Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
Part 74


🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Flashback


"Hallo, semuanya--," ucap Shena saat ada di halaman belakang rumah utama dimana ada beberapa makam yang berjejer rapih nan cantik.


Shena tersenyum, padahal ia tak kenal sama sekali dengan siapa saja yang kini tengah beristirahat dengan tenang disana. Tapi, dari cerita dan begitu banyaknya foto yang masih tersimpan rapih di dalan rumah, ia bisa merasakan juga betapa baiknya semua keturunan Singa yang menjadi Tuan dan Nyonya besar Rahardian.


Ia yang berdiri seorang diri justru merasakan kedamaian dan kehangatan seperti sedang mendapat sebuah pelukan.


"Kalian tahu? Shena tuh pengen anak Macan yang bisa ngaung-ngaung, bayanginnya aja lucu makanya pengen banget, apalagi kalau dia kejar kejar Lilin Ngepet sama Kutu kupret, kan gemeeeeeees--," kekeh Shena saat berkhayal ia punya induk dari keturunan Si madu.


Shena tak main main, ia memang ingin hewan buas itu untuk jadi temannya karna sang suami pasti akan sibuk bekerja di kantor nantinya.


"Tapi---, Aa gak ngebolehin," lanjutnya sedih, Shena menunduk seolah di hadapannya benar benar ada Oppa Wisnu berserta anak, cucu, mantu yang kini sudah ikut dengannya.


"Padahal kan lumayan banget buat cakar cakar Lilin ngepet sama kutu kupret. Shena gak usah cape cape lagi ngurusin dua orang pengurus Neraka itu, " gelak tawa itupun terdengar lagi namun tak lama Shena justru menutup mulutnya dengan kedua tangan.


"Ups, Maaf ya. Tapi Shena lagi cerita jujur, kata Aa kan gak boleh bohong, emang mereka itu makhluk menyebalkan!"


Ada galak tawa, nada kesal, umpatan hingga ocehan yang malah terdengar begitu lucu terlontar dari menantu kedua Lee Rahardian. Semua itu ia curahkan dengan sangat bebas karna merasa sendiri padahal ada seseorang yang sedang berdiri menahan tawa tepat di belakangnya.


.


.


.


"Anak Macan?" tanya balik Fajar, ia sampai mengurangi kecepatan mobilnya karna memastikan apa yang sedang di dengarnya sekarang.


"Iya Aa, ada yang anter Anak Macan, katanya pesananmu," jelas Bubun.


"Tapi Aa--,"


"Mau bikin saingan sama Uncle mu, hah? udah banyak anaknya disini kamu beli induknya," potong Nyonya besar Lee tersebut.


"Aku gak beli Macan, Bun!" balas Fajar yang ikut bingung sendiri lalu memutuskan untuk pulang ke rumah utama demi memastikan apa yang di katakan Bubun nya barusan.


Ia yang tak merasa membeli bahkan sudah menolak ke'ingin'an istrinya itu tentu sangat kaget dengan pemberi tahuan Bubun, rasa penasaran yang kian meronta membuatnya ingin cepat sampai di bangunan mewah turun menurun Rahardian Wijaya.


Perjalanan yang harusnya kurang lebih 45 menit kini justru sudah sampai kurang dari 30 menit karna Fajar malajukannya dengan kecepatan tinggi. Fajar turun dari mobil mewahnya yang tak ia parkir di garasi malah berhenti di depan pintu utama.


Si tengah masuk tanpa membalas sapaaan dari para pelayan yang menyambutnya seperti biasa. Tujuannya tentu kini Bubun nya yang ada di rumah bagian belakang tempat dimana para keturunan Si Ireng Si Madu dan yang lainnya berada.


"Bun--," panggiik Fajar yang kedua matanya terarah pada hewan berbulu putih dengan garis hitam yang samar.


"Ini--, beneran anak Macan? Dari mana? " tanya Fajar tak percaya.


.


.


Entah... mungkin Shena yang CekOut...