Pacaran Setelah Menikah

Pacaran Setelah Menikah
Bab 244 ( Season 2 )


Mobil yang di naiki Sandra dan Marquez sudah berada di halaman rumah William dan Zinnia.


Mereka berdua turun dari mobil itu berjalan menuju pintu masuk rumah Zinnia dan William. Saat berada di teras rumah lantai empat itu, Asih menyambut keduanya. "Selamat siang, Nona dan Tuan!"


Mereka berdua tersenyum sembari menganggukkan kepala. "Nona Zinnia ada, Kepala pelayan Asih?" tanya Sandra.


"Nyonya ada di dalam kamarnya bersama dengan Nyonya Gafin, Nona!"


Sandra menatap ke arah Marquez dan desainer tampan itu mengangguk.


"Kepala pelayan Asih! kami ingin menyampaikan sesuatu pada anda dan sekaligus meminta tolong! apa anda bisa mengumpulkan semua pelayan yang ada di rumah ini? karena ini demi keselamatan, Nona Zinnia dan anak-anaknya!"


Wajah Asih yang awalnya tenang kini berubah terkejut mendengar kalimat terakhir dari mulut Sandra.


"Bagaimana? apa bisa mengumpulkan para pelayan di halaman depan?" tanya Sandra lagi karena keterkejutan Asih membuat kepala pelayan rumah besar itu terdiam tak merespon pertanyaan dari Sandra.


"Bisa, Nona!"


Asih menepuk tangannya dua kali dan semua pelayan yang berada di dalam rumah itu datang menghampiri Asih.


Asih mengabsen satu persatu bawahannya dengan cara melihat satu persatu dan semua pelayan yang bertugas di dalam rumah sudah berkumpul. "Kita berkumpul di halaman depan!"


"Baik, Kepala pelayan Asih!" mereka menjawab dengan serempak.


"Pelayan laki-laki ada di halaman depan, Nona! jadi kita semua langsung ke sana saja," tutur Asih dan mereka semua bergegas menujunya halaman depan.


Saat sudah berada di halaman depan, asih kembali menepuk tangannya dua kali memanggil tukang kebun, satpam, dan supir.


Semuanya sudah berkumpul berbaris. Sandra dan Marquez berada di depan para pelayan rumah William.


"Mohon maaf karena saya dan Tuan Copaldi mengganggu pekerjaan kalian semua! tapi ada hal penting yang ingin saya informasikan pada kalian tentang keamanan, Nona Zinnia!"


Sandra melihat ke arah Asih dan kepala pelayan itu mengangguk. Sandra mengambil napas dalam. "Jika ada Marinka kemari, kalian harus mengawasi gerak gerik wanita itu karena dia berencana ingin membuat janin yang ada dalam kandungan Nona Zinnia gugur! jadi saya mohon bantuan dari kalian semua, tolong laporkan pada, kepala pelayan Asih! jika wanita itu kemari dan terlihat mencurigakan."


"Baik, Nona!" mereka semua menjawab serempak.


"Jangan biarkan Nona Zinnia tahu tentang masalah ini agar beliau tak stress dan bisa berpengaruh pada janin yang dikandungnya," jelas Sandra lagi.


"Baik, Nona!"


"Hanya itu yang ingin saya sampaikan dan kalian semua bisa kembali bekerja!"


Semua pelayan berbalik badan dan kembali ke pekerjaan masing-masing.


Marquez bertepuk tangan saat semua pelayan itu sudah bubar.


Sandra melihat ke arah desainer tampan tersebut. "Kenapa kau bertepuk tangan?" tanya Sandra bingung.


"Kau sungguh wanita yang hebat! saat waktunya bekerja kau tegas, tapi saat kau di goda olehku, wajahmu memerah," ledek Marquez mendapatkan tatapan remeh dari Sandra dan asisten Zinnia itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah mewah milik Zinnia.


Saat menaiki anak tangga, Sandra berbisik pada Marquez, "Saat Dokter William datang, kau yang harus menjelaskan padanya."


Marquez tersenyum. "Apa imbalanku?" tanya Marquez dan langkah kaki Sandra spontan terhenti. "Kau ini sedang membantu orang yang sangat kau sayangi jadi ikhlas saja," cecar Sandra.


"Bagaimana jika aku sudah tak mencintainya dan aku sudah mencintai wanita lain," goda Marquez lagi.


"Minta imbalan pada wanita itu jangan minta padaku!"


"Bagaimana jika wanita itu adalah kau?" tanya Marquez lagi, sontak tubuh Sandra menegang.


Marquez sudah ingin tertawa melihat raut wajah Sandra yang semakin lama semakin memerah.


Deg deg deg


Jantung wanita itu sudah tak enak diam.


"Kenapa jantung ini harus merespon bualan si pria gila ini?"


Sandra segera melanjutkan langkahnya menaiki tiap anak tangga menuju kamar Zinnia.


Marquez menyandarkan tubuhnya pada pembatas tangga. "Begitu saja sudah memerah! apalagi jika aku cium, bisa-bisa dia pingsan."


Marquez melangkah mengikuti Sandra menuju kamar Zinnia dengan senyum mengiringi perjalanannya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 dan suara mobil William mulai terdengar di telinga Zinnia dan yang lain.


Sandra dan Marquez yang masih berada di kamar itu menemani Zinnia saling pandang.


Kebetulan Zinnia beranjak dari tempat tidur mengintip ke arah jendela kamarnya untuk melihat kepulangan William.


Pria itu menggeleng kepalanya menolak permintaan Sandra.


Sandra sudah menajamkan pandangannya pada Marquez sampai suara Zinnia membuyarkan segalanya, "William sudah datang, kalian berdua sekalian makan bersama ya?"


"Oke, Zi!" Marquez menjawabnya.


Ceklek


Suara pintu terbuka dan semua mata yang berada di kamar Zinnia menoleh ke arah pintu ternyata William sudah pulang.


Zinnia berlari memeluk suaminya. "Aku sangat merindukanmu, Sayang!"


William membalas pelukan istrinya. "Aku juga sangat merindukanmu," tutur William mengecup puncak kepala Zinnia.


Sandra melirik Marquez dengan tatapan mengejek karena ia tahu hati desainer tampan itu akan tersayat-sayat.


Tapi semua yang ada dalam pikirannya musnah seketika saat ia melihat Marquez ternyata tengah menatapnya sembari tersenyum dengan bibir di majukan ke depan seperti sedang memberikan ciuman jarak jauh.


Lagi-lagi wajah Sandra memerah karena kelakuan Marquez yang menggodanya.


"Apa sih dia? kenapa harus seperti itu? pasti ingin menutupi perasaannya yang sedang hancur lebur berkeping-keping bagai butiran debu."


"Sandra, Marq! maaf baru menyapa kalian berdua karena ibu hamil ini semakin manja saja," sesal William pada keduanya.


"Santai, Will! ibu hamil memang begitu!"


"Apa kau pernah hamil? berlagak seperti orang tahu bagaimana menjadi ibu hamil," sinis Sandra pada Marquez dan pria itu hanya bersikap masa bodoh dengan celoteh Sandra.


"Kita makan dulu!" Zinnia mengajak semua orang yang ada di ruangan itu.


Sandra berdiri berinisiatif membawa Zinnia turun lebih dulu ke bawah. "Nona denganku saja karena aku ingin tahu rumah baru Nona dan Dokter William!"


Dengan ramah Zinnia mau menemani asistennya itu melihat-lihat rumahnya.


William hendak mengikuti istrinya namun, bahunya di tahan oleh tangan kekar Marquez.


Dokter tampan itu menatap ke arah Marquez. "Ada apa?" tanya William pada Marquez.


"Kau bisa tutup dulu pintu itu karena aku tak ingin Zinnia mendengarkan percakapan kita," tutur Marquez pada William.


William masih berpikir karena ia tak biasanya melihat Marquez dengan wajah seserius ini.


"Apa yang ingin ia bicarakan sampai Zinnia tak boleh mendengarnya?"


Dengan gerakan ragu-ragu akhirnya William menutup pintu kamarnya.


Saat ini hanya ada dirinya dan Marquez di dalam kamar itu. "Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya William menyandarkan tubuhnya pada pintu kamar.


Marquez memasukkan sebelah tangannya pada saku celananya. Pria itu menatap ke arah William dengan tatapan serius. "Nyawa anak-anakmu dalam bahaya, Will!"


Kening William mengkerut sempurna. Ia tak mengerti apa maksud ucapan gila Marquez sampai membawa nama anak-anaknya dalam topik pembicaraan rahasia kali ini. "Apa maksudmu? aku tak mengerti," ujar William dengan nada cukup dingin.


"Marinka berencana akan membuat Zinnia keguguran dan kau harus siaga menjaga istrimu! aku dan Sandra sudah memberitahu para pelayan rumah kalian, jadi mereka semua akan membantumu mengawasi Marinka jika wanita ular itu berani kemari."


"Kau tahu darimana info itu?" tanya William yang penasaran.


"Sandra memasang alat penyadap di kamar apartemen, Marinka! dan semua kebusukan wanita itu terbongkar lebih awal sehingga kita semua bisa melindungi calon penerusmu!"


Tangan William mengepal. Ia tak habis pikir perempuan itu masih ingin mengusik rumah tangganya. "Jadi apa rencanamu?" tanya William dengan suara berat menahan emosi.


"Kau tak perlu cemas karena kita semua bersamamu dan kau jangan memberitahu Zinnia jika Marinka merencanakan hal buruk padanya, itu bisa berpengaruh pada janin kalian."


William memejamkan matanya mencoba menetralisir emosi yang saat ini menguasainya. "Aku akan menjaga rahasia ini karena aku tak ingin anak-anakku kenapa-napa," ujar William.


"Bagus! kita tunggu wanita itu bertindak lebih dulu, baru kita ikut bertindak," tutur Marquez yang melangkah turun hendak menuju lantai dasar dan William menggeser tubuhnya agar tak menghalangi jalan Marquez.


Mereka berempat sudah berada di meja makan. Zinnia mengambilkan lauk pauk untuk suaminya. Setelah selesai Zinnia mulai mengambil nasi dan lauk untuk dirinya sendiri saat satu suapan pertama masuk dalam mulutnya, tiba-tiba ibu hamil itu diam sembari membungkam mulutnya sendiri.


Huek huek huek


Zinnia segera berlari ke arah dapur untuk memuntahkan makanan yang masih belum ditelannya.


William mengikuti istrinya ke arah dapur untuk memastikan kondisi Zinnia tak kenapa-napa.


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENTARNYA YA KAKAK READERS BIAR AUTHOR TAMBAH SEMANGAT UPDATE-NYA.