
Melati keluar dari ruang ganti. Tepat di depan, pintu suaminya sedang menunggu dirinya sedari tadi.
Arnon tersenyum melihat Melati sambil memberikan lengan kanannya agar Melati menggandeng lengan kekarnya itu.
Gadis cantik dengan lesung pipi yang tertancap indah tersebut tanpa ragu menggandeng tangan suaminya.
Mereka berdua berjalan menuju mobil dengan raut wajah bahagia. Semua orang yang berpapasan dengan keduanya nampak iri melihat keromantisan pasangan muda itu.
Satu jam mobil yang di naiki Arnon dan Melati melintasi jalanan ibukota. Mereka akhirnya sampai di kediaman keluarga Gafin.
Melati turun terlebih dulu berjalan ke arah pintu masuk, namun tanpa di duga-duga, Arnon memeluknya dari belakang sambil menggelitik istrinya tanpa ampun.
Tawa Melati menggelegar seisi halaman rumah keluarga Gafin. Para pelayan yang bekerja di sana berhambur melihat ke arah sumber suara.
Mereka semua mulai dari pelayan rumah, supir, dan satpam hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku Tuan mudanya yang sangat jahil pada istrinya.
Melati masih terus berusaha menghentikan tangan Arnon agar pria itu berhenti menggelitiknya.
Arnon menghentikan ulahnya, namun pria itu langsung membalik badan Melati menghadap ke arahnya.
Pria itu tersenyum simpul mendekatkan bibirnya ke arah telinga sang istri.
"Aku ingin kita melanjutkan hal yang sudah tertunda saat di ruang ganti," bisik Arnon langsung mengangkat tubuh Melati.
Gadis itu memekik kecil saat tubuh rampingnya masuk dalam gendongan Arnon.
Arnon tersenyum menatap lurus ke arah depan.
"Sayang! kita tak bisa melakukan hal ini sekarang kare ...."
"Ssstttt! kau tak perlu banyak protes, Sayang!"
Langkah kaki Arnon terus menapaki lantai rumah besarnya sampai pria itu sudah berada di dalam sebuah kamar yang sudah menjadi kamar ia dan istrinya.
Arnon membaringkan tubuh Melati di atas kasur. Pria itu mulai merangkak naik mendekati Melati yang sudah terbaring menatap ke arahnya.
Arnon menindih tubuh istrinya sampai tubuh mereka sejajar.
Melati tersenyum simpul menatap Arnon. Gadis itu pasrah dengan apa yang akan lelakinya lakukan.
Arnon mulai mendekatkan wajah ke wajah sang istri, namun belum juga bibir itu menempel, Melati menahan dada Arnon.
"Tunggu sebentar! aku ingin menanyakan sesuatu padamu," ucap Melati diiringi senyum mautnya.
Gadis itu menarik tengkuk suaminya agar dapat dengan leluasa berbisik pada telinga Arnon.
"Apa kau sungguh menginginkannya?" tanya Melati dengan sengaja meniup telinga Arnon lembut.
Pria itu memejamkan matanya menerima respon positif dari sang istri. Arnon tersenyum mendengar ucapan Melati yang terkesan sedang menggodanya.
Arnon mendekati ceruk leher Melati mendaratkan bibirnya di tempat sensitif para kaum hawa.
Mata Melati terpejam saat menerima sentuhan manis dari suaminya yang kini mulai mendekat ke arah telinganya.
"Aku sungguh menginginkannya, Sayang!" suara Arnon mulai terdengar parau.
Melati lagi-lagi tersenyum simpul. Gadis itu kembali berbisik pada telinga suaminya.
"Apa kau tak akan menyesal ingin melakukannya sekarang?" tanya Melati lagi.
"Tidak, Sayang! aku ingin kau menjadi wanitaku yang seutuhnya," tutur Arnon mengecup daun telinga Melati lembut.
Arnon menatap wajah istrinya. Ia mengarahkan bibir pada bibir Melati.
Dua benda kenyal itu menyatu sempurna tanpa sekat apapun yang menghalanginya.
Melati hanya diam menerima semua perlakuan dari Arnon yang memang sangat menginginkannya malam pertama mereka jebol siang ini juga.
"Hihihi! aku akan mengerjaimu kali ini, Sayang!" Melati membatin pada dirinya.
Saat Arnon sudah cukup puas dengan bibir Melati, pria itu hendak beralih pada leher istrinya, namun gadis itu menahan kepala Arnon dengan kedua tangan lembutnya.
Wajah Arnon kebingungan mendengar ucapan Melati. "Apa maksudmu?" tanya Arnon.
"Aku datang bulan," bisik Melati dengan senyum melengkung indah pada bibirnya.
Arnon mematung mendengar bisikan Melati. Pria itu langsung menjauhkan dirinya. Arnon tidur dengan posisi miring membelakangi Melati.
Pria itu diam tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya setelah mendengar perkataan sang istri.
Melati melirik ke arah Arnon yang nampak sedang merajuk karena keinginannya kali ini tak terpenuhi di sebabkan oleh faktor biologis pada setiap wanita yaitu menstruasi.
Melati mendekati Arnon memeluk pria itu dari belakang dengan erat.
"Apa kau marah?" tanya Melati pada suaminya.
Tak ada jawaban dari Arnon. Pria itu hanya diam bagai orang bisu.
Melati tak kehilangan akal untuk membuat suaminya kembali pada mood baiknya. Gadis itu mencium pipi Arnon cukup lama.
Lagi-lagi tak ada respon apapun dari lelaki yang saat ini masih memasang wajah datar tanpa ekspresi.
Melati turun dari ranjang berjalan ke arah sisi ranjang Arnon.
Saat ini Melati sudah berada tepat di depan wajah Arnon. Gadis itu berjongkok untuk membujuk suaminya kembali.
Kedua tangan Melati sudah berada pada dagunya dengan raut wajah cemberut.
"Sayang! maaf! ini bukan keinginanku, ini sudah bawaan dari aku mulai menginjak remaja," jelas Melati sambil mengedip-ngedipkan matanya berkali-kali.
Arnon masih diam tak ingin merespon perkataan Melati. Ia masih menatap lurus kedepan tanpa ingin melihat wajah istrinya.
"Huh, baiklah! jika kau marah, aku akan pergi dari kamar ini."
Melati mulai beranjak dari tempatnya, namun tangan Arnon menarik tangan istrinya sehingga gadis itu jatuh pada dada bidang Arnon.
Seringai licik muncul bersamaan dengan tangan kekar Arnon melingkar pada pinggang istrinya.
"Kau pasti sengaja kan tak memberitahuku dari tadi?" tanya Arnon menatap lekat kedua mata istrinya.
"Maaf!"
Wajah Melati terlihat menyesal karena telah mengerjai suaminya sampai pria itu terlihat marah.
Arnon lagi-lagi melakukan hal tak terduga. Pria itu membalik tubuh Melati, sedangkan tubuhnya sudah menindih tubuh sang istri.
"Kau harus di hukum, Sayang!"
Arnon kembali menggelitiki Melati. Kali ini pria itu beralih pada bagian kaki Melati sampai gadis itu terus menggerakkan kakinya tanpa henti.
"Sayang ... berhenti ... aku bisa terkencing di kasur," mohon Melati yang terus tertawa terbahak-bahak.
Arnon terus memberikan hukuman pada istrinya yang sudah mulai berani mengerjainya.
Pria itu perlahan menjauhkan diri dari Melati karena kasihan melihat istrinya sudah mengeluarkan air mata.
Melati tersenyum sambil mengusap air matanya karena terlalu lama tertawa.
"Itu hukuman karena kau sudah membuatku tegang, Sayang!"
Arnon berjalan ke arah kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya dengan air dingin agar kabut gairah yang menyelimutinya surut.
Air langsung jatuh dari shower mengguyur tubuh Arnon. Suhu badan Arnon mulai naik karena pengaruh ingin memiliki Melati sangat tinggi.
Pria itu sungguh ingin menerkam istrinya jika Melati tak palang merah siang ini.
"Aku pastikan, lain kali kau tak akan bisa kabur dariku lagi, Sayang!"
Arnon kembali memfokuskan pusat pikirannya agar gairah yang tak tersalurkan itu bisa padam saat ini juga. Arnon tak ingin berlama-lama merasakan hal yang seharusnya tersalurkan tapi harus ia tahan.