
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Itu hal wajar, Nyonya. Karna Nona Shena sedang hamil di trimester pertama," jawab salah satu suster dengan santainya padahal ucapan yang terlontar itu bagai petir di tengah hari bolong.
"Ha--hamil?" tanya Bubun yang memandang Shena dan Fajar secara bergantian dengan tatapan penuh tanya dan belum percaya.
Fajar yang mengaguk pelan di barengi dengan...
Gubrak....
Terdengar suara orang jatuh yang mengenai sesuatu dan saat semua menoleh ternyata Tuan besar Lee lah yang kini sudah tergeletak di lantai.
Malang sekali nasib si kadal jantan karna tak ada yang sigap menangkap tubuhnya yang mendadak lemas saat salah satu suster melontarkan kata HAMIL..
"Ayaaaah!" seru Bubun, Fajar dan juga Shena berbarengan.
Fajar yang langsung mengangkat tubuh ayahnya di bantu juga oleh perawat laki-laki yang di panggil, tentu suster akan segan jika harus menyentuh sang tuan besar, apalagi Ayah Keanu adalah cucu mantu langsung dari pemilik rumah sakit yaitu MiMoy Hujan.
Rasa khawatir itu kembali terasa, khususnya bagi Bubun. Perasaannya benar-benar campuk aduk bahkan iaia sendiri bingung harus mengekspresikannya seperti apa saat ini.
"Bang, bangun!" Bubun yang tepat di samping suaminya masih tetap mencoba berusaha untuk pria itu membuka mata di bantu oleh putranya juga, sedangkan Shena masih di ranjang pasien karna mualnya masih berasa.
"Ya ampun, Bang. Kenapa harus pake acara pingsan segala sih?" omelnya lagi, harusnya yang kaget itu Bubun karna ia belum terbersit akan punya cucu baru dari si tengah.
"Eeeugh... Buuuy--," panggil pelan Ayah pada istrinya yang biasa di sebut Ta Buy, Mbuy atau BulBul oleh keluarga karna panggilan sayang itu juga langsung dari Appa karna ia adalah cicit pertama perempuan di keturunan Rahardian Wijaya.
"Iya, Bang. Abang minum dulu ya," kata Bubun Embun sambil menyerah kan satu botol air lirih, karna memang Kepalanya juga sedikit pusing, jadilah Ayah pun mau meneguknya sedikit demi sedikit.
"Suster tadi bilang apa, Bun? Shena hamil ya?" tanya Ayah memastikan apa yang di dengarnya.
"Iya, menantu kita hamil," jawab Bubun yang sebenarnya masih belum percaya apalagi kini muncul kekhawatiran di benak wanita itu tentang Shena.
Ayah tak lagi menjawab, ia malah sibuk menghitung cucunya yang ada dengan jarinya sendiri, Bubun dan Fajar yang melihat tingkah Tuan besar Lee tersebut hanya bisa tertawa kecil.
Tak ada jaminan anak yang akan di lahirkan Shena hanya satu, mengingat gen kembar di keluarga Rahardian sangat kuat. Hampir semua yang lahir entah itu anak atau menantu seringnya kembar sepasang dan itu membuat keturunan singa kini begitu banyak jika sedang berkumpul, belum lagi wajah yang hampir mirip karna kebanyakan mereka kembar identik.
"Bisa bayangin kaya apa?" tanya Ayah pada istrinya yang dibalas dengan tawa renyah.
Yang ada saja sudah seperti pasar malam saat ini, terutama saat di ruang makan, perdebatan , saling ledek dan kejahilan para krucil Lee Rahardian tak akan berhenti jika belum ada yang menangis salah satunya, atau bahkan akan jauh lebih menjadi jadi kegaduhanya.
"Gak usah di bayangin, tapi di nikmatin. Abang kayanya harus pensiun deh, jaga cucu aja sana," ledek Bubun sambil tertawa.
Fajar yang tersenyum simpul tentu membayangkan hal yang sama juga, kini rumah utama tak hanya ramai oleh keponakannya saja tapi juga oleh anaknya nanti yang akan menjadi yang paling kecil.
"Hem, sebenarnya kehamilan Shena belum pasti, Yah, Bun," ucap Fajar tiba tiba yang langsung membuat kedua orang tuanya mengernyit kan dahi.
"Maksudmu apa?" tanya Bubun tak paham.
"Semalam baru hasil Tespek saja, hasil USG belum jelas terlihat. Dokter menyarankan untuk kembali melakukan pemeriksaan di dua pekan mendatang, Bun," jelas Fajar yang ia pun bingung harus senang namun takut juga kecewa di waktu nanti.
"Tapi hasil Tespek positif?" tanya Ayah yang di jawab dengan anggukan kepala oleh putranya itu.
"Apapun itu, doa yang terbaik untuk Shena. Yang harus di pikirkan saat ini kesehatan Shena dulu," kata Bubun sambil bangun dari duduknya di sofa lalu kembali menghampiri sang menantu yang masih di ranjang duduk bersandar dengan perasaan yang sulit di artikan.
Ia tangkup wajah Shena dengan tangannya lalu Bubun cium di bagian ubun ubun dan kening Shena dengan lembut penuh kasih sayang layaknya seorang ibu sungguhan.
.
.
.
Terimakasih sudah menjadi wanita hebat, Shena...