Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
Part 92


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Eeeugh..


Fajar menggeliat dan mengerjapkan kedua matanya, ia tak lantas langsung bangun karna merasa masih sedikit pusing sebab hasRAatnya yang menggebu tak bisa ia tuntaskan semalam. Penawaran yang di berikan Shena di tolak oleh Fajar dan ia memilih untuk tidur sambil berpelukan saja. Bicara dari hati ke hati sambil mendengar kan keluh kesah sang istri yang sedang menjabarkan perasaannya jauh lebih penting dibanding bercinta yang bisa ia lakukan kapan saja, itupun kalau Shena tak lagi merajuk padanya.


"Ya ampun! sudah siang," pekik Fajar yang kaget saat ia melihat jam yang menggantung di dinding.


Fajar yang belum turun dari ranjang menoleh saat mendengar pintu terbuka, ia tak membalas senyum Shena yang berjalan ke arahnya.


"Kok gak bangunin Aa?" tanya Fajar saat sang istri sudah duduk di tepi ranjang.


"Sengaja! kan Aa gak ke kantor, kita kan nanti mau jalan jalan buat beli kalung Bubu," jawab Shena yang akan melewati hari nya sesuai rencana yang ia mau.


"Jadi?" tanya pria itu lagi yang di jawab anggukan kepala oleh wanita halalnya.


Fajar membuang napas kasar, karna sebenarnya ada pertemuan penting yang harus ia hadiri sebelum jam makan siang nanti. Fajar yang langsung meraih ponselnya hanya bisa mengusap wajahnya karna begitu banyak pesan dari sekertaris dan Asisten pribadinya, belum lagi panggilan yang memang tak ia jawab.


"Aa cepat mandi, aku tunggu di bawah ya," titah Shena, satu kecupan mendarat di pipi suaminya yang akhirnya tak tahan untuk tak membalasnya.


Shena keluar kamar setelah suaminya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia yang begitu senang mampir dulu ke rumah belakang tepatnya ke kandang anak Macan kesayangannya.


"Hallo Bubu, ish ganteng banget sih pagi pagi," sapa Shena sambil terkekeh, ia benar-benar sayang pada hewan berbulu putih tersebut sampai harus sedih jika ingat Bubu harus di pulang kan.


Bubu yang bangun langsung menghampiri Majikannya itu kearah pintu kandang dimana kini Shena berjongkok. Ia tak meminta Pak Iwan membukanya karna tak berniat untuk bermain main. Shena hanya ingin mengobrol dan bicara sebentar sambil menunggu suaminya membersihkan diri.


"Aku dan Aa mau pergi dulu ya hari ini, aku mau cari kalung untukmu, besok kita jalan jalan ke kantor Aa, Ok."


Bukan hanya sekedar candaan, Shena benar-benar akan ke gedung tinggi itu membawa Bubu, rasa percayanya belum pulih untuk sang suami. Dari pada curiga dan uring uringan di rumah utama, lebih baik ikut ke kantor main main bersama Bubu untuk mengusir rasa bosannya.


Usapan di kepala hewan buas itu seolah memberi rasa nyaman dan mereka seakan sudah jatuh cinta pada pertemuan pertama.


"Shena--," panggil Fajar yang menyusul ke kandang Bubu.


"Aa, udah mandinya? mau sarapan sekarang?" tanya Shena sambil bangun namun ia tak langsung mendekat kearah Fajar melainkan kearah wastafel untuk mencuci tangannya.


"Iya, Sayang. Aku lapar."


.


.


.


Sampai di meja makan, keduanya sarapan hanya berdua saja karna yang lain sudah lebih dulu menikmati makan pagi mereka sebelum melakukan aktivitas masing-masing.


"Ada beberapa toko Aksesoris hewan, kita datangi yang lebih dekat dulu ya," ucap Fajar yang mencari Info lewat ponselnya.


"Hem, iya."


"Kenapa gak beli online aja sih?" tanya Fajar sambil meletakkan si benda pipih.


"Kan aku mau jalan jalan," sahut Shena yang melirik kearah suaminya.


"Iya, Sayang iya. Kita jalan jalan ya," jawab Fajar sembari memeluk istrinya dari samping.


Shena mengangguk dalam dekapan suaminya yang terus menghujaninya dengan begutu banyak ciuman di kening di pucuk kepala.


Selesai mengisi perut, pasangan suami istri itu langsung menuj pintu samping yang bisa tembus ke garasi, tapi belum juga Fajar membuka pintu ia justru di tarik tangannya oleh Shena.


"Kenapa?" tanya Fajar,


"Ngapain kesitu?" tanya balik Shena dengan tangan masih mencekal lengan suaminya.


"Ambil mobil," jawab Fajar.


.


.


.


Aku kan ngajak jalan jalan, bukan mobil mobilan, Aa!!