
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Kepulangan Ayah dan Rain ke rumah utama tentu sangat di tunggu, namun semua di buat bingung saat kedua pria itu menceritakan apa yang terjadi disana, tentunya tanpa di lebihkan atau di kurangi.
Malah, Rain sampai memperagakan bagaimana ayah Shena menangis dan itu sampai mengundang gelak tawa semua yang ada di ruang tengah lantai atas tempat dimana semua berkumpul termasuk Fajar juga.
"Lalu bagaimana? kita jemput atau kita yang datang kesana lagi bersama Shena?" tanya Bubun setelah puas menertawai adiknya.
"Kayanya lebih baik ayahnya yang di bawa kematri, aku hanya tak ingin membuka luka lama Shena. Datang lagi kesana apalagi harus masuk kerumahnya ku rasa itu akan menimbullkan traumanya lagi," jawab Fajar, tentu hany ia yang tahu bagaimana kondisi gadis itu.
"Iya, trauma lagi kapan kwinnya ya, A'?" ledek Lintang di ketek kiri Phiun karna katanyayang kanan punya El dan Lintang tak mau itu.
"Nah, bener!" timpal Abang Asha tak mau kalah juga.
"Kalian ini, kawin terus pikirannya," balas Mhiu yang langsung membuat semuanya diam, termasuk Si kembar.
"Betul juga, Ayah maunya minggu depan kalian sudah menikah, selesaikan masalah ini dengan cepat," titah Ayah.
"Emang kenapa?" tanya Bubun yang duduk di samping suaminya tersebut.
"Mak othor mau UP lapak laen!!"
.
.
.
Setelah berdiskusi di rumah utama, esok siangnya Ayah, Bubun dan Fajar meluncur ke rumaha Abah dan Enin untuk membahas masalah yang sama, dalam bentuk hormatnya meski bukan orang tua kandung, mereka sennatiasa selalu melibatkan pasangan baya itu apapun yang sedang di hadapin dan di rencakan.
Tentu, ini bukan lagi perihal darah siapa yang ada dii dalam tubuh Ayah Keanu, tapi siapa yang sudah berkorban keringat, waktu dan perasaan untuknya selama menjadi anak Abah dan Enin.
"Bapak udah gak galak? Bapak nanyain aku, gitu maksud Ayah?" tanya Shena menyimpulkan apa yang ia tangkap dari telinga lalu ke otaknya.
"Iya, Bapak minta Shena pulang, tapi sepertinya Bapak aja yang kesini ya, Shena gak perlu pulang."
Shena pun mengangguk setuju, jangankan kembali datang kadang membayangkan kontrakan rasa neraka itupun Shena bergidik ngeri, dimana Bapak selalu melempar barang apapun jika sedang marah ada atau tak adanya alasan, Bapak juga sering melempar uang jika Ibu minta untuk makan atau kebutuhan yang lain sambil mengomel hingga hewan di kebun binatang semua terlontar dari bibir pria tersebut.
"Ya sudah, biar nanti Ayah dan Phiu atur waktu lagi yang entah esok atau lusa kembali kesana untuk menjemput Pak Edi."
"Bubun juga harus gercep nih," timpal wannita itu tak mau kalah.
"Bubun mau ngapain?" tanya Fajar.
"Shoping dong, siapin semua keperluan untuk pernikahan kalian, pokonya setelah urusan dengan Ayah Shena beres, Bubun mau pinjem nih si calon mantu setiap hari," jawabnya yang sudah senyum senyum sendiri.
Nyonya besar Lee itu kini sedang membayangkan betapa bahagianya ia yang saat berbelanja Shena hanya manut saja.
"Mulai deh atur strategi, bungung pasti mau kemana dulu," ledek Ayah pada istri tercintanya.
"Abang paket diem aja, tau tau notif banyak di ponselmu, Ok," jawab Bubun degna tawa senangnya.
.
.
.
A'... Aa masih punya duit kan? Aa libur kelamaan loh...