
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Perjalanan darat dan udara sudah di lalui oleh Fajar sampai ia tiba di kota yang di tuju. Sebelum melakukan pertemuan dengan beberapa klien di tempat yang sudah di tentukan, Fajar beristirahat lebih dulu. Ia rebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang kamar hotel. Semua fasilitas tentu sudah disiapkan oleh Niha, ia hanya tahu bertemu dan menjalin kerja sama saja.
"Kan kangen banget jadinya," gumam Fajar yang sengaja memejamkan kedua matanya, ia sedang menikmati bayangan demi bayangan sang istri yang kini terlintas di pelupuk mata.
Tak ada yang tak indah, wanita itu sudah semakin menyempurnakan hidupnya dengan memberinya gelar ayah yang sesungguhnya untuk beberapa bulan ke depan.
Rasanya sungguh tak sabar, karna bagaimana pun itu harapan semua pasangan, setelah menikah keturunan adalah salah satu tujuannya. Entah itu yang berniat langsung memiliki anak atau mungkin ada yang di tunda lebih dulu, semua tentu kembali pada si suami istri tersebut.
Tapi untuk Fajar dan Shena, mereka justru memasrahkan semuanya. Kapan pun di beri, akan di terima dengan senang hati. Seperti saat ini, makhluk yang tanpa rencana itu sekarang sedang bersemayam di dalam rahim seorang wanita yang pernah mati matian berjuang keluar dari masalah trauma nya.
"Apa ku telepon saja? suaranya akan membuat ku semangat saat meeting nanti, tiga hari cukup lama bagi ku yang tak biasa tanpanya," ucap Fajar yang sambil meraih ponselnya.
Sekali dua kali, panggilan itu tak kunjung di jawab, sampai akhirnya telepon dialihkan ke Enin. Hanya menunggu beberapa saat, suara wanita itu pun terdengar di telinganya.
"Hallo, Enin. Shena ada?" tanya Fajar langsung setelah menjawab salam.
"Sedang tidur, mungkin dia lelah pulang dari pasar," jawab Enin yang malah terkekeh.
"Memang banyak yang di beli?" tanya Fajar dengan dahi mengkerut.
"Hanya sayur dan lauk serta beberapa jajanan untuknya, tapi satu yang belum ketemu," kekeh Enin yang membuat Fajar curiga, sebagai suami ia tentu tahu bagaimana kelakuan istrinya.
"Shena minta apa?"
Minta kue topi, entah apa itu. Enin, Bibi dan Abah sampai pusing," jawabnya yang kali inti juara tertawa.
Mendengar hal tersebut, membuat Fajar langsung bangun dari baringnya. Kini, otaknya pun ikut berpikir keras dengan yang di maksud Bumil tersebut.
"Shena kasih tau cirinya gak?"
"Hem, cuma bilang bulat kaya topi aja katanya. Sudahlah, kamu jangan khawatir ya, nanti Abah dan Enin akan bawa Shena ke pusat jajanan. Mungkin disana ada," sahut Enin yang tak pernah marah, ia tahu rasanya tak punya orang tua bahkan Enin malah tak punya juga mertua.
"Terima kasih Enin, maaf jika Shena merepotkan kalian," ucap Fajar yang begitu terharu dengan kasih sayang dan perhatian pasangan itu pada istrinya.
"Tak apa, kami senang. Terutama Enin. Biarkan abahmu itu punya kegiatan lain dari pada hanya mengurus burung burungnya itu.
Fajar tertawa mendengar keluhan Enin, memang sejak dulu Pria itu senang dengan burung tapi semua peliharaan tersebut akan di gantung tinggi tinggi jika Angkasa datang, karna entah berapa yang lepas seban perkara di tabrak atau di senggol olehnya.
"Ya sudah, kalau Shena bangun suruh dia balas pesanku segera ya, Enin."
Permintaan Fajar pun di iyakan oleh Enin yang setelah itu berakhirlah sambungan telepon mereka.
kini, waktunya pria itu bersiap karna kurang lebih satu jam niha pasti datang untuk mengingatkannya untuk meeting nanti, ia yang akan membersihkan diri mulai masuk kedalam kamar mandi untuk menaggalkan semua yang melekat di tubuh tungginya tersebut.
.
.
.
"Sudah bangun, Nak? Tadi Aa menelepon katanya dia minta kamu membaca pesannya, sudah?" tanya Enin.
"Belum, nanti dulu Shena lapar," jawabnya yang mengambil mangkuk lalu menuangkan sayur yang masing mengepul asapanya ke udara pertanda itu baru saja matang.
"Ya sudah, habis makan cepat hubungi suamimu ya, Enin mandi dulu," titah wanita baya itu sambil mengusap kepala cucu mantunya, senang sekali rasanya melihta Shena begitu lahap makan, ia selalu berdoa ibu dan anak yang sedang di kandungnya sehat sampai nanti si calon bayi lahir menyapa dunia
"Nanti jadi ke pusat jajan buat cari kue topi?" tanya Shena sedikit mendongakkan wajahnya karna memang posisi Enin sedang berdiri di sampingnya.
"Iya, habis makan gak apa apa kan?"
"Iya, Shena juga mandi dulu nanti ya," jawabnya yang di balas dengan senyum simpul khas keibuan karna selalu merasa tenang saat melihatnya.
Semangkuk sayur kini sudah habis tak tersisa, kini saatnya Shena mandi sebelum mereka makan malam bersama dan barulah pergi ke satu tempat yang Abah janjikan siang tadi, jangan tanya sesenang apa hati si bumil karna untuk membayangkan saja rasanya air liurnya itu akan tumpah dari ujung bibir berwarna merah muda alami nya yang selama ini hanya di olesi lip gloss saja.
Beberapa saat kemudian ketiga orang itu sudah berkumpul di meja makan untuk memanjakan lidah dan perut, bukan menu makan mewah tapi setidaknya cukup untuk mengenyangkan, sebab yang di cari tentu berkah dan rasa kebersamaannya.
"Kamu sudah hubungi Aa?" Enin kembali bertanya karna tak ingin cucunya itu khawatir dan tak tenang saat bekerja jauh jika belum tahu kabar dari istrinya.
"Sudah, tadi sudah telepon pas Shena mau mandi, Aa juga bilang hati hati kalau mau pergi, Shena suruh gandeng Enin, Enin nanti gandeng Abah biar kita gak ada yang hilang," jawabnya sambil mensuwir suwir daging ayam hingga menjadi belahan tipis.
"Truk kali ah gandengan," ledek Abah sambil tertawa yang tahu betul jika jiwa posesif dan cemas Fajar kini pasti sedang meronta ronta.
"lalu, Aa kapan pulang katanya?" tanya Enin lagi.
"Paling lama tiga hari, pengennya besok pulang kalau bisa."
Bisa tak bisa sepertinya Fajar akan mengusahakan, ia tak akan kuat lama menahan rindu jika menyangkut keluarga dan istrinya, sama seperti sang Ayah yang sering kali membawa Bubun ke luar kota atau negeri jika sedang ada pekerjaan yang mengharuskan mereka berpisah lebih dari tiga hari.
Fajar pun sebenarnya akan melakukan hal yang sama jika saja
Shena tak sedang hamil, lebih baik merindu dari pada mengambil resiko atas keselematan ibu dan bayi tersebut.
"ini, kalau kue topinya gak ada gimana?"
"Cari, boleh?" pinta Shena yang sepertinya sangat bersikeras igin makanan itu yang entah apa.
"Iya, kalau ada. Kan Abah tanya kalau gak ada," balas pria baya itu lagi yang sedang mempersiapkan diri untuk memutari pusat jajanan nanti.
.
.
.
"Bikinlah, pokonya Shena mau makan itu, bentuknya bulet tengahnya manis dan kenyel"