Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
Part 99


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Niha yang berada di ruangannya langsung menutup layar laptop lalu bangun dari duduk, tapi tak lupa ia melirik sebentar kearah satu figura di mana ada foto dirinya, Fajar dan Sean saat berlibur ke luar negeri dua tahun lalu.


"Rasaku masih sama, tapi aku tak akan masuk kedalam area yang tak mungkin ku lalui," ucap Niha sambil tersenyum kecil.


Cintanya memang menyakitkan sebab jelas bertepuk sebelah tangan, tapi ia tak akan bermain api dengan pria yang namanya bertahta dalam hati kecilnya tersebut..


Niha keluar dari ruangan dengan langkah pelan ke meja sekertaris.


"Tuan sudah datang?" tanya Niha dengan membawa apa yang nanti ia dan Sang presiden direktur Rahardian Wijaya diskusikan di dalam sana.


"Su-- sudah, Nona Niha. Tuan sudah di dalam," jawab Salah satu sekertaris yang masih gemetar karna tadi ada anak Macan lewat di depannya.


"Ya sudah, nanti tunggu info dari saya ya soal makan siang Tuan " pesan Niha memberitahu jika salah satunya harus standby di tempat.


"Ba--baik, Nona."


Shena mengernyit kan dahinya karna merasak aneh, tapi ia abaikan rasa curiga itu dengan masuk kedalam ruang Presdir.


Tok.. tok.. tok..


cek lek...


Astaga! Bubu!" seru Niha tak percaya dengan kedua mata yang membesar.


Shena langsung mengernyit kan dahi saat nama Bubu keluar dari mulut Asisten pribadi suaminya.


"Kok kamu tahu ini Bubu? kan kalian belum kenalan?" tanya Shena bingung, ia bahkan melirik kearah Niha dan Fajar secara bergantian.


"Hem, itu---, Aa, Aa cerita kalau di rumah ada peliharaan baru," jawab Fajar dengan terbata bata, berharap Shena tak salah paham lagi.


"Ngapain cerita cerita? kesini itu buat kerja Aa, bukan buat ngobrolin Bubu. Kan ada aku," balas Shena yang tatapan matanya lain, dan seperti itu saja nyatanya sudah berhasil membuat sang suami ketar ketir dalam hatinya.


Sedangkan Niha yang berada di pintu memilih pamit, tak sopan rasanya jika tetap masuk meski niatnya hanya menyerahkan beberapa berkas untuk di periksa dan di tanda tangani, serta memberitahu jadwal pekerjaan hari ini sang Presiden Direktur.


"Dia kenapa takut?" tanya Shena setelah Nina menutup lagi pintu ruang PresDir.


"Gak tau," jawab Fajar yang otaknya sedang berpikir keras mencari cara untuk mengalihkan pembicaraan.


Shena yang menatapnya dengan tatapan tak biasa tentu membuat pria berstatus suami itu salah tingkah.


"Sejak kapan Aa gak tau?" Shena yang kini bangun malah meletakkan Si Bubu di atas pangkuan Fajar.


Ia yang selama ini hanya sesekali mengelus Bubu tentunya terlonjak kaget saat istrinya menyerahkan si Anak Macan.


"Sayang, aku takut," pekik Fajar memohon pada Shena agar Bubu di turunkan dari atas pahanya.


"Bubu gak akan galakin Aa, palingan cuma--," kata Shena yang kesal dengan tangan sambil melipat di dada.


"Cuma apa, Sayang? Aa mohon jangan macam macam ya. Aa beneran takut, Shena." Fajar menarik tubuhnya ke belakang karna ngeri ketika tatapan ia dan Bubu bertemu.


.


.


.


"Tenang A', Bubu Cuma mau cium bibir Aa aja tuh yang nakal karna udah curhat curhat ke perempuan lain!!