
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Bulan berganti bulan, semua di jalani penuh dengan kehati-hatian. Rasa cemas khawatir dan juga bahagia serta tak sabar kadang bercampur jadi satu di waktu yang sama.
Seperti hari ini, di usia kandungan yang sudah masuk ke delapan bulan Shena sedang nikmat nikmatnya merasakan semua yang serba salah. Jika di pakai jalan jalan mudah lelah, duduk lama sakit bokOnG, berbaring sulit bernapas hingga semua itu sering membuatnya ingin menangis saja.
Satu jam lalu, ia dan Fajar yang baru pulang dari rumah sakit langsung masuk kamar karna Si bumil mengeluh mendadak pusing, semua ini karena Shena pasti telat mengisi perutnya dengan cemilan.
Meski terkesan aneh tapi itu lah shena yang harus kenyang setiap saat. Perutnya tak bisa berbunyi sebentar langsung saja sakit di bagian kepala dengan tubuh lemas seketika, jadilah ia selalu membawa makanan apapun itu entah kue, jus, coklat batangan, maupun nasi dalam kotak bekal.
"Shena, Aa ke bubun dulu ya sebentar," ucap Fajar setelah membantu istrinya berbaring dengan posisi miring.
"Jangan lama lama ya," pintanya yang mulai merasa nyaman.
Bukan karena manja, hanya saja kadang Shena memang benar benar butuh di bantu sampai ia tak bisa di biarkan sendiri.
"Iya, gak lama kok, Sayang. Mau sekalian di ambilkan apa?" tawar Fajar sebelum ia keluar dari kamar.
"Shena mau jus tomat," jawabnya yang langsung di iyakan oleh sang suami.
Fajar mencium kening Shena dengan lembut dan penuh sayang, kadang ada rasa tak tega melihat istrinya begini, ia yang dulu begitu lincah bahkan sering main kejar kejaran sekarang untuk bangun saja harus mencari orang-orang yang bisa membantunya.
.
.
.
Ceklek
Pintu di buka Fajar saat ia sudah di persilahkan untuk masuk oleh si empunya kamar, siapa lagi jika bukan Bubun.
"Iya, Bun."
Fajar duduk tepat di samping wanita yang sudah melahirkannya tersebut, ada raut khawatir yang bisa di tebak olehnya sekarang.
"Dokter bilang apa tadi?"
"Shena--, Shena tak bisa lahiran normal, Bun," jawabnya, mata yang sudah berkaca-kaca membuat Bubun langsung menarik tubuh anaknya untuk di peluk.
"Ini sudah kita bicarakan dan sudah kita diskusikan, Bubun harap kamu bisa tenang ya. Kamu yang sabar, semua pasti baik baik saja," ucap Bubun yang ikut sedih saat ada suara isak tangis yang ia dengar.
"Aa takut," lirihnya yang baru bisa menumpahkan segala sesak.
"Bukan maunya kita jika harus operasi meski memang Tuhan sudah menyiapkan jalan lahir sendiri. Semua sama, tak ada ibu yang tak jadi sempurna setelah melahirkan, nyawa tetap jadi taruhan."
Fajar mengangguk paham, sebenarnya ia pun tak masalah dengan cara lahirnya sang buah hati nanti, hanya saja yang ia takutkan adalah Shena yang selalu merengek tetap ingin normal, sedangkan dokter sampai saat ini tak menyarankan hal tersebut. Terlalu banyak resiko yang akan di Terima Shena jika terus memaksa, sedangkan Fajar harus berusaha lagi bicara dengannya pelan pelan.
Jangan untuk normal, untuk lahir di waktunya saja tak memungkinkan sekali.
"Memang dokter minta kapan untuk Shena Operasi? apa sudah ada jadwalnya?" tanya Bubun, meski ia pun tak pernah merasakan hal tersebut tapi ia paham rasanya jadi Shena.
.
.
.
Besok, Bun...