! ... Zi! apa yang kau pikirkan? ingat! kau harus membuatnya jatuh cinta padamu."
Tanpa disadari oleh Zinnia, ternyata William sedari tadi memperhatikan istrinya yang sedang melamun.
"Apa kau sehat? tanya William mengerakkan tangannya tepat di depan wajah Zinnia.
Gadis itu tersentak dari lamunannya dan ia langsung meneguk susu hangatnya sampai tersisa hanya tinggal setengah.
"Dia sadar atau tidak ya? jika aku tengah menghkayal tentangnya?"
"Kau ingin yang mana? coklat atau kacang?" tanya Zinnia pada suaminya untuk membuat pria itu tak bertanya hal apa yang ia lamunkan.
"Kacang!" William menjawab pertanyaan Zinnia dan pria itu langsung mengambil roti dari atas piring dan memakannya.
Zinnia juga memakan roti rasa coklatnya. Gadis itu mengunyah roti tersebut sampai terdengar suara batuk William yang tersedak.
"Uhuk uhuk uhuk!"
William mengambil susu hangatnya, meneguknya sampai tandas tak tersisa.
Zinnia berdiri mendekati kursi suaminya. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Zinnia.
"Aku baik-baik saja! ini karena terlalu terburu-buru jadi tersedak begini," tutur William mengusap bibirnya dengan tisu.
"Aku berangkat dulu, Zi! kau tak perlu kemana-mana! jika kau ingin keluar, kau ajak supir! mengerti?"
"Siap, Boss!"
Namun sebelum pria itu melangkahkan kakinya, Zinnia sudah berada di hadapan William membenarkan kerah kemeja yang sedikit tak diam pada tempatnya.
Pria itu menatap bulu mata sang istri yang sangat lentik dan indah.
"Sudah beres dan kau sudah boleh berangkat bekerja," ujar Zinnia mengecup pipi suaminya.
Cup
William diam mematung, namun sedetik kemudian pria itu mencoba sesantai mungkin agar Zinnia tak sadar jika dirinya tengah terkejut.
"Zi!" William menatap tajam ke arah istrinya yang pagi-pagi sudah mulai berulah.
"Hanya kecupan untuk menyemangatimu bekerja," elak Zinnia, namun kecupan itu untuk membuat suaminya cepat jatuh cinta padanya.
Pria itu berjalan ke arah halaman depan menuju ke arah mobilnya.
Zinnia membersihkan bekas gelas susu hangatnya, namun saat berada di dapur, seorang pelayan menanyakan suaminya, "Maaf, Nyonya! apa Tuan sudah berangkat?"
"Sudah, Mbak! kenapa ya?" tanya Zinnia kebingungan.
"Ini bekal makan siang untuk Tuan sudah siap."
"Memang dia selalu membawa bekal tiap hari ke rumah sakit?" tanya Zinnia lagi.
"Iya, Nyonya! Tuan tak suka jika harus makan di kantin karena Tuan lebih suka makan makanan olahan rumah."
"Biar saya saja nanti yang akan mengantarkan untuknya," ujar Zinnia.
Gadis itu berjalan ke arah kamarnya untuk bersiap.
Setelah selesai bersiap, Zinnia tak lupa membawa peralatan untuk membuat sketsa bajunya.
Gadis itu keluar dari kamarnya menuju arah dapur.
Zinnia mengambil kotak bekal dengan desain tetap membuat makanan itu dalam suhu hangat.
Zinnia menenteng tas kotak bekal tersebut, membawa kotak bekal itu ke arah mobil.
Zinnia sudah berada di dalam mobil dan mobil tersebut mulai bergerak menuju ke arah rumah sakit William.
30 menit kemudian, akhirnya Zinnia sampai di depan rumah sakit milik suaminya.
Gadis itu melihat beberapa bangunan yang menjulang tinggi dan rumah sakit itu juga sangat luas.
"Sungguh pria muda yang kaya," gumamnya sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit tersebut.
Saat sudah berada di dalam, Zinnia menghampiri meja resepsionis."Ruangan Dokter William dimana ya?" tanya Zinnia pada resepsionis itu.
"Apa anda sudah ada janji dengan beliau?" tanya resepsionis tersebut karena para pegawai rumah sakit itu tak ada yang tahu wajah asli dari istri pemilik rumah sakit besar tersebut.
Yang hadir dalam pesta perayaan pernikahan William hanya rekan Dokter dari rumah sakitnya saja.
Para wartawan yang sudah mengambil gambar Zinnia saat turun dari mobil sudah Arnon urus. Jadi mereka semua tak membocorkan momen penting tersebut pada media.
Yang tahu wujud asli dari wajah istri William hanya para Dokter saja.
"Saya belum membuat janji dengan, Dokter William!"
Resepsionis wanita itu menatap Zinnia penuh selidik, kemudia ia menatap rekannya yang berada tepat di sampingnya.
"Jika anda belum membuat janji, maka anda tidak dapat bertemu dengan, Dokter William!"
"Tapi, saya ...."
"Harus membuat janji dulu, Ibu!" Resepsionis itu memotong perkataan Zinnia.
Zinnia pasrah dan mengangguk, ia berjalan sedikit menjauh dari meja resepsionis tersebut.
"Apa-apaan ini! aku kan istri pemilik rumah sakit ini! kenapa nasibku malang sekali," gumam Zinnia yang di dengar oleh salah satu resepsionis tadi.
Resepsionis tadi langsung menyenggol rekannya. "Aku dengar tadi wanita yang ingin bertemu dengan, Dokter William! dia mengaku sebagai istrinya," bisik rekan resepsionis yang melayani Zinnia tadi.
"Itu hanya akal-akalan dia saja! kau tahu sendiri bukan jika banyak wanita yang mengaku pacar pemilik rumah sakit ini! tapi kenyataannya? mereka hanya membual saja agar bisa mendekati, Dokter William! jika dia memang merupakan istri dari, Dokter William! seharusnya langsung tanya pada suaminya saja bisa kan?"
Resepsionis yang melayani Zinnia menyuarakan pendapatnya dengan volume cukup membuat telinga istri William itu panas.
Zinnia hendak ingin menghubungi suami, namun ia ingat jika dirinya tak pernah menyimpan nomor ponsel William.
Zinnia menghubungi Asisten pribadinya untuk mencari tahu nomor ponsel William.
"Kirim nomor ponsel William padaku," pinta Zinnia pada Sandra.
"Baik, Nona!"
"Satu menit lagi aku tunggu," ujar Zinnia sebelum gadis itu memutuskan sambungan teleponnya.
Zinnia menatap ke arah para resepsionis yang masih asyik berbisik satu sama lain.
"Kalian lihat nanti siapa yang kalian sebut pembual," gumam Zinnia tersenyum simpul.