
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Minum cucu yang banyak ya, Bubu."
Shena terkekeh saat sedang menyusSui hewan berbulu putih itu dengan botol. Selain bermain, ia memang benar-benar mengurus Bubu dengan sangat baik padahal itu adalah hewan buas yang bisa saja melukainya dengan atau tanpa sengaja.
Sepagi ini, sambil menunggu sang suami selesai mandi, ia lebih memilih ke kandang anak macannya. Sekedar menyapa atau juga memberi susu dan makan.
"Shena--," panggil Fajar yang ternyata sudah ada di belakang istrinya tersebut.
"Iya, A', tunggu sebentar. Bubu belum habisin susunya," jawab Shena yang hanya sekilas menoleh.
Fajar menarik napas lalu di buangnya perlahan. Tak ada titik temu saat berdebat semalam karena sang istri tetap kekeuh ingin datang ke kantor bersama di Bubu.
"Habis, anak pintar," ucap Shena yang kemudian memberi botol kosong pada Pak Iwan yang selalu mengawasi jika Shena ada di dalam kandang, sebab tak ada yang bisa menjamin Bubu tak akan melukai nona mudanya tersebut.
"Yuk, sarapan," ajak Shena setelah ia mencuci tangan.
"Yakin mau bawa Bubu?" entah itu pertanyaan yang ke berapa yang di Lontarkan oleh Fajar untuk Shena
"Iya, masa udah di beliin kalung baru gak main jalan jalan," sahut Shena yang masih tetap keras kepala.
"Jadi mau pamer kalung?"
"Anda betul, suamiku!" Shena tertawa tapi tidak dengan Fajar, ia justru menelan salivanya kuat kuat sambil membayangkan ekspresi wajah para karyawannya yang tak jauh berbeda sepertinya selama ini, berdebar hebat serasa jantung mau copot tapi sayangnya itu bukan karna sedang jatuh cinta, tapi justru takut terluka.
.
.
Sampai di meja makan, hal yang kemarin di lakukan Shena ia lakukan kembali. Apa lagi jika buka memasukkan nasi putih kedalam plastik.
"Hiuuuuu, ketekin dong," pinta Shena sambil merengek manja, matanya yang berkedip cepat semakin menambah kesan menggemaskan.
Lintang yang mendengar hal tersebut sampai tersedak, ia menatap tajam kearah kakak ipar rasa musuh tersebut.
"Apa tadi bilang?" tanya Si bungsu Lee Rahardian.
"Ketekin nasi, di ketek kiri ya," jawab Shena sambil terkekeh kemudian meledek dengan cara menjulurkan sedikit lidahnya.
Lintang langsung menoleh kearah kesayangannya yang hanya tersenyum simpul, pria tampan itu tentu tak tahu jika ketek Phiu nya sedang dalam masa incaran sejak kemarin.
"Eh Dung Dung pret! jangan macam macam ya sama Ketek Phiu, itu kan tempat semedi Lilin!"
"Enggak macam macam, orang cuma numpang naro nasi doang," balas Shena yang tak pernah mau mengalah.
"Shena, emang makan biasa gak bisa?" tanya Bubun yang aneh dengan tingkah menantunya tersebut sejak kemarin yang hanya ingin makan dari ketika Sang tuan besar.
"Enak tahu, Bun. Bubun mau nyobain?" tawar Shena.
Nyonya besar Lee itu langsung menggelengkan kepala dan itu tentu membuat suaminya tertawa.
"Padahal ketek Phiu wangi duit loh, Bun," bisik Ayah Keanu yang tahu jika istrinya masih mendapat uang jajan dari Phiu nya tersebut.
Shena yang terus memaksa tentu di halangi oleh Lintang, cukup dengan El Demoy saja ia berbagi, jangan lagi dengan yang lain apalagi dengan wanita yang sejak awal perkenalan tak ada manis manisnya di mata Lintang. Ya, karna yang manis tentu hanya Rinjani seorang.
"Gak! pokonya itu ketek Lilin! sana minta di ketek Aa," omelnya yang sudah keluar asap dari hidung.
Shena tentu menolak, karna baginya ketek Phiu yang terenak.
.
.
.
"Kalian ini kenapa sih? pagi pagi udah ngeributin Ketek!"