
Suara siulan burung di pagi hari mulai saling bersahutan. Fajar mulai menampakkan cahayanya masuk ke dalam sela-sela gorden menyorot wajah kedua manusia berbeda jenis yang masih terlelap dalam tidurnya.
Baju keduanya sudah berserakan di mana-mana. Kamar itu terlihat seperti kapal pecah dengan bantal yang sudah berhamburan ke lantai.
Entah adegan apa saja yang terjadi tadi malam sampai kamar yang awalnya begitu indah bisa sampai berantakan tak terkendali.
Semua itu hanya bisa dijawab oleh Arnon dan Melati yang membuat kamar mereka menjadi oleng seketika.
Cahaya mentari pagi menyorot wajah Melati yang masuk melalui celah gorden jendelanya.
Tangan kekar dan kokoh melingkar indah pada pinggang rampingnya. Entah mengapa pagi ini begitu indah di mata Melati karena wajah dengan pahatan sempurna tanpa cacat kini memanjakan indera penglihatannya.
Mata gadis itu menelusuri tiap bentuk dan guratan pada wajah Arnon yang masih terlelap tidur tanpa ada tanda-tanda ingin bangun.
Melati perlahan menggeser sedikit tangan kokoh Arnon yang masih setia bertengger pada pinggang rampingnya.
Perlahan tapi pasti, pinggangnya sudah lepas dari sentuhan tangan kekar Arnon.
Melati menarik selimut lebih ke atas lagi untuk menutupi tubuhnya yang masih polos. Gadis itu mencoba duduk dan sedikit menggeser kakinya tiba-tiba ....
"Awww!"
Melati merintih kesakitan pada bagian area intimnya. Gadis itu merasa area itu seperti terkena goresan silet. Terasa begitu perih saat menggerakkan kakinya.
"Kenapa bisa sakit begini," gumam Melati yang terdengar begitu polos.
Gadis itu sedikit demi sedikit menggeserkan tubuhnya melipir ke bibir ranjang dengan selimut tebal yang masih melilit tubuh polosnya.
Melati menoleh ke arah suaminya yang ternyata sudah memakai boxer. Entah kapan pria itu memakainya, yang Melati ingat mereka berdua terlelap dengan tubuh yang sama-sama polos.
Melati tak ingin memusingkan masalah itu. Ia memilih menapakkan kakinya menyentuh lantai.
Saat kaki indah Melati mulai menyentuh lantai, daerah intimnya kembali perih seperti tersayat-sayat.
"Kenapa sakit begini," ujar Melati meringis kesakitan.
Gadis itu diam beberapa detik untuk menetralkan rasa perih pada daerah kewanitaannya.
Setelah rasa perih itu sudah sedikit mereda, Melati kembali menapakkan kakinya secara perlahan menuju ke arah jendela.
Melati menyingkap gorden mengintip sedikit ke arah luar kamarnya yang langsung tertuju pada taman rumah mewah tersebut.
Bunga yang bermekaran menambah keindahan pagi yang menyambut Melati.
Srekkk
Suara gorden terbuka lebar. Membuat cahaya matahari langsung menerobos masuk ke dalam kamar Arnon dan Melati.
Pria yang masih tertidur pulas mulai terusik dengan cahaya matahari yang masuk ke dalam kamarnya.
Arnon mulai menggeliat membuka sedikit matanya menghadap ke arah sumber cahaya yang sudah terhalang oleh tubuh seorang wanita cantik dengan balutan selimut tebal yang mengelilingi tubuhnya.
Senyum Arnon terukir indah. Ia teringat dengan pergulatan panasnya dengan Melati.
Arnon bangun hendak mendekati Melati, namun niatnya ia urungkan saat kedua matanya tanpa sengaja menangkap sebuah bercak darah pada sprei tempat tidurnya.
Lagi-lagi senyum menawan terpampang nyata pada bibir Arnon. Ia tahu bercak apa itu. Arnon sungguh sangat bahagia bisa menjadi laki-laki pertama yang menggempur Melati.
Melati membuka jendela kamarnya agar udara segar dari luar masuk ke dalam.
Gadis itu memejamkan matanya menikmati terpaan angin yang menyentuh langsung permukaan kulitnya.
"Kenapa sudah bangun?" tanya Arnon mencium tengkuk leher Melati.
Gadis itu menggeliat kecil menerima sentuhan memabukkan Arnon padanya.
Melati sampai tak konsentrasi dengan pertanyaan yang di ajukan oleh Arnon karena suaminya makin gencar menelusuri tengkuk Melati sampai pada punggung polos istrinya.
Rasa perih pada daerah intimnya juga tiba-tiba hilang entah kemana karena pikirannya masih terfokus dengan kenikmatan yang di buat oleh Arnon.
"Sayang," panggil Melati dengan suara paraunya.
"Hem," sahut Arnon yang masih asyik mengecup tiap sudut punggung Melati.
Darah keduanya semakin terasa deras mengalir. Percikan gairah mulai kembali terasa oleh mereka.
Melati sudah tak bisa menahan semua itu. Gadis itu berbalik menghadap ke arah Arnon.
Melati menatap kedua manik mata suaminya yang mulai tersulut api gairah.
Perlahan tangan kanan Melati menyentuh pipi Arnon, sedangkan tangan kirinya masih memegang selimut yang membalut tubuh polosnya.
"Kau sendiri kenapa sudah bangun?" tanya balik Melati.
Arnon menarik pinggang Melati. Membuat jarak mereka terkikis habis.
"Aku ingin melanjutkan adegan tadi malam," ujar Arnon mendekatkan wajahnya ke arah wajah Melati.
Gadis itu tersenyum menatap wajah Arnon. Tanpa di duga-duga, Melati menjinjitkan kakinya mengecup bibir suaminya sekilas.
Cup
Saat Melati ingin menarik kecupannya, tangan Arnon menahan tengkuk Melati agar bibir mereka tetap menyatu.
Yang awalnya hanya kecupan, kini kedua bibir mereka mulai bergerak satu sama lain saling memberi kenikmatan tak terhingga.
Arnon mengangkat tubuh Melati ala bridal style. Pria itu membawa istrinya menuju arah ranjang dengan bibir yang masih saling membalas.
Saat sudah berada di bibir ranjang, Arnon menurunkan tubuh Melati.
Pria itu melepaskan ciumannya. Tangan Arnon perlahan menarik selimut yang membungkus tubuh Melati sampai selimut tebal itu jatuh tergeletak ke lantai.
Arnon melihat tubuh Melati yang begitu sempurna dan membuatnya ingin sekali bergulat tanpa henti dengan sang istri.
Arnon menggiring Melati untuk tidur di atas kasur dan pria itu kembali menindih tubuh istrinya.
"Aku menginginkannya lagi, Sayang!" Arnon berbisik tepat di telinga istrinya sampai si empunya telinga menghembuskan napas panjang penuh gairah.
Kelambu transparan yang mengelilingi ranjang pergulatan mereka sudah tertutup sempurna. Hanya siluet keduanya saja yang terlihat.
Arnon kembali membawa Melati di bawah kungkungannya. Pria itu ingin terus menabur benihnya pada rahim sang istri agar Melati cepat mengandung buah cinta mereka.
Arnon tanpa henti membuat ranjang mereka bergerak tanpa henti sampai suara decitan ranjang terdengar jelas oleh keduanya.
Tak hanya sekali Arnon mengajak Melati berolahraga pagi ini. Pria itu terus berkali-kali melatih sang istri agar gadis itu terbiasa melakukan olahraga menyenangkan tersebut setiap pagi.
Entah kemana perginya rasa perih pada daerah intim Melati. Yang gadis itu rasakan saat ini adalah kenikmatan surga dunia yang memang tak dapat ia tolak.
Udara pagi yang awalnya begitu segar, kini berubah menjadi panas bahkan pendingin ruangan pun seperti tak berfungsi untuk kedua pasangan yang masih gencar-gencarnya bercinta tanpa henti.
Berjam-jam keduanya bertempur tanpa jeda, sampai sarapan pun mereka lewati demi olahraga pagi yang memabukkan bagi Arnon dan Melati.