
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Hari yang paling membahagiakan sudah terukir jelas pada pasangan SENANDUNG FAJAR, senyum tak lepas dari sudut bibir pengantin baru itu dimana kini mereka tengah resmi menjadi suami istri. Dan, acara pun berakhir dengan makan malam yang pastinya masih di rumah utama, bangunan mewah yang bak hotel karna semua bisa di lakukan disana termasuk jadi area pemakaman dari para Tuan dan Nyonya besar sebelumnya.
"Istirahatlah, kasiahn Shena terlihat sangat lelah," titah Bubun pada putranya yang masih berboncang enga sahabat dan juga sepupunya.
"Iya, Bun," jawab Fajar, yang tak enak saja ia tak pernah membantah apa lagi yang enak.
"Justru ini awal kerja keras mereka, Bun" kekeh Abang Asha meggoda adiknya karna ia terlalu untu di anggap pengantin baru.
"Gak apa-apa, kejar setoran nyusulin anak kalian yang banyak," balas Bubun yang juga ikut pergi karna suara gelak tawa semakin riuh di halaman belakang yang kini di sulap begitu indahnya.
"Sayang, kamar yuk," ajak Fajar saat menghampiri istrinya yang sedang berkumpul dengan PARA auntynya, ada XyRa, Qia, Starla dan juga Rindu.
"Cie, udah ngajak ngamar aja si anten," goda Amih Ara yang entah datang dari mana, sama seperti Shena ia juga menikah sebelum lulus SMA karna insiden tertabrak monyet dan truck sampah.
"Udah malem, Mih," jawab Fajar yang hari ini begitu puas jadi bahan untuk di goreng keluarganya.
"Siang juga gak apa apa loh, udah halal mah, bebas" sahut Aunty XyRa, kadang Shena tak habis pikir kenapa El begitu menyebalkan padahal orang tua dan abangnya begitu baik dan sopan tapi mulut pria itu begitu licin saat meledek orang lain.
"Boleh deh, saran di tampung dengan sangat baik," balas Fajar yang kemudian menggandeng tangan istrinya yang sudah berganti pakaian dengan gaun panjang.
Fajar sengaja menaiki tangga agar agar setiuap langkahnya berdua dengan sang istri menjadi kesan tersendiri, syukur syukur jadi pahala untuk mereka berdua.
Ceklek
"Malam ini aku tidur di kamarmu?" tanya Shena saat masuk keadalam kamar suaminya.
"Ini jadi kamar kita, Sayang. Mau ku bantu bersih bersih?" tawar pria tinggi dengan senyum jahil penuh arti itu.
"Aku bisa sendiri, tolong buka kan saja Resletingnya," pinta Shena.
"Dengan senang hati istriku, Sayang."
Tangan Fajar mulai membuka resleting gaun panjang hitam yang di kenakan oleh Shena, ia tampil begitu cantik malam ini dengan sedikit polesan make up meski Fajar sebenarnya paling suka wanita itu dengan wajah alami, apalagi saat bangun tidur.
Tapi, karna ini hari perniakahannya tentu ia tak masalah dengan semua itu, menikah sekali seumur hidup tentu inginnya semua tampil bberbeda, istimewa dan berkeesan.
"Kok lama?" tanya Shena saat di rasa tangan suaminya tak ada pergerakan justru bibir pria di belakangnya itu yang mulai aktif menciumi bahunya.
"Macet, Sayang."
Shena yang kini terbiasa dengan barang mewah tentu tak bisa di bohongi begitu saja, berhubung gaun ini di desain langsung untuknya tentu Disainernya memberitahu ssecara detail proses dan bahan yang di gunakan, meski Shena tak paham tapi ia cukup mendengarnya dengan sangat baik saat itu.
"Jangan bohong, berhubung kita sudah menikah, jadi aku bisa beri Aa hukumam," ancam Shena yang merasa geli sendiri.
"Aduh aduh, galaknya istriku," goda Fajar sambil membalikkan tubuh ramping Shena agar bisa saling berhadapan dengannya.
"Aa yang ajarin kan?"
Gelak tawa yang di berikan Fajar membuat Shena tersenyum simpul, karna tak percaya jika pria yang dulu menolongnya tanpa rasa takut itu kini mlah menjadi suaminya.
"Shena--, " panggil Fajar demgan tatapan serius membuat pearsaan Shena sedikit berdebar .
"Iya, A', ada apa?"
''Tahukan bagaiama yang sebenarnya hubungan suami istri? maksudku--,"
Belum juga Fajar meneruskan ucapannya, bibirnya yang masih rasa original itu di cium dengan cara tiba tiba meski hanya sebatas menempel saja.
Fajar yang kaget tentu tak percaya dengan yang di lakukan wanita halalnya tersebut.
"Shena--"
"Jujur, aku masih takut, karna selalu menyakitkan dan menjijikkan tapi itu dulu dengan orang yang salah, denganmu ku yakin semua tak akan ku rasakan lagi, benarkan?"
Mendengar itu, Fajar langsung menarik tubuh Shena, ia peluk erat erat wanita yang beberapa bulan lalu ia bawa dengan keadaan yang sangat berantakan dan menyedihkan.
"Terimakasih , Sayang. Aku hanya butuh kepercayaanmu. Aku hanya ingin kamu yakin jika aku tak akan melukai lahir bathinmu," ucap Fajar yang kebahagiaannya kini semakin berlipat-lipat.
"Bantu aku A', bantu aku melawan semuanya yang tak mudah untukku."
"Pasti, Sayang. Kita hadapi semuanya bersama sama ya," jawab Fajar.
Ya, jika bukan Shena lalu siapa lagi yang bisa membuatnya sembuh, karena sebaik baiknya orang lain tetap diri sendiri yang paham rasanya dan bagaimana caranya. Itu jugalah yang kini tengah di lakukan oleh Shena. Tak hanya di bantu psikiater ia juga di genggam erat oleh orang sekitarnya hingga bertekad untuk keluar dari perasaan yang sempat mengurungnya itu.
Fajar yang mengakup wajah cantik istriku dengan kedua tangan kini melakukan apa yang sudah ia niatkan, ia cium ubun-ubun wanita yang sudah ia halalkan itu sambil melantunkan doa, berlanjut pada kening, pipi kanan dan kiri. Tak hanya sampai disana karna ia pun meraih tangan Shena juga untuk di cium bagian punggung dan telapaknya.
"Terimakasih sudah mau berjuang bersama untuk satu tujuan yaitu bahagia hingga akhir nanti," ucap Fajar.
Jika tadi Shena yang memulai, tentu kini Fajar yang akan ambil alih. Perasaannya kembali berdebar hebat saat melihat Shena menutup kedua matanya. Entah itu ia mengikuti naluri nya sebagai wanita dewasa atau memang ia sudah di ajarkan sebelumnya yang jelas Fajar tak lagi perduli, yang ia tahu mulai malam ini akan tahu rasanya surga dunia.
Kecupan bibir begitu manis dirasakan mereka berdua tapi tak hanya itu karna rasanya daging kenyal itu terasa sangat tebal bak usai di sangat tawon.
"Enak?" goda Fajar setelah sesapan lembutnya terlepas.
"Hem--, enak."
Fajar kembali memeluk, ia senang dengan sikap berani Shena yang tentu ini di luar dugaannya. Padahal dulu ia sempat berpikir akan berpuasa lama demi meyakinkan Shena jika hubungan suami istri tak se menjijikkan itu.
"Mau lebih dari ini?"
"Apa? Aa mau gigit gigit juga?" balas Shena tak kalah meledek.
"Aku gigit, kamu himpit, gimana?" Fajar malah menggigit bibir bawahnya sendiri saking tak kuatnya membayangkan apa yang akan terjadi pada mereka Selanjutnya mengingat tak ada perlawanan dari Shena meski ia tahu wanita itu masih sangat berhati hati.
"Himpitnya pake apa?" tanya Shena
" Pake Si kerang sawah"
.
.
.
Meski penuh rasa perjuangan, akhirnya Fajar bisa menyerang istrinya malam itu juga. Jangan tanya bagaimana rasanya karna ada rasa sedih juga yang ia rasakan ketika Shena terus memfokuskan dirinya sendiri untuk menerima sentuhan yang suami keduanya ini berikan.
Malu?
Tentu, karna ia Janda bukan sembarang Janda. Janda yang tan pernah di sentuh dengan kelembutan melainkan hanya dengan kekerasan Fisik yang tak henti sampai ke puncak pelepasan.
"Tau dari mana?" bisik Fajar setelah kedua tubuh yang basah dengan keringat itu sudah bersembunyi di balik selimut.
"Yang mana?" tanya balik Sheba sedikit meringis.
"Kaya gini, Sayang."
Shena tersenyum simpul, malu rasanya jika harus berterus terang tapi tak ada gunanya juga ia sembunyikan karna ini bukan suatu masalah namun hanya seperti sedikit Aib bagi Shena.
"Ayolah, Sayang. Aku cukup penasaran dengan perubahanmu yang fantastis ini."
"Kak Bee belikan aku buku, disana banyak pengetahuan yang bisa ku dapat sedikit sedikit karna aku membacanya secara acak. Terus, kadang sering cerita cerita gitu, kan aku mau gak mau dengerin, A'," jelas Shena.
Yang pertama tentu Fajar harus banyak berterima kasih pada Bintang karna dia sendiri saja tak kepikiran membelikan buku pada Shena. Tentu, ini bukan buku cerita dewasa tapi buku yang mengajarkan secara ilmiah bagaiamana cara penyatuan tubuh. Bisa kacau nanti jika Shena ingin sebelum di halalkan. Tapi, yang kedua cukup membuat Fajar geleng-geleng kepala karna pasti sudah sangat di sengaja Shena di ikut sertakan dalam pembahasan dewasa yang tentu tak seharusnya ia dengar.
"Habis ini harus lebih di nikmati, bisa?"
"Tapi ini sakit banget, ini akan serasa masih ganjel banget, A'," jawab Shena yang masih tak nyaman.
"Namanya juga tadi perawan. Rasanya memang begitu. Lagipula cuma sekali seumur hidup jadi kalau sakit gak apa apa," kekeh Fajar,
Tak hanya pakai napsu saja, jadi usai menikmati apa yang barusan sangat nikmat itu Fajar tak akan langsung tidur ia ingin ke intiman itu tak cepat berlalu.
"Maaf, kalau aku belum bisa ya A', meski aku pernah menikah tapi ini benar-benar pertama kali bagiku," ucap Shena tak enak hati, ia sangat takut mengecewakan suaminya itu.
"Nanti kita coba lagi ya, sekarang kira tidur."
Fajar semakin mengeratkan pelukan, tak ada yang lebih nyaman di banding harus tidur dengan wanita pilihan sendiri yang ia cintai dengan begitu tulus, sebab tak perduli masa lalunya yang jelas kini masa depannya.
.
.
.
Esok pagi..
Tak ada yang mencari, semua orang paham dan cukup memaklumi saat sepasang suami-istri yang baru sah kemarin itu tak turun saat sarapan. Saking pengertiannya, Bubun meminta pelayanan dan Chef membuat sarapan lain untuk Shena dan Fajar saat bangun nanti.
"Ini pasti karna kebanyakan nambah," ucap. ArXy tiba tiba sampai beberapa yang mendengar pun langsung menoleh padanya.
"Siapa yang nambah? nambah apa dulu nih," timpal Heaven.
"Sok polos!" cibir Papanya, Rahardiawan Putra Biantara.
"Padahal aslinya Omesh tingkat dewa," sambung Pangeran Bramasta.. ( uluh Nduut)
Gelak tawa saling ledek begini sudah sangat lumrah, tak ada satu masalah pun yang pernah memecah mereka karna semua selalu di diselesaikan dengan terbuka dan bersama.
"Sudah! kalian ini ribut terus, ayo cepat Sarapan," titah Mhiu yang pastinya tak ada satu orang pun yang berani membantah Padahal saat muda dulu ia begitu sangat menggemaskan.
Semua menikmati sarapan mereka dengan cukup lumayan lahap, karna lagi dan lagi bukan makanan apa yang mereka santap tapi dengan siapa mereka menikmati makanan tersebut.
"Jani, Lilin mana? belum bangun juga?" tanya Bubun yang baru sadar jika hanya ada satu putranya di meja makan yaitu Angkasa.
"Tadi pas mau turun malah balik lagi masuk ke kamar, katanya mules," jelas Rinjani.
"Oh, Mhiu kira Lilin belum bangun." perasaan lega pun terasa dalan hati Sanhh Nyonya besar Rahardian.
"Belum bangun karna kecapekan soalnya gak mau kalah dari Abang, gitu kan maksudnya?" kekeh Rain yang malah di benarkan oleh yang lain. Untung saja Rinjani tak pernah marah karena ia merasa orang waras di tengah para pria mesum.
Aaaaaaaaaaaaaa...
Suara teriakan cukup lumayan keras membuat semuanya menoleh dengan cepat.
"Ada apa? Lilin!!" seru Bubun panik.
"Liat nih Si JanCiL, masa suruh Lilin panggil kakak? gak mau Buuuuuuun," rengek Si bungsu.
Berhubung ia kembaran suami Shena, tentu umurnya pun sama hanya berbeda beberapa menit saja jarak Fajar ke Lintang.
Jika Si tengah selisih 10 tahun, tentu Lintang pun sama. Ia dan Shena tentu berjarak 10 tahun juga.
"Kan memang harusnya begitu, Shena kakak iparmu, Lin," kata Mhiu memeberi penjelasan sebab ini bukan bicara tentang umur tapi silsilah siapa yang lebih tua dalam keluarga.
"Gak, Lilin gak mau! dia anak kecil."
"Pokonya harus mau, panggil aku kakak!" tegas Shena sambil berdecak pinggang.
Perdebatan di lantai atas siapa sangka sampai turun ke bawah tepat di depan keluarga yang sedang sarapan pagi.
"Enggak! jangan harap ya Panda Dung Dung preet tekewer kewer," Lintang sampai menjulurkan lidahnya saking kesalnya ia pada Shena.
.
.
.
Oh Ok!! Hiu--- , kita makan nasi uduk di depan taman kota aja yuuuuuuuk.....
$$$$$$$$$
Assalamu'alaikum, haturnuhun buat semua Like, komen, poin, kopi hingga koin selama satu bulan bareng Aa juga Si JanCiL ya... moga sehat selalu dan makin melimpah rejekinya.
Tanggal 1,seperti biasa akan ada novel baru ya, ini bukan keturunan Gajah tapi 🤭
Ada kisah Chia juga tapi dia satu rumah sama Skala ya di sanaaaaaaaaaa....