Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
Part 131


🍂🍂🍂🍂🍂


"Rapat hari ini selesai, saya mohon pamit, nanti bisa hubungi asisten saya ya jika perlu sesuatu," ucap Fajar yang langsung bangun lalu berjabat tangan dengan para rekan kerjanya , begitu pun yang di lakukan oleh Niha.


Keduanya pun keluar dari ruang meeting yang kurang lebih 60 menit berlangsung tersebut.


"Tuan, apa anda akan langsung pulang?" tanya Niha sambil berjalan di samping Fajar.


Jika masih di area kantor seperti ini, tentu mereka akan tepat bersikap profesional layaknya asisten dan presdir. Kecuali saat jam makan siang, atau saya pekerjaan sudah dan hampir selesai. Bagaimana pun mereka adalah teman yang jadi rekan kerja. Ada saja pembahasan yang di bicarakan termasuk kadang bernostalgia saat bepergian bersama.


"Iya, apa ada yang harus saya tanda tangani lagi?" tanya Fajar sekilas menoleh dan ia melihat Niha menggeleng kan kepalanya.


"Boleh aku ke rumah? aku sudah bawa kado untuk kedua putrimu, A'," pinta Niha, ia tak berani berkunjung jika tak ada izin dari Fajar.


"Datanglah, Shena pasti senang jika ada kamu. Kamu bawa mobil kan?" tanya Fajar yang ikut tak se formal barusan karna tak ada lagi pekerjaan yang harus mereka selesai kan.


"Tentu, tenang saja," kekeh Niha, ia tahu betul jika Fajar kini tak akan tersentuh oleh siapapun termasuk dirinya yang padahal teman lama.


"Aku tak ingin masa puasa ku berlipat ganda hanya karena salah paham, menjaga perasaannya jauh lebih berat di banding harus menjelaskan sebuah masalah," ucap Fajar yang di pahami oleh Niha.


"Aku tahu, seperti seseorang yang jatuh cinta. Mengajak menikahnya mudah tapi untuk mempertahankan rumah tangganya yang sulit, sama kan?" tanya Niha yang di balas anggukan kepala dan senyum.


"Kurang lebih begitu."


Keduanya kini sudah ada di parkiran kantor, mereka masing-masing naik ke dalam mobil untuk menuju ke rumah Abah dan Enin dimana ada Shena di sana.


.


.


.


"Sayang--," panggil Fajar sambil membuka pintu kamar di lantai dua.


"Aa udah pulang?"


"Sudah, kamu lagi ngapain?" tanyanya sambil menangkup wajah cantik Shena dengan kedua tangan. Ia ciumi dengan penuh rasa sayang dan rindu.


Fajar tak ingin sang istri beranggapan jika perhatiannya terbagi karna adanya dua malaikat kecil mereka meski sebenarnya itu iya.


Fajar tak ingin sang istri beranggapan jika perhatiannya terbagi karna adanya dua malaikat kecil mereka meski sebenarnya itu iya. Tapi sebisa mungkin semua bentuk rasa perduli dan mesranya tak berubah. Orang yang akan ia cari dan ia temui tentu istrinya, apalagi saat satu hari ini lelah mengasuh anak pastinya banyak yang ingin ia curahkan.


"Abis ganti popok ZaRa," jawab Shena.


"Ada Niha di bawah, katanya mau ketemu kamu dan si kembar," ucap Fajar yang ia harap kalimatnya benar saat memberi tahu.


"Niha? suruh kesini aja, aku males keluar, A'," jawab Shena yang rasanya begitu lelah karna XaRa sedikit rewel hingga ia nyaris tak berhenti menyusuUui si bungsu.


.


.


.


"Ya sudah, Aa panggil Niha nya dulu ya, atau di ruang tengah saja? kamar ini terlalu pribadi untuk di datangi orang lain, Sayang."