
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
XaRa yang belum juga sembuh dari demam, tentu membuat yang lain sangat khawatir. Ia yang sehat saja begitu rewel jadi jangan tanya bagaimana saat sakit sebab rasa sabar orang tuanya akan semakin di uji.
"Minum obatnya dulu ya," rayu Shena saat anak itu ada diatas pangkuannya.
"Nda, asem itu," tolak si bungsu masih dengan menutup mulutnya dengan tangan.
Sudah 15 menit Fajar menyiapkan obat tapi tak kunjung juga di minum, bahkan tak hanya mereka berdua yang merayu sebab ayah dan bubun pun turut melakuan nya.
"Nanti kalau Adek sembuh, kita jalan jalan, iya kaaan?" timpal ZaRa sambil cekikikan saat melihat kearah kedua orangtuanya.
Namun, XaRa tetep menggelengkan kepala sekali pun sudah di beri pilihan rasa lain jika memang tak ingin rasa jeruk. Fajar yang sudah kehabisan akal meraih tubuh si bungsu dari atas paha istrinya untuk ia gendong, terasa masih sangat hangat saat gadis kecil itu kini sudah berada dalam dekapan.
"Masa, katanya ini panas Nelaka?" tanya XaRa sambil memegang keningnya yang tak lagi di pakai kan plester penurun demam.
Fajar yang mendengar itu hanya bisa tertawa kecil, ia pikir hanya di jamannya saja yang tak pernah jauh dari kata Neraka, tapi ternyata itu berlanjut di season 2.
"Emang kenapa kok itu bisa di bilang panas Neraka?" tanya Fajar.
"Kan maren Adek suruh tiupin Neraka sama---," (Rahasia weh) jawab XaRa.
Jika ada keturunan kuncen akhirat, permainan para bocah tak jauh dari Neraka dan para tugasnya.
Dan, selagi sang adik ada bersama papanya, kini ZaRa yang naik ke atas pangkuan Mamanya.
"Kakak mau minum obat?"
"Makasih untuk apa?" tanya Shena.
"Mama sekarang udah mau main sama kakak juga adek, jadi kita gak main sama Bubun, Onty Bee, juga Onty Jani," jawab ZaRa dengan senangnya.
Tanpa sadar, itu membuat Shena akhirnya menitikan air mata. Mentalnya yang sedikit demi sedikit jauh lebih baik kini memang sudah bisa menerima keadaan dengan baik, ia tak lagi takut bertemu orang lain jika memang itu masih keluarga suaminya.
"Maafin Mama ya, Mama janji akan selalu ada untuk kalian berdua." Sikap menerima kini sedang di lakukan oleh Shena, ia tak lagi menunggu ingat saat ingin bersama keluarganya. Meski terlalu di sayangkan untuk di lupakan tapi ia tak bisa berbuat apa-apa, kini Shena hanya tinggal melanjutkan hidupnya bersama suami dan kedua putri kecilnya.
"Maaaaah--, itu mama Adek," rengek XaRa saat melihat kakak nya sedang bermanja di atas pangkuan mamanya.
XaRa yang terus meronta di gendongan papanya, ingin mendekat ke arah ranjang.
"Adek mau duduk situ, kakak awaaaaas--," kata XaRa meminta kakaknya turun dari atas paha sang mama.
Kini, gantian si bungsu yang ada di sana saat ZaRa sudah turun dan duduk di ranjang. Ia yang merengut kesal malah membuat XaRa senang menggoda.
"Kenapa, Kak?" tanya Fajar sambil mengusap kepala si sulung.
.
.
.
Kakak kesel, pokok nya XaRa harus di kasih Adek.