
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Fajar yang tak kuat menahan kesal, napsu, pusing dan hasrat terus meracau tak jelas. Ada rasa kasihan pada pria itu yang ternyata masih menurut pada istrinya untuk diam saja menikmati apa yang tersaji di depan matanya.
Apalagi jika bukan tubuh molek yang polos tanpa apapun, Shena meliuk tak henti sembari sesekali memegang bagian bagian area favorit suaminya. Wajar sekali jika Fajar mendesis jengkel bercampur napsu yang siap meledak. Jangan memegang milik sang istri, karna untuk memegang miliknya saja tak di izinkan sama sekali.
Jadilah Fajar hanya melihat tanpa menyentuh.
"Cukup Sayang, aku gak kuat," ucap lirih Fajar.
"Cukup apa? gatel ya tangannya?" tanya Shena yang sebenarnya masih kesal.
Fajar mengangguk dengan tangan ia remas sendiri sejak tadi, ingin rasanya ia ikut dengan yang di lakukan istrinya tersebut.
"Shena, Aa janji. Aa gak akan sentuh perempuan lain. Tapi Aa mohon jangan gini, Sayang."
Shena tak perduli, sakit hatinya harus di bayar dengan desaAaahan sang suami yang kini terus memohon padanya.
"Aa sayang kan ma dia?".
" Enggak! mana mungkin Aa begitu, Aa cuma sayang kamu," tegas Fajar yang kini bangun dari baring namun di minta ke posisi semula lagi oleh Shena yang sudeh berkacak pinggang dengan kedua tangannya.
"Aa tolong dia, Aa obatin dia, Aa--," ucap Shena dengan mata yang berkaca kaca dan dada naik turun seolah dadanya penuh sesak.
"Aa cuma kasihan, Aa gak anggap Alina lebih dari teman," potong Fajar langsung sambil memberi pengertian.
"Tapi Aa pegang pegang! Aa mau obatin perempuan itu pas aku gak ada. Dulu--, dulu juga Aa lakuin itu ke aku 'kan? karna katanya Aa sayang aku."
"Gak gitu juga, Shena!" Fajar yang tak ingin istrinya salah paham pun langsung bangun dan turun dari ranjang. Sedang di saat yang bersamaan Shena justru jongkok dan menangis.
"Nangis ya, tangisin semua yang bikin Shena sedih hari ini. Udah dari tadi kan pengen nangis?" tanya Fajar yang tahu jika istrinya orang yang tak pandai mengungkap apa yang ia rasa apa lagi urusan cinta.
Shena yang menangguk pelan terus di ciumi oleh sang suami pucuk kepalanya penuh Lembut dan rasa kasih sayang. Keduanya menangis bersama dalam masalah yang kali ini jelas berbeda.
"Shena gak jadi minta Bubu gigit Aa," ucapnya di sela isak tangis sedih nan pilu.
"Syukur lah, Aa udah bayanginnya aja ngeri. Emang Shena serius mau hukum Aa seperti itu?" tanya Fajar.
"Iya, kan tangan Aa nakal."
"Maaf ya, Sayang. Aa janji ini yang pertama dan terakhir. Cuma kamu wanita satu-satunya yang akan Aa sentuh. Kamu bisa pegang janji Aa ya, Aa gak akan bohongin kamu," balas Fajar yang tak akan berhenti meyakinkan hati dan pikiran polos Shena jika cintanya tak main main.
"Aa gak akan balik lagi sama dia kan? kalau Aa kasihan ma dia, bukannya dulu awal Aa jatuh cinta karena kasihan juga padaku?" tanya Shena, dan ini adalah alasan ia merasa takut
"Itu beda cerita, Sayang. Sudah ya, jangan merajuk lagi," pinta Fajar yang menaikkan wajah Shena yang banjir oleh air mata, ia ciumi wajah itu untuk menghapus semua kebasahan pada istrinya.
"Udah kan ngehukumnya? Aa boleh pegang ya?"
.
.
.
.
Boleh di PEGANG tapi jangan di LIHAT apalagi di MAININ