Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
Part 62


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Rasa lapar akhirnya membuat pasangan pengantin baru itu menyerah. Mereka keluar dari kamar setelah Fajar membersihkan diri.


Turun kelantai bawah ternyata Chef rumah utama sudah menyiapkan menu sarapan menjelang makan siang untuk mereke bedua. Dan lagi lagi Shena harus pasrah dengan sajian di atas meja makan.


"Kenapa, gak suka? kok makannya sedikit?" tanya Fajar saat melihat makanan di piring istrinya itu masih bersisa.


"Aku mau makan ketoprak," jawab Shena dengan tangan yang masih memainkan sendok dan garpu.


"Ya sudah, nanti ku minta Chef buatkan untukmu."


Shena menggelengkan kepala dan itu membuat sang suami urung melakukannya, "Kenapa?" tanya Fajar.


"Beli aja, Enin pernah bawa ketoprak enak."


"Dimana?" tanya balik Fajar namun di balas dengan gelengan kepala tanda ia mungkin tak tahu.


"Ok, nanti ku tanya Enin. Aku ambil kunci mobil dulu," ucap Fajar sambil bangun dari duduk dan bergegas kembali ke kamarnya.


Shena yang berada di ruang makan seorang diri tentu tetap berjaga jaga karna serangan bisa datang kapan saja dan dari sudut mana saja, ia bak seorang prajurit yang sedang latihan militer harus kuat fisik dan mental, karna untuk mengejar Si kuncen akhirat butuh tenaga ekstra, terlebih rumah utama yang luasnya bagai lapangan sepak bola.


Pletak...


"Aw!!" pekik Shena saat kepalanya pukul pelan oleh pulpen dari arah belakang, meski tak sakit tapi ia tetep kaget.


"Sakit, Bang!!" omel Shena.


"Ini Lilin wooooy," sahutnya sambil mencibir.


"Masaaaa? Enggak, ini Abang! Lilin modelannya gak gini," sangkalnya, karna aura di sekitar yang di rasakan oleh Shena jauh berbeda.


"Dih, gak percaya!!" ledeknya lagi.


"Emang enggak, aku cuma percaya sama Aa," balas Shena dengan sedikit menjulurkan lidahnya sebagai balasan atas ledekan dari pria di depannya kini.


"Berani ngelawan? Masukin neraka nih!"


"Abang aja duluan, apa mau aku gelarin karpet Ijo?" tawar Shena yang kini kedua tangannya sudah melipat di dada.


"Kok ijo? Merah woy!!"


Perdebatan keduanya terhenti saat Fajar kembali, ia menggelengkan pelan kepala saat melihat istri dan sauadara kembarnya itu berdiri saling berhadapan, ia yakin telah terjadi sesuatu diantara mereka.


"Kenapa?" tanya Fajar saat sudah dekat.


Shena yang tahu suaminya kembali di saat yang tepat langsung menghampiri dan bergelayut manja di lengan pria itu, hatinya bersorak karna pahlawannya datang.


"Tuh Abang Asha, pukul aku pake apa tadi ya?" adu Shena yang kebetulan tak melihat benda apa yang tadi mendarat di kepalanya.


"Bohong," sahutnya cepat.


"Abang yang bohong, ngaku ngaku jadi Lilin Ngepet," adunya lagi seolah sedang mengibarkan bendera perang.


"Emang itu siapa?" tanya Fajar pada istriya yang terlhat begitu yakin jika yang sedang bersama mereka adalah Si Buaya Cilok bukan Si kuncen akhirat.


"Itu Abang Asha, ih. Baunya beda," jawab Shena sambil mengendus endus dan itu membuat Fajar tertawa namun tidak dengan saudara kembarnya.


"Heh!! Ini tuh Lilin alias LINTANG RAHARDIAN LEE WIJAYA" serunya lagi lengkap dengan nama panjang dua keluarga besar di belakang namanya.


Masih dengan rasa tak percaya, Shena mengambil sendok bersih diatas meja untuk ia pukul tepat di kening kembaran suaminya tersebut.


Pletak...


"Duh! sakit woy!"


"Enak kan? biar adil satu sama," sahut Shena yang tak ada takut takutnya dengan si kembar.


"Eh, gak bisa dong! kan pulpennya yang tadi pukul pukul di kepala kamu!" balasnya tak mau kalah.


.


.


.


Cie.... Buaya keceplosan!!!