
Melati dan Arnon sudah berada di depan ruangan Dokter Salma. Keduanya masuk ke dalam ruangan itu.
Edward ternyata sudah berada di sana. Salma tersenyum ke arah Melati dan Arnon yang berjalan ke arahnya.
Edward yang awalnya duduk di sofa ruangan Salma, kini pria jangkung tersebut berdiri menatap Arnon sengit.
"Silahkan duduk!" Salma mempersilakan keduanya duduk.
Melati dan Arnon sudah duduk berhadapan dengan Salma, sedangkan Edward kembali duduk di sofa.
"Ada keluhan apa, Ibu?" tanya Salma dengan senyum manis yang setia terukir indah.
"Tidak ada, Dok!"
"Pusing, mual atau kaki bengkak?" tanya Salma lagi.
"Tidak, Dok!"
"Nafsu makannya bagaimana?" tanya Salma memastikan lagi.
"Nafsu makan normal, bahkan semakin meningkat, perut saya sering merasa lapar, Dok!"
"Itu normal untuk ibu hamil, Ibu! karena janin yang berada di perut anda juga membutuhkan banyak asupan nutrisi melewati anda! jadi tidak ada keluhan ya?"
"Ada, Dok!" Arnon menyuarakan pendapatnya.
"Ada?" tanya Salma dengan wajah kebingungan.
Semua mata tertuju pada Arnon, termasuk Edward yang sedang asyik dengan ponselnya.
"Iya, Dok! ada keluhan, tapi untuk saya," ujar Arnon dengan wajah tanpa rasa bersalah.
"Keluhan untuk apa ya, Bapak?" tanya Salma.
"Istri saya semenjak hamil, dia lebih suka marah hanya karena masalah kecil," tutur Arnon yang menyampaikan keluhannya.
"Itu juga normal, Bapak! hormon, ibu hamil muda! kadang tak menentu, jadi tergantung suaminya, jika suaminya sabar, mood istrinya juga akan bagus."
"Kenapa kau yang mengeluh? seperti kau saja yang sedang merasakan hamil," celetuk Edward yang duduk terpisah dari mereka bertiga.
Arnon menoleh ke arah Edward dengan tatapan tajam.
"Berhenti kalian berdua!" Melati sedikit meninggikan suaranya.
"Kita bisa lanjutkan proses pemeriksaannya?" tanya Melati pada Salma.
"Iya, Ibu! Mari!"
Melati dan Salma berjalan menuju arah ranjang pasien. Arnon juga ikut berdiri menyusul istrinya, namun sebelum itu, ia menatap Edward tajam dan dokter tampan itu juga tengah menatapnya tak kalah tajam.
Melati sudah berbaring di atas ranjang pasien. Seperti biasanya, Salma membuka sedikit bagian perut Melati dan mengoleskan cairan bening berbentuk jel pada perut Melati yang sudah membuncit.
Salma meletakkan alat USG-nya. Ia melihat letak posisi kepala bayi dalam kandungan Melati.
Arnon melihat ke arah monitor. Ia melihat gambar yang masih belum terlihat jelas baginya, karena Salma masih memastikan keadaan secara keseluruhan janin dalam rahim Melati.
"Bagaimana, Dok? apa anak saya baik-baik saja?" tanya Arnon dengan wajah cemas.
"Anak Bapak sangat sehat, letak kepalanya juga sudah berada pada posisi yang tepat, ari-arinya juga tak menutupi jalan lahir, air ketubannya juga aman."
Melati melihat ke arah monitor. Ia bisa melihat mata anaknya meskipun tak dapat terlihat 100% dengan jelas, seperti saat melihatnya secara langsung.
"Itu anak kita, Sayang!" Melati tersenyum bahagia pada Arnon.
Pria itu mendekat ke arah Melati. Arnon menggenggam erat telapak tangan istrinya. "Iya, Sayang! itu anak kita," sahut Arnon.
"Jenis kelaminnya, Dok?" tanya Arnon dengan detak jantung yang sudah dag dig dug tak karuan.
"Tunggu sebentar ya, Pak!"
Salma mencari letak jenis kelamin pada anak Arnon dan Melati.
Senyum Salma terukir indah menatap ke arah Melati. "Saya tak dapat memastikan, karena kami juga manusia biasa, semua tergantung kehendak yang di atas! menurut dari yang saya lihat, jenis kelaminnya perempuan!"
Arnon mencium kening Melati cukup lama. "Sebentar lagi, di tengah-tengah keluarga kita, akan ada bidadari kecil," ujar Arnon.
"Iya, Sayang! aku sangat senang sekali," tutur Melati memeluk tubuh Arnon dengan posisi tubuh yang masih terbaring di atas ranjang pasien ruangan itu.
"Apa kau tak menyesal, jika anak kita lahir perempuan?" tanya Melati yang ingin tahu jawaban suaminya.
"Kenapa aku harus menyesal?" tanya Arnon balik menatap wajah Melati penuh tanya.
"Biasanya orang-orang ingin memiliki anak pertama berjenis kelamin laki-laki, sebagai penerus keluarganya," jelas Melati dengan wajah menunduk tak berani menatap wajah Arnon.
"Itu kata siapa?" tanya Arnon pada Melati.
"Di film-film biasanya kan begitu!"
"Itu hanya di sebuah drama, Sayang! tatap mataku," pinta Arnon sembari mengangkat wajah Melati agar menatap matanya.
"Aku tak perduli dengan jenis kelamin anak pertama kita! mau laki-laki atau perempuan, terserah! yang paling penting kau dan anak kita sehat dan anak yang akan lahir ini adalah buah cinta kita berdua."
Melati sungguh lega dengan ucapan Arnon. Ia sangat beruntung memiliki suami yang sangat pengertian.
"Terimakasih, Sayang!" memeluk tubuh Arnon kembali.
"Jangan senang dulu! jika yang pertama lahir perempuan, yang kedua harus laki-laki!"
"Jika tetap perempuan?" tanya Melati menggoda suaminya.
"Kita harus tetap berusaha, sampai anak laki-laki lahir dari rahimmu," tutur Arnon mantap.
"Meskipun kita sudah memiliki 10 anak?" tanya Melati lagi.
"Tentu saja! jika perlu, kita buat saja club sepakbola Putri," canda Arnon yang berhasil mendapat cubitan pada perut roti sobeknya.
"Sakit, Sayang!"
Salma melihat kemesraan mereka ikut bahagia. Keduanya tak sungkan mengumbar kemesraan di depan orang lain.
"Pemeriksaannya sudah selesai," tutur Salma sembari melangkah ke arah mejanya.
Melati turun dari ranjang pasien secara perlahan, di bantu oleh Arnon. Keduanya berjalan ke arah meja Salma.
Edward hanya mendengarkan apa yang di bicarakan oleh ketiganya. Tanpa ingin ikut serta, kecuali Arnon juga menyela dengan topik yang melenceng dari pemeriksaan janin Melati.
"Salma sedang menulis sesuatu dalam sebuah kertas kecil. "Ini resep vitaminnya! jangan lupa di tebus di apotik ya?"
"Iya, Dok! kalau begitu, kami permisi dulu," pamit Melati berjabat tangan dengan Salma.
Melati sibuk membenarkan rambutnya yang sudah berantakan.
"Tunggu dulu, Sayang!"
Arnon memanggil istrinya yang sudah bangun dari tempat duduknya. Pria itu mengambil ikat rambut di dalam tas jinjing Melati. Ikat rambut yang sempat ia bawa tadi sebelum berangkat ke rumah sakit.
Arnon dengan gerakan lembut merapikan rambut Melati yang sudah acak-acakan. Pria itu perlahan mengikat rambut istrinya agar Melati merasa lebih nyaman.
"Bagaimana? sudah lebih nyaman?" tanya Arnon menaik turunkan alisnya.
"Terimakasih ya? calon Daddy idaman," tutur Melati sambil tersenyum manis.
Salma lagi-lagi di buat takjub dengan keharmonisan keduanya. Dokter cantik itu berpikir, memang tak salah jika Melati dan Arnon menjadi ikon pasangan couple. Karena keharmonisan dan kemesraan keduanya patut di contoh, meskipun mereka berdua sudah bukan pengantin baru lagi.
Arnon dan Melati hendak melangkah menuju arah pintu keluar, tiba-tiba suara Salma membuat mereka menoleh kembali ke arah meja Dokter kandungan itu.
"Saya doakan, semoga rumah tangga kalian langgeng sampai kakek dan nenek! semoga cinta kalian abadi."
Melati dan Arnon tersenyum pada Salma. "Terimakasih, Dokter Salma! saya doakan, anda juga segera menikah dengan pria yang baik! seperti, Dokter Edward! iya kan, Dok!" Arnon melirik sahabatnya, memberikan kode maut pada Edward.
"Pulang saja kau, Ar! kau hanya membuat para pasien semakin pusing mendengar ucapanmu itu," ujar Edward pada Arnon.
"Ini aku juga akan pergi! sabar, Dok! saya dan istri saya! tak akan menganggu," ledek Arnon lagi dengan langkah kaki sedikit cepat agar dirinya tak mendapat ocehan dari Edward.
Edward dan Salma hanya bisa tergelak mendengar ucapan Arnon yang terdengar konyol bagi mereka berdua.