Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)

Menikahi Janda Perawan ( Senandung Fajar)
Part 69


🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Aku mau anak macan putih," jawab Shena.


"Buat apa?"


"Buat ngejar-ngejar Lilin Ngepet sama Kutu Kupret," jawabnya yang kembali tertawa sebab sambil membayangkan betapa lucunya dua manusia menyebelkan itu di kejar kejar macan.


"Jangan macem macem," tolak halus Fajar, ia bangun sambil meraih tangan Shena untuk berdiri juga.


"Mau kemana?"


"Ke ranjang," jawab pria itu sembari terus berjalan ke tempat yang bukan lagi untuk melepas lelah melainkan membuat lelah hingga banjir keringat.


"Gak mau tidur ih," tolaknya sambil meronta.


"Lagian siapa yang mau ngajak tidur? ini nih, gimana? mas mau pergi kaya gini?" tanya Fajar sambil mengisi bagian di tengah tubuhnya.


"Kenapa dia? kok ngembang?"


"Hem, butuh di nina boboin." Fajar setengah berbaring dengan bersandar di sandaran ranjang serta ada bantal juga yang menyangga tubuhnya agar lebih nyaman.


"Terus?" tanya Shena masih berpikir dengan apa yang akan ia lakukan dengan posisi sang suami seperti ini.


"Terserahlah, kamu mau pake gaya apa. Batu ngapung, batu tenggelem, batu batuan,"jawab Fajar sepasrah pasrah nya.


" Tapi habis ini beli macan ya," pinta Shena yang masih ingin hewan tersebut padahal di rumah utama masih ada beberapa keturunan Si madu.


"Hem, " pria itu hanya berdehem pelan karna sudah siap di bawa istrinya terbang menuju surga dunia.


Semua perubahan sikap yang terjadi pada Shena memang tak luput dari kerja keras Fajar, cinta tulus memang bisa mengalahkan segalanya hingga menjadi obat yang paling ampuh.


Dan, yang seharusnya terjadi maka terjadilah...


.


.


.


Karna permasalahan Macan masih mewarnai pernikahan Si pengantin baru.


"Kamu pikir beli seblak, pesen langsung jadi."


"Ngantri dulu malah," jawab Shena di tengah rengek kan nya.


"Nah itu tahu, Sayang."


"Tapi kan aku minta Macan bukan minta Seblak," balas Si cantik yang kini sudah pindah duduk di atas pangkuan suaminya.


Bagaimana reaksi Fajar?


Pastinya pria itu mendadak panas dingin dengan tingkah Shena yang kadang mendadak, ia tak pernah bisa di tebak entah itu dari sikap dan ucapan.


"Nanti di cari dulu ya."


"Dimana? ke hutan?" tanya Shena.


"Bukan, di tukang seblak!"


"Kan aku bilang gak mau Seblaaaaaaaaaaak!" teriak menantu baru Lee Rahardian saking kesalnya dan itu tentu membuat suaminya tertawa lepas.


Shena yang kesal dan semakin merajuk keluar dari kamar, ia turun ke lantai bawah berharap bertemu dengan siapa saja kecuali dengan Lintang, tapi rasanya itu tak mungkin karna setelah sarapan semua pergi untuk melakukan aktifitas mereka masing-masing. Dan esok, sang suami pun akan melakukan hal yang sama yaitu mulai mencari nafkah untuknya.


"Sepi banget," gumamnya di tengah ruangan. Shena tak pernah berani ke tempat yang tak pernah ia datangi karena takut tersesat, ia hanya pergi ke ruang ruang yang biasanya di pakai untuk berkumpul.


"Shena--," panggil Mhiu dari arah belakang dan itu sontak membuat cucu mantunya kaget.


"Iya," sahut Shena sambil tersenyum, diantara banyaknya semua anggota keluarga, hanya wanita di depannya ini yang paling sangat di hormati, semua perintah yang keluar dari mulutnya pantang ada yang membantah kecuali Lintang yang kadang-kadang.


"Mau kemana?" tanya Mhiu.


.


.


"Mau cari yang jual Macan, mangkalnya dimana ya?"