Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
part 109


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


#RumahUtama.


Bubun yang baru masuk kamar langsung menghampiri suaminya di ranjang, kamar itu sudah sepi karna para krucil sudah kembali ke kamar mereka masing masing setelah bermain dan becerita dengan Ayah usai makan malam tadi.


"Ada apa?" tanya tuan besar Lee pada istrinya saat melihat ekspresi lain dari wanita itu.


"Aa dan Shena ke rumah sakit, Bang," jawab Bubun saat ia sudah masuk kedalam pelukan pria terakhir yang ia pilih untuk menjadi pendamping hidupnya.


"Rumah sakit? Shena sakit?" tanya Ayah, karna ia tahu putranya tak pernah mau menginjakkan kakinya di sana jika untuk memeriksakan dirinya sendiri.


"Iya, katanya mual muntah saat di kantor, semoga gak apa apa tapi kok belum pulang ya, Bang?"


Wanita itu sungguh khawatir, dari ketiga menantunya tentu Shena yang paling malang, Bubun dan Ayah tentu harus lebih ekstra perhatian karna sang menantu tak punya lagi orang tua lengkap yang bisa menjadi tempat untuk mengadu dan pulang.


"Mungkin mampir ke tempat lain dulu, Bun, kamu tau dari siapa? Aa yang telepon?" tanya Ayah.


Bubun menggelengkan kepalanya, ia mendapat kabar itu dari Mhiu yang tak sengaja bertemu saat berpapasan di depan pintu para krucil. Sang nyonya besar Rahardian mengatakan jika Fajar dan Shena kini masih di rumah sakit, jangan tanya betapa terkejutnya Bubun saat tahu itu, karna saat makan malam pun memang mereka tak turun.


Tapi Bubun di minta untuk tenang karna anak dan menatunya itu hanya sedang melakukan pemeriksaan saja. Tak ada yang harus di khawatirkan malah justru semua harus di persipakan, Mhiu dan Phiu yang sebenarnya sudah peka dan bisa menebak masih tutup mulut karna ia tak mau mendahului memberi kabar bahagia tersebut, jika memang tebakan mereka benar, biarlah Fajar dan Shena yang memberi tahu nantinya.


"Apa aku telepon Aa ya, Bang?" tanya Bubun yang bingung harus berbuat apa karna waktu semakin malam tapi dua orang itu tak kunjung pulang, sebagai Ibu tentu ini semua adalah rasa yang wajar, sebab sebesar apapun anak dan setua apapun usianya, orang tua tetap menganggap anak adalah malaikat kecil mereka.


"Boleh, tapi jika tiga kali tak di angkat, kamu cukup mengirim pesan," kata Ayah Keanu yang paham betul dengan perasaan si mantan buaya betina kesayangan nya itu.


Bubun pun mengangguk, ia meraih ponsel di atas nakas lalu menekan nama sang putra kedua untuk melakukan panggilan telepon, hanya nada tunggu yang di dengar Bubun sampai akhirnya ia kesal sendiri menunggu jawaban.


"Sudah?" tanya Ayah.


Bubun hanya megangguk, kini ia hanya bisa menunggu balasan pesan dari putranya, andai ini belum terlalu malam sudah bisa di pastikan ia akan datang ke kamar Phiunya untuk bertanya langsung sebab pria baya itu tak mungkin tak tahu dimana kini putranya berada.


"Tidurlah, ini sudah malam, semoga esok pagi mereka sudah di rumah ya, kamu jangan terlalu khawatir karna mereka akan terus di awasi," ucap Ayah Keanu yang mencoba menenangkan.


.


.


.


Lain halnya di rumah sakit, Shena yang tak bisa tidur hanya bisa memandangi wajah lelap suaminya. Ia begitu tampan dan selalu membuat tenang siapapun yang menatapnya.


Ia tak pernah sebahagia ini, bisa melakukan banyak hal tanpa batasan. Dulu, Shena selalu menghindar dari dunia luar termasuk teman temannya, ia yang sering menjadi korban pembullyan memilih menarik dirinya dari orang sekitar. Bukan hanya karna ia orang tak mampu, tapi bapak dan kakaknya yang seorang jambret, copet dan pemabuk membuatnya selalu menjadi bahan ledekan, tak hanya itu, orang tua teman temannya pun melakukan hal yang sama. Mereka pikir Shena tak jauh lebih baik dari Bapak dan kakak laki lakinya, jadi ia sering di bilang akan membawa pengaruh buruk untuk anak anak mereka nantinya jika ikut bergabung.


Shena tahu diri akan hal itu, dan sendiri adalah pilihan yang tepat saat di usianya yang beranjak remaja, jika yang lain sibuk mencari jati diri dengan rasa ingin tahu ini dan itu, ia justru di kunci dalam kamar agar tak di ganggu oleh para lelaki yang sedang mabuk di rumahnya guna menghindari dari hal yang tak inginkan, ibu sangat menjaga anaknya tak perduli harus di kurung asal Shena aman dan terjaga.


.


.


.


Maafin Shena ya A', tapi Shena gak bisa milih harus lahir dari keluarga yang seperti apa...